Jomblo dan Single, Sama atau Beda?

Ketika seseorang menjomblo, mereka akan belajar untuk menjadi pribadi yang lebih mandiri.

JEDA.ID–Single atau jomblo? Bagi beberapa orang, single dan jomblo memiliki makna yang sama. Namun, bagi beberapa orang lainnya, dua kata itu maknanya berbeda meski pada dasarnya sama-sama belum memiliki pasangan hidup.

Jomblo dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) disebut jomlo yang artinya pria atau wanita yang belum memiliki pasangan hidup. Mahasiswi Penyiaran UNS Solo Arieska menilai single dan jomblo berbeda.

Single itu pilihan, kalau jomblo itu nasib. Karena kalau single itu dia memilih untuk sendiri dulu dan memilih fokus pada karier. Kalau jomblo ia sebenarnya ingin cepat punya pasangan tapi belum dapat,” kata dia saat diwawancarai, Jumat (26/7/2019).

Arieska tidak sendirian. Banyak orang yang juga menyarakan hal yang sama. Cuitan hingga meme tentang ”single itu prinsip dan jomblo itu nasib” kerap berseliweran di media sosial.

Motivator Mario Teguh pun pernah mencuitkan mengenai hal ini di akun Twitternya. ”Single itu pilihan orang yang lari dari kenyataan, jomblo itu keadaan yang masih bisa diubah,” tulis Mario Teguh.

Pengakuan lain datang dari Arifiani, 21, warga Solo yang menilai tidak ada perbedaan antara single dan jomblo. Dia merasa dua kata itu maknanya sama yatu sama-sama tidak memiliki pasangan.

Terlepas dari perdebatan itu, Setipe memprediksi populasi jomblo di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Head of Research and Matchmaking Setipe Sartika Annisa menyebut jumlah orang yang tidak atau belum menikah pada usia 35 tahun ke atas justru naik.

Pada 2010, setidaknya ada 2 juta orang yang belum pernah menikah pada kelompok umur 35 tahun ke atas. Pada 2016, Setipe memperkirakan ada 18 juta orang berusia 35-49 tahun yang masih belum punya pasangan. Mereka merupakan bagian dari 56 juta orang yang masih single pada usia produktif 15-49 tahun pada 2016.

Kurun Waktu Jomblo

Susy, mahasiswi Ekonomi UNS Solo menyebutkan dirinya senang menikmati kesendiriannya karena tidak adanya intervensi dari orang lain. ”Belum tentu juga orang yang punya pacar lebih bahagia daripada saya yang jomblo,” kata Susy.

Pada 2015 lalu, Jakpat pernah melakukan survei mengenai berapa lama seseorang menjomblo. Dari survei tersebut 40% sudah terlalu lama sendiri. Kemudian 36,25% menjawab beberapa tahun, 21,68% menjawab beberapa bulan, dan 2,08% menjawab beberapa hari.

Psikoterapis klinis berlisensi dan pakar hubungan, LeslieBeth Wish, menekankan ketika seseorang menjomblo dapat menggunakan waktu itu untuk menyempurnakan pengetahuan tentang kebutuhan emosioal dalam suatu hubungan.

Seseorang yang menjomblo dan menunggu sampai masalah pribadinya terselesaikan membuat orang tersebut memiliki kemandirian, kepercayaan diri, keahlian dan pengetahuan yang lebih besar tentang apa yang mereka butuhkan dalam suatu hubungan yang nanti akan dibangun.

Ketika seseorang menjomblo, mereka akan belajar untuk menjadi pribadi yang lebih mandiri, tidak bergantung pada orang lain untuk menghibur dirinya, belajar untuk memenuhi kebutuhan atau keinginan sendiri. Dengan begitu, mereka memiliki kualitas yang benar-benar bermanfaat nantinya dalam menjalin suatu hubungan.

Ditulis oleh : Ardea Ningtias Yuliawati/Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.