Sejarah Maulid Nabi Muhammad: Pengaruh Khaizuran hingga Dinasti Fatimiyah

Sejarah mengingat tanggal Maulid Nabi Muhammad yang dimulai pada abad kedua hijriah diyakini telah diprakarsai sejak masa kekhalifahan Umar bin Khattab.

JEDA.ID – Sejarah peringatan Maulid Nabi Muhammad Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam diyakini dimulai pada abad kedua hijriah. Namun ada pula yang menyebut perayaan tersebut ada sejak tahun kedua hijriyah.

Peringatan Maulid Nabi yang ditetapkan 12 Rabiul Awal menjadi momen untuk kembali membangkitkan semangat meneladani kisah hidup Muhammad Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam. Peringatan ini diyakini Ahmad Tsauri dalam bukunya Sejarah Maulid Nabi (2015) telah ada sejak masyarakat Muslim abad kedua hijriah (tahun Arab).

Laman resmi Nahdlatul Ulama, Kamis (31/10/2015), mencatat pernyataan Ahmad Tsauri itu berdasar kitab Wafa’ul Wafa bi Akhbar Darul Mustafa yang disusun Nuruddin Ali.

Dalam catatan tersebut dijelaskan bahwa seorang bernama Khaizuran (170 H/786 M) yang merupakan ibu dari Amirul Mukminin Musa al-Hadi dan al-Rasyid datang ke Madinah dan memerintahkan penduduk mengadakan perayaan kelahiran Nabi Muhammad di Masjid Nabawi.

Siapa Khaizuran?

Sosok Al-Khayzuran bin Atta atau lebih singkat dikenal sebagai Khaizuran diuraikan Tom Verde dalam Jurnal Saudi Aramco World di artikel berjudul Malik I: Khayzuran & Zubayda.

Khaizuran awalnya adalah seorang budak milik al-Mahdi, khalifah ketiga Bani Abbasiyah. Statusnya sebagai budak membawanya ke istana. Ia mengenal baik khalifah dan keluarganya serta sistem pemerintahan dan politiknya.

Sebagai budak, Khaizuran juga memiliki kesempatan untuk menggali ilmu dari perpustakaan pribadi milik al-Mahdi. Ia datang ke majelis-majelis ilmu di Baghdad untuk memantapkan ilmu pengetahuan yang dimiliki.

Di sela waktunya, ia rajin menghafal Alquran. Khaizuran tumbuh menjadi perempuan yang cerdas. Ia merupakan salah seorang penasihat pribadi al-Mahdi, baik sebelum maupun setelah diangkat menjadi khalifah.

Ia sering hadir dalam rapat-rapat kenegaraan walau masih berstatus sebagai budak. Kedekatan al-Mahdi dan Khaizuran menimbulkan pro dan kontra. Ini juga membuat istri pertama al-Mahdi cemburu.

Dalam kondisi seperti itu, al-Mahdi memilih untuk menikahi Khaizuran dan mengukuhkan posisinya sebagai ibu negara.

Dari pernikahan dengan al-Mahdi, Khaizuran dikaruniai tiga orang anak. Dua anak laki-lakinya bernama Musa dan Harun. Anak perempuannya meninggal saat masih kecil. Musa kelak menjadi penerus tahta kekhalifahan.

Amirul Mukminin Musa al-Hadi dan al-Rasyid datang ke Madinah dan memerintahkan penduduk mengadakan perayaan kelahiran Nabi Muhammad di Masjid Nabawi.

Dari Madinah, Khaizuran juga menyambangi Makkah dan melakukan perintah yang sama kepada penduduk Makkah untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad.

Jika di Madinah bertempat di masjid, Khaizuran memerintahkan kepada penduduk Makkah untuk merayakan Maulid di rumah-rumah mereka. Khaizuran merupakan sosok berpengaruh selama masa pemerintahan tiga khalifah Dinasti Abbasiyah, yaitu pada masa Khalifah al-Mahdi bin Mansur al-Abbas (suami), Khalifah al-Hadi dan Khalifah al-Rasyid (putra).

Karena pengaruh besarnya tersebut, Khaizuran mampu menggerakkan masyarakat Muslim di Arab. Hal ini dilakukan agar teladan, ajaran, dan kepemimpinan mulia Nabi Muhammad bisa terus menginspirasi warga Arab dan umat Islam pada umumnya.

Pada masa Dinasti Abbasiyah, pembaruan pemikiran memang banyak terjadi di semua sektor kehidupan, dari perkembangan ilmu-ilmu umum, arsitektur, hingga situs-situs sejarah.

Khaizuran merupakan salah satu sosok yang mempunyai perhatian besar terhadap Nabi Muhammad beserta situs-situs sejarah peninggalan Nabi. Termasuk memprakarsai penghormatan terhadap kelahiran Rasulullah SAW.

