Mereka yang Sukses Mengejar Jodoh di Aplikasi Kencan Online

Dari aplikasi kencan online sampai sukses ke tahap serius menuju arah pernikahan, mereka harus melewati 4 tahapan yang dianalogikan sebagai kulit bawang.

JEDA.ID–Ada lembaga yang menyebut jumlah jomblo di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Cara-cara ”tradisional” dalam mencari jodoh masih banyak dipakai, namun cara kekinian seperti lewat aplikasi kencan online kian menjadi tren.

Ada banyak aplikasi kencan online yang bertebaran di Internet. Sebut saja yang paling populer seperti Tinder. Bisa dibilang aplikasi ini paling populer di dunia maya.

Sebagaimana dikutip dari Solopos.com, Selasa (8/20/2019), aplikasi kencan online ini diluncurkan pada September 2012. Tinder menawarkan fitur like or no dengan cara men-swap foto orang yang diinginkan untuk bisa jadi teman kencan.

Tinder memudahkan untuk memilih teman kencan yang sesuai dengan kriteria yang dinginkan. Kemudian ada pula aplikasi BeeTalk yang mirip dengan Tinder.

Aplikasi buatan China ini bisa membuat pengguna berteman langsung tanpa harus menunggu match atau persetujuan dari pengguna lain.

Deretan aplikasi kencan online lainnya cukup banyak. Ada Meow Chat, Badoo, OkCupid, Muz Match, sampai Wooplus. Semua aplikasi itu menawarkan keunggulan sendiri-sendiri.

Muz Match misalnya yang mengincar muslim. Sebagaimana dikutip dari Liputan6.com, aplikasi ini disebut cocok bagi yang mencari pasangan hidup beragama Islam.

Penggunanya di Indonesia sudah cukup banyak. Karena bernapaskan Islam, aplikasi ini mengklaim bisa mencari pasangan bagi Anda yang ingin taaruf.

Pola yang sama dari aplikasi kencan online ini adalah sama-sama memilih teman kencan yang sesuai dengan kriteria yang diinginkan. Bagi mereka yang ingin mencari jodoh dan berlanjut ke pernikahan, tentu memasukkan kriteria sesuai dengan keinginan.

Deretan aplikasi kencan online banyak diminati saat lembaga Setipe menyebutkan ada 56 juta orang yang masih single pada usia produktif 15-49 tahun pada 2016.

Pada saat yang bersamaan sejumlah survei menyebutkan generasi milenial cenderung menunda pernikahan. Jakpat sempat melakukam survei pada Oktober 2018 lalu.

Sebagaimana dikutip dari laman blog.jakpat.net, dalam survei ada 38,1% responden menganggap pernikahan adalah pilihan dan bukan kewajiban.

Sibuk Kerja

Namun, apakah mereka yang mengejar jodoh di aplikasi kencan online itu bisa berujung ke pernikahan? Annisarizki dari Program Studi Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Serang Raya pernah melakukan penelitian berjudul Makna Tinder sebagai Tempat Mendapatkan Teman Hidup.

Dalam penelitian itu disebutkan beberapa informan yang menjadi bahan penelitian mengaku kesibukan bekerja membuat informan merasa kesulitan mencari dan mendapatkan jodoh.

”Hal ini disebabkan oleh faktor internal dalam diri informan yang merasa lingkup pertemanannya mulai mengecil. Berdasarkan pengalaman informan mereka mengungkapkan semakin dewasanya atau semakin berumurnya membuat mereka dituntut pada keinginan menikah,” tulis Annisarizki sebagaimana dikutip dari LPPM Unsera.

Bagi mereka Tinder menjadi salah satu solusi untuk menemukan jodoh di lingkungan baru dengan berbagai banyak karakteristik perempuan maupun lelaki di Indonesia bahkan luar negeri.

aplikasi kencan online

Ilustrasi aplikasi kencan online (Freepik)

Saat aktif di aplikasi kencan online, para informan itu melakukan penyeleksian dan match agar jodoh yang diinginkan sesuai. Annisarizki mewawancarai pengguna Tinder yang mencari pasangan romantik jangka panjang yang serius.

Disebutkan para pengguna mendambakan hubungan online yang dibangun melalui aplikasi kencan online akan terus berlanjut menjadi hubungan romantis di dunia nyata.

”Untuk sampai pada tahap serius ke hubungan romantik dengan jangka panjang atau bisa dibilang dengan tahapan hubungan serius ke arah pernikahan, para informan harus melewati 4 tahapan yang dianalogikan sebagai kulit bawang,” sebut dia.

Tahap awal adalah tahap orientas. Tahap orientasi dilakukan oleh informan berinisial RN, AG, dan Simpsong pada saat proses pencarian pasangan di aplikasi kencan online bentuk sistem swiping.

Pada tahap orientasi para infroman berhati-hati untuk tidak membuka diri terlalu banyak terhadap satu sama lain, walaupun pada tahap orientasi ini sudah melakukan chatting Tinder dan berkomunikasi dengan match di ruang obrolan.

Di ruang obrolan dengan matches akan menentukan pengembangan hubungan hingga berujung komunikasi melalui WhatsApp. Menurut mereka, chatting menjadikan proses lebih mudah sebagai sarana pertukaran informasi.

Kenyamanan Runtuhkan Tipe

Pada tahap kedua, pertukaran penjajakan afektif sampai bertemu secara langsung. Tahap ini tidak semua berjalan lancar. Annisarizki menyebutkan ada beberapa faktor yang menyebabkan pengembangan hubungan tidak berjalan dengan lancar, salah satunya adalah adanya rasa ketakutan atau rasa minder ketika ditanyai soal pekerjaan utama.

Saat tahap ini pengguna aplikasi kencan online itu membentuk dan berkomunikasi lebih intens dengan komitmen hanya sebagai teman dekat dulu awalnya. Komunikasi tetap berjalan lancar bahkan meningkatan pada tingkatan saling menghubungu via telepon sampai pada akhirnya video call.

”Peningkatan dalam keinginan berkomitmen bukan hanya sekadar berkencan tapi lebih pada komitmen untuk menikah. Pertukaran afektif ditandai dengan adanya kenyamanan dan komitmen yang semakin merasakan intim dengan pasangannya,” sebut Annisarizki.

Proses berikutnya adalah tahap integrating yang ditandai dengan adanya rasa berbagi perhatian dan hubungan mutulisme. Proses interaksi dilakukan dengan menyampaikan keinginan-keinginan dan tujuan membangun hubungan secara intim dan serius.

Annisarizki menyatakan pada tahap ini mereka yang mengawali hubungan dari aplikasi kencan online ini sudah tidak memikir fisik secara keseluruhan. Dia menyebut narasumber dalam penelitian itu mengetahui konsekuensi yang akan didapatkan bila melakukan blind date.

”Kenyamanan telah meruntuhkan tipe pasangan hidup, bahkan mereka mendapatkan sesuatu yang lebih dari hanya sekadar berapa tinggi badan dan berapa berat badan pasangannya,” tulis dia.

Proses paling akhir adalah tahapan pertukaran stabil. Tahap ini adalah tahapan yang membuat yakin untuk menikah dengan pasangan match-nya. Keyakinan tumbuh karena pasangan match mereka dapat menerima segala sesuatu di dalam diri mereka.

”Ketiganya informan ini mendapatkan pasangan hidupnya melalui aplikasi kencan online Tinder dan mereka tidak membutuhkan waktu yang lama untuk memutuskan menikah,” papar dia.

Ditulis oleh : Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.