Suburnya Bisnis Teknologi Finansial saat Pandemi dan Antisipasi Risikonya

Sebagian besar bidang usaha babak belur bahkan ambruk oleh badai corona, namun bisnis jasa keuangan elektronik yang dikenal dengan teknologi finansial (tekfin) atau financial technology (fintech) justru sebaliknya.

JEDA.ID-– Sebagian besar bidang usaha babak belur bahkan ambruk oleh badai corona, namun bisnis jasa keuangan elektronik yang dikenal dengan teknologi finansial (tekfin) atau financial technology (fintech) justru sebaliknya.

Bisnis tekfin mampu bertahan di tengah amukan wabah Covid-19 ini, bahkan cenderung tumbuh. Pandemi telah melahirkan krisis ekonomi global, setelah banyak negara melakukan langkah karantina wilayah atau lockdown. Saat ada  pembatasan sosial berskala besar (PSBSB), arus manusia dan barang sangat terbatas. Kegiatan ekonomi jauh melambat. Situasi ini meningkatkan permintaan, terutama Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), akan pinjaman berbasis online.

Fenomena ini direspons oleh investor dengan menempatkan dananya di fintech lending Indonesia. Ada arus dana bergerak. Tren itu diakui oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dana asing tersebut kebanyakan disalurkan dalam bentuk peminjam UMKM di Indonesia.

Seperti dilansir indonesia.go.id. juru bicara OJK Sekar Putih Djarot mengatakan, jumlah pemberi pinjaman luar negeri pada April 2020 tercatat 1.028 entitas. Adapun total outstanding pinjaman yang disalurkan oleh lender asing mencapai Rp4,68 triliun.

OJK juga mencatat hingga April 2020 muncul 3.837 rekening lender asing, naik 37% dibandingkan April 2019. Ini menjadi konfirmasi bahwa lender asing masuk ke Indonesia karena industri ini masih menarik. Industri fintech P2P (peer to peer) lending berkembang dengan potensi borrower yang besar. Selain itu, ada faktor kepercayaan yang baik pada industri baru ini.

Sebagai gambaran, total outstanding pinjaman P2P lending hingga April 2020 senilai Rp13,75 triliun. Nilai itu tumbuh 67% year on year (yoy) dibandingkan April 2019 senilai Rp8,22 triliun.

Menjelahi Keindahan 5 Pesona Alam Wisata Air Melalui Wisata Virtual

Menjadi Incaran Investor

Indonesia menjadi incaran investor global karena dinilai sebagai pasar yang potensial dan menjanjikan. Ada penduduk yang besar, pengguna smartphone yang aktif, dan didukung sarana telkom

yang memadai. Menurut CEIC Data Co.ltd, McKensey and Co & Statica, populasi ponsel saja mencapai 371 juta unit dan itu jauh melampaui jumlah penduduk. Artinya, banyak warga yang mengoperasikan dua atau tiga ponsel sekaligus. Sementara itu pengguna mobile internet juga besar, mencapai 76 juta.

Bukti masih tertariknya investor asing ke Indonesia adalah pengucuran dana dari Facebook dan PayPal untuk PT Aplikasi Karya Anak Bangsa, pemilik merek usaha Gojek mengumumkan bahwa Facebook dan PayPal resmi menjadi investor di dalam penggalangan dana perseroan putaran terbaru awal Juni 2020.

Co-CEO Gojek Andre Soelistyo mengonfirmasikan bergabungnya Facebook dan PayPal sebagai investor, menyusul Google dan Tencent. Mereka siap mendukung Gojek dalam misi mendorong pertumbuhan ekonomi digital di Asia Tenggara, dengan fokus pada layanan pembayaran dan keuangan.

Sebelumnya, sejumlah pemodal asing juga sudah masuk ke Indonesia. Sebut saja Ant Financial (Alipay)—perusahaan yang bergerak di platform pembayaran berbasis online dari Grup Alibaba milik Jack Ma—ke negara ini.

Mereka menggandeng grup korporasi Elang Mahkota Teknologi (EmteK) meluncurkan dompet digital bernama Dompet Digital Indonesia (Dana). EmteK merupakan kerajaan bisnis yang didirikan oleh Eddy Kusnadi Sariaatmadja. Divisi yang paling terkenal dari EmteK adalah stasiun televisi SCTV-Indosiar-nya.

Begitu juga dengan Tokopedia—perusahaan layanan e-commerce–yang mendapatkan tambahan modal senilai USD1 miliar, atau setara dengan Rp14,6 triliun dari Softbank, perusahaan asal Jepang bulan lalu. Tokopedia yang ditaksir memiliki valuasi USD7 miliar atau setara Rp102,2 triliun itu juga mulai masuk ke layanan pembayaran dari semula layanan e-commerce.

Bagai Cendawan di Musim Hujan

Kini, industri tekfin di Indonesia telah tumbuh seperti cendawan di musim hujan. Bayangkan, menurut data Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech), terdapat 235 perusahaan yang bergerak di tekfin. Dari jumlah itu, menurut Aftech, sebanyak 39% berupa layanan tekfin pembayaran. Tekfin pembayaran seperti e-money, e-wallet, pembayaran melalui kode QR (quick response), hingga sistem mutasi dan pelaporan yang real time.