Versi Lain

Naskah tertua mengenai peringatan Maulid Nabi adalah karya Jamaluddin Ibn Al Ma’mun, putra Al Ma’mun Ibn Bata’ihi, yang pernah menduduki posisi Perdana Menteri pada Dinasti Fatimiyah. Isi naskah ini hampir sama dengan desertasi ilmuwan Universitas Leiden Belanda, Noco Kptein.

Karya tersebut dikutip oleh Al Maqrizi dalam kitabnya, Mawa’iz Al I’tibar fi Khitat Misr Wa Al Amsar. Tapi, catatan Al Maqrizi menyebut peringatan Maulid Nabi diselenggarakan pada tanggal 13 Rabiul Awal.

Dalam disertasi tersebut dipaparkan bahwa peringatan maulid Nabi ini pertama kali dilakukan pada masa Dinasti Fatimiyyah di Mesir, tepatnya pada masa pemerintahan al-Mu’izz li Dinillah yang berkuasa pada pertengahan bad X Masehi (953-975 M), atau empat abad setelah Nabi saw wafat. Terkait kitab yang menjadi rujukannya adalah Tarikh al-Ihtifal bi al-Maulid al-Nabawiy karya al-Imam al-Sandubi.

Saat itu, khalifah Dinasti Fatimiyah menggelar peringatan Maulid Nabi dengan membagikan 6.000 dirham, 40 piring kue, gula-gula, caramel, madu, dan minyak wijen. Tidak ketinggalan 400 liter manisan dan 100 liter roti.

Peringatan itu kemudian selalu digelar pada12 atau 13 Rabi’ul Awal oleh pemerintah. Biasanya diisi ceramah, pembacaan ayat suci Alquran, serta pemberian hadiah.

Saat Dinasti Fatimiyah runtuh oleh gempuran Shalahuddin Al Ayyubi, tokoh utama Dinasti Ayyubiyah yang beraliran Sunni, tetap mengadakan peringatan Maulid. Peringatan ini dianggap sebagai wadah paling efektif dalam menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah Muhammad SAW dan Islam. Selain itu, juga membangkitkan semangat jihad pasukan Islam.

Al-Imam al-Suyuti dalam al-Hawi li al-Fatawa, menyebutkan bahwa gagasan menghidupkan kembali perngatan maulid ini bukan semata-mata dari gagasan Sultan Salahuddin, melainkan usulan dari saudara iparnya, Muzhaffaruddin di Irbil, Irak Utara.

Muzhaffaruddin memperingati maulid untuk mengimbangi maraknya perayaan Natal yang dilakukan oleh kaum Nasrani di daerah kekuasaannya. Pada mulanya, ia mengadakan perayaan ini hanya berskala lokal istana saja dan tidak rutin setiap tahun. Namun kemudian, Sultan Salahuddin menjadikannya sebagai gerakan global untuk membangkitkan semangat juang Muslimin dalam menghadapi tentara Salib.

Meski begitu, peringatan maulid Nabi saw, yang bertepatan dengan tanggal 12 Rabiul Awal, masih menyisakan banyak pertanyaan. Penentuan tanggal 12 rabiul Awal sebagai hari ulang tahun kelahiran Nabi adalah hal yang masih samar.

Tanggal 12 Rabiul Awal

Jauh sebelum masa Kaizuran dan Dinasti Fatimiyah, keinginan untuk mengingat hari kelahiran Nabi Muhammad sudah muncul pada masa khalifah Umar bin Khattab, tahun 638-an Masehi (22-32 Hijriah). Hal ini didasari oleh keinginan khalifah Umar untuk menjadikan tanggal lahir Nabi sebagai awal penanggalan hijriah.

Namun, rencana ini menghadapi satu kendala besar; tidak satupun di antara mereka yang tahu persis kapan dan tanggal berapa Nabi dilahirkan.

Masyarakat Arab di masa itu tidak terbiasa mencatat sejarah dan tidak terbiasa dengan hisab tahun. Meski demikian mereka biasa mengingat sejarah dengan peristiwa-peristiwa besar, seperti penyerangan Kakbah oleh tentara bergajah yang dipimpin Abrahah yang bertepatan dengan hari kelahiran Nabi Muhammad.

Lantas muncullah istilah tahun Gajah sebagai penanda kelahiran Nabi. Mayoritas ulama berpendapat bahwa peristiwa tersebut diperkirakan bertepatan dengan tanggal 12 Rabiul Awal atau 20 April 571 Masehi.

Namun dalam catatan Muhammad Husain Haekal dalam Sejarah Hidup Muhammad (2006) ada juga pendapat-pendapat lain yang menyatakan bahwa Nabi lahir lima belas tahun sebelum peristiwa gajah.

Ada juga yang mengatakan ia dilahirkan beberapa hari atau beberapa bulan atau juga beberapa tahun sesudah Tahun Gajah. Ada yang menaksir tiga puluh tahun, dan ada juga yang menaksir sampai tujuhpuluh tahun.

Ditulis oleh : Jafar Sodiq Assegaf

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.