Nostalgia Pemain Top Liga Italia Serie A Era 90’an

Liga Italia Serie A di era 90'an menjadi kiblat pesepak bola top dunia hingga menjadi salah satu contoh penyelenggaraan liga-liga di berbagai belahan dunia.

JEDA.ID – Liga Italia Serie A kembali ditayangkan RCTI setelah bertahun-tahun mampir di stasiun TV lain. Ini menjadi nostalgia lantaran RCTI pernah menyiarkan Liga Italia Serie A di era 90’an hingga 2002.

Jauh sebelum Liga Premier Inggris menjadi yang terlaris, Liga Italia di puncak kejayaan menjadikan RCTI sebagai salah satu stasiun TV unggulan. Saat kembali memegang hak siar Serie A, RCTI kembali membawa nostalgia penonton.

Nostalgia tercipta, RCTI berhasil menjadi pemegang hak siar Liga Italia Serie A musim ini. Hal ini disiarkan dalam postingan di akun media sosial Twitter. Dalam tulisannya admin Twitter RCTISport (@RCTISports_) menulis: “Yang kemarin nanyain #SerieARCTIRujuk mana ya?”

Kabar ini langsung disambut positif penggemar sepak bola Liga Italia. Tak aneh jika hashtag #SerieAdiRCTI menjadi bahan pembicaraan di Linimasa Twitter.

Di era 90’an, Liga Italia Serie A adalah tayangan yang dinanti-nanti penggemar sepak bola di Indonesia. Malam Senin, jam setengah sepuluh, saat itu rasanya tak ada tayangan yang lebih menarik selain Liga Serie A Italia.

Klub-klub yang akrab di telinga penggemar sepak bola adalah klub-klub peserta Serie A. AC Milan, Juventus, Parma, Lazio, AS Roma, Inter Milan, Fiorentina adalah beberapa klub populer dengan bertabur bintang.

Penggemar sepak bola kala itu juga lebih mengenal nama-nama pemain Serie A seperti Ronaldo (Brazil), Zinedine Zidane, hingga Gabriel Batistuta. Padahal di era yang sama juga ada pemain-pemain top lain seperti Eric Cantona (Manchester United), Rivaldo (Barcelona), Hristo Stoickov (Barcelona) atau David Ginola (Newcastle).

Sejenak nostaliga dengan Liga Italia Serie A saat ditayangkan RCTI 90’an, berikut deretan pemain legendarisnya;

Ronaldo

Jauh sebelum Cristiano Ronaldo menjadi idola, Ronaldo Luiz Nazario de Lima sudah dijuluki Sang Fenomena. Dribling bola dan kecepatannya membuat pertahanan lawan selalu kewalahan. Keunggulan ini ditambah dengan naluri mencetak golnya yang tajam.

Ronaldo Luis Nazario de Lima, bersama Inter Milan, September 1998. (Allsport UK)

Ronaldo Luis Nazario de Lima, bersama Inter Milan, September 1998. (Allsport UK)

Di era 1990-an, Ronaldo membuat heboh dunia dengan kepindahannya dari Barcelona ke Inter Milan. Ronaldo tercatat sebagai pemain dengan transfer termahal dengan nilai 19 juta pounsterling.

Pada musim pertamnya di Inter Il Fenômeno mengantarkan klub barunya meraih gelar UEFA Cup yang mana ia mencetak hattrick pada final melawan Lazio. Pada tahun ini Ronaldo pun kembali meraih gelar Pemain Terbaik Dunia versi FIFA untuk kedua kalinya secara berturut turut.

Bukan hanya di Serie A, Ronaldo kala itu adalah idola dunia. Banyak anak-anak dan remaja menjadikan Ronaldo sebagai idola. Dia menjadi pelepas dahaga usai dunia kehilangan Diego Armando Maradona.

Sayang itu tak berlangsung lama. Ronaldo mengalami serangkaian cedera serius di antara tahun 1998-2000. Hal ini berpengaruh hingga akhir kariernya. Ronaldo pensiun pada 14 Februari 2011 dengan menyatakan rasa sakit dari cederanya dan hipotiroidisme sebagai alasannya untuk pensiun.