Selain pembayaran, tekfin pinjam-meminjam (peer to peer lending) juga makin banyak diminati. Menurut data Aftech, pelaku layanan ini kini telah mencapai 32% dari total pelaku di industri tekfin.

Tak dimungkiri inovatif adalah kata kunci. Bagi perusahan yang tidak inovatif, ibarat tinggal menunggu kematian. Kemajuan teknologi dan perubahan perilaku pelanggan, sudah pasti menuntun perusahaan untuk terus melakukan perubahan.

Sinyal positif lain ditunjukkan melalui respons masyarakat. Mereka cepat beradaptasi dalam menerima layanan tekfin yang semakin komprehensif. Respons cepat itu terutama dari warga urban yang selama ini sudah akrab dengan layanan perbankan digital.

Fakta-fakta tersebut mempertegas potensi pasar Indonesia. Pemerintah, melalui otoritas moneter dan jasa keuangan, Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), secara aktif mendukung layanan keuangan digital. Di antaranya, melalui Gerakan Nasional Nontunai (GNNT) sebagai jalan membentuk cashless society.

Riwayat Solo Jadi Zona Merah Lagi, Ini Makna Warna untuk Zona Infeksi Corona

Kontribusi Besar

Layanan tekfin telah menjadi satu dari sekian banyak bentuk revolusi digital dunia. Namun, tak bsa dimungkiri, layanan tekfin tetap ada kekurangannya. Misalnya, banyaknya pengaduan berkaitan layanan fintech peer-to-peer, yang bunganya ekstrem tinggi, dengan cara penagihan yang bagaikan teror digital. Banyak nasabah merasa dirugikan, dipermalukan, dan ditekan di luar takaran. Aduan yang masuk mencapai 1.330 kasus.

Terlepas masih ada persoalan moral di industri ini, yang tentunya perlu terus dilakukan perbaikan, keberanian pemerintah mengembangkan dan memberikan peluang tumbuhnya industri tekfin, patut diapresiasi. Tentu, para pemangku kepentingan termasuk OJK sebagai pengawas, perlu bertindak dan memberikan jaminan bahwa bisnis ini bisa dijalankan tanpa melecehkan nilai-nilai sosial masyarakat.

Pemerintah menyakini, industri tekfin mampu memberikan kontribusi yang cukup besar bagi ekonomi bangsa ini. Diperkirakan, hingga 2025, ekonomi Indonesia terdongkrak 10% melalui aktivitas ekonomi berbasis digital.

Mitigasi Risiko

Para perusahaan teknologi finansial (tekfin/fintech) peer-to-peer lending menyiapkan strategi guna menyambut potensi lonjakan pengajuan pinjaman baru saat fase kenormalan baru (new normal) berjalan.

Frecy Ferry Daswaty, VP of Marketing KoinWorks mengakui adanya potensi melonjaknya pengajuan punjaman saat fase kenormalan baru nantinya. Dia optimis bahwa normal baru akan menjadi angin segar bagi industri fintech.

“Sebenarmya lonjakan pinjaman biasanya terjadi dua bulan mnejelang Lebaran karena banyak UKM yang melakukan restock dalam rangka menyambut Lebaran. Namun, dengan adanya new normal ini pasti banyak usaha-usaha UKM yang mulai kembali lagi untuk naik dan berkibar,” jelasnya, Rabu (3/6/2020) seperti dilansi Bisnis.com.

Untuk memitigasi risiko akibat melonjaknya pinjaman, pihaknya tengah melakukan analisa pasar. Menurutnya, perusahaan akan melakukan beberapa penilaian kedalam sistem credit scoring kepada calon debitur.

Christopher Gultom, Chief Credit Officer & Co-Founder Akseleran pun mengakui bahwa terkait mitigasi resiko kredit, pihaknya sempat mengalami peningkatan NPL di Agustus 2019 lalu, dikarenakan peningkatan penyaluran pinjaman usaha yang cukup signifikan.

Khusus untuk masa pandemi ini, dia mengatakan pihaknya akan meningkatkan sistem credit underwriting standard kembali, di mana pihaknya lebih memilih untuk membiayai invoice financing dibandingkan receivable financing.

“Bukan berarti receivable financing tidak bisa, tetapi harapannya dengan meningkatkan fokus penyaluran menjadi invoice financing, risiko kredit yang ada menjadi lebih kecil. Dalam 2 bulan terakhir, outstanding dan penyaluran invoice financing di Akseleran lebih besar daripada PO financing, yang artinya mitigasi risiko yang baru tersebut sudah terimplementasi dengan baik,” jelasnya,

Dia juga optimistis tingkat NPL Akseleran akan tetap terjaga di bawah 1 persen hingga akhir tahun 2020. Dia mengklaim bahwa hingga akhir Mei, tingkat nonperforming loan (NPL) pihaknya berada di angka 0,67 persen dari total penyaluran pinjaman usaha, atau turun 0,03 persen dibandingkan NPL akhir April 2020.

Ditulis oleh :

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.