Gabriel Batistuta

Gabriel Omar Batistuta dikenal berkat kemampuannya dalam mencetak gol. Saking suburnya mencetak gol, stiker berkebangsaan Argentina ini dijuluki Batigol. Kecemerlangan Batistuta, membuat banyak stiker Argentina seperti Hernan Crespo dan Claudio Lopez menjadi pilihan kedua.

Gabriel Batistuta. (Reuters)

Gabriel Batistuta. (Calcio)

Di Liga Italia Serie A era 90’an, Batistuta menjadi andalan Fiorentina hingga kepindahannya AS Roma pada musim 2000-2001. Sayang, selama berkarier di Fiorentina, dia tidak pernah memenangkan gelar Serie A.

Alessandro Del Piero

Alessandro Del Piero adalah idola penggemar sepak bola di era 1990-an terutama kaum hawa. Namanya begitu dikenal, apalagi lantaran klubnya, Juventus berstatus langganan juara Liga Italia Serie A.

Del Piero biasanya bermain sebagai second striker dan kadang-kadang berposisi di antara lini tengah dan penyerang, yang dikenal di Italia sebagai posisi trequartista karena visinya, kemampuan dan kreativitas dribbling nya.

Alessandro Del Piero. (Wikipedia)

Alessandro Del Piero. (Wikipedia)

Di bawah asuhan Marcello Lippi sebagai pelatih Juventus, Del Piero bermain di ” trisula serangan ” formasi bersama dengan veteran Gianluca Vialli dan Fabrizio Ravanelli.

Del Piero adalah spesialis tendangan bebas dan tendangan penalti (62 gol dengan penalti ) dia adalah pencetak gol tendangan bebas terbanyak dan sepanjang masa sebagai pemain Italia (49 gol: 43 gol di klub, 6 gol di tim nasional Italia).

Filipo Inzaghi

Selain Alessandro Del Piero, Filipo Inzaghi adalah stiker Juventus lain yang tak kalah mendapat perhatian. Bersama Del Piero, Inzaghi membuat duet dengan nama Del-Pippo.

Di musim pertamanya bersama Juventus, 1997-1998, Inzaghi mencetak 18 gol dari 31 pertandingan di liga dan menjadi penentu Scudetto Juventus lewat hattrick-nya ke gawang Bologna.

Filipo Inzaghi. (Telegraph.co.uk)

Filipo Inzaghi. (Telegraph.co.uk)

Semasa bermain bersama Juventus, hingga akhir kariernya Inzaghi dikenal sebagai striker yang ajaib. Tak begitu cepat, tidak tangguh, dan tidak memiliki skill mumpuni, Inzaghi tetap bisa mencetak banyak gol. Dia juga dikenal sebagai striker yang sering lolos jebakan offside.

Hidetoshi Nakata

Jauh sebelum pemain-pemain Asia menjadi andalan klub-klub Eropa, pemain asal Jepang Hidetoshi Nakata yang memulai petualangan di Liga Italia Serie A. Nakata menjadi salah satu dari sedikit pemain Asia yang menjadi bintang di Eropa. Bahkan, saat itu tidak ada pemain lain Asia lain di liga top Eropa yang disorot selain Nakata.

Hidetoshi Nakata. (Skysport)

Hidetoshi Nakata. (Skysport)

Setelah Piala Dunia di Prancis 1998 , Nakata hijrah ke Liga Italia bersama klub papan tengah, Perugia. Di sana ia bertahan dua musim hingga kemudian ia pindah ke AS Roma. Ia membantu AS Roma menjuarai Liga Italia Serie A melalui sumbangan dua gol pada menit-menit akhir saat Roma bermain seri 2-2 melawan Juventus.

Pada tahun 2005, oleh pemerintah Italia ia dianugerahi gelar Stella della Solidarietà Italiana (Bintang Solidaritas Italia), penghargaan tertinggi atas jasa-jasanya meningkatkan citra Italia di luar negeri.

Ditulis oleh : Jafar Sodiq Assegaf

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.