• Tue, 27 September 2022

Breaking News :

Kehancuran Matahari Bisa Picu Kiamat? Ini Sejumlah Teorinya

Elon Musk pernah mengemukakan kehancuran matahari. Ternyata para ilmuwan pun pernah mengungkapkan soal kehancuran matahari bisa picu kiamat.

JEDA.ID-Ramalan seram kiamat terkait kehancuran Matahari belum lama ini dilontarkan Elon Musk. Namun ternyata sebelumnya para ilmuwan telah memberikan ramalan seram kiamat yang dipicu kehancuran Matahari ini.

Para ilmuwan meyakini Matahari suatu saat pun akan tamat riwayatnya dan pada saat itu, akan menghancurkan Tata Surya termasuk Bumi. Walau masih miliaran tahun lagi, peringatan ataupun riset sudah kerap dilakukan tentang skenario tersebut.

“Pada akhirnya, Matahari akan mengembang dan menelan Bumi,” begitu peringatan Elon Musk baru-baru ini.

Apa saja teori yang telah dikatakan ilmuwan tentang kehancuran Matahari? Dikutip dari detikcom, Jumat (2/10/2020), berikut beberapa di antaranya.

Matahari Jadi Raksasa Merah

Sekitar enam miliar tahun, Matahari akan mengembang hingga sekitar dua ratus kali saat ini. Dalam fase ini, ia akan dikenal sebagai Raksasa Merah. Saat mengembang, sang Raksasa Merah akan menelan dan menghancurkan Bumi sebelum runtuh jadi inti kecil yang disebut white dwarf.

Ketika Matahari mencapai fase Raksasa Merah-nya itu, maka ia akan mengembang secara kasar ke orbit Bumi. Planet Merkurius, Venus dan Bumi akan ditelan Matahari.

“Tetapi Mars, sabuk asteroid, Jupiter dan planet sisanya di Tata Surya akan mengembang pada orbitnya, karena Matahari kehilangan massa dan memiliki lebih sedikit tarikan gravitasi pada planet-planet itu,” terang Dr Manser dari University of Warwick dalam sebuah riset.

“Pada akhirnya, Matahari akan menjadi white dwarf dan masih memiliki Mars, sabuk asteroid, dan Jupiter yang mengorbit di sekelilingnya. Saat planet-planet mengorbit, mereka kadang-kadang dapat tersebar dan terlempar ke white dwarf,” sambungnya.

2,4 Juta Pekerja Gagal Dapat Subsidi Gaji, Ini Penjelasan BP Jamsostek

Tetapi radiasi yang dipancarkan oleh Matahari, setelah menjadi white dwarf, akan cukup kuat untuk menguapkan atmosfer Jupiter, Saturnus dan Uranus di mana mereka mengorbit sekarang. Dan ini hanya akan meninggalkan inti mereka yang berbatu.

Matahari Mengkristal Setelah ‘Bunuh’ Bumi

Setelah memangsa planet di dekatnya, suhu Matahari akan turun dan ukurannya mengecil. Dengan kata lain, seperti telah disebutkan sebelumnya, hal itu membuat Matahari menjadi bintang kerdil putih yang dingin. Setelahnya, perlahan-lahan ia berubah menjadi kristal putih yang melayang di angkasa.

Menariknya, hal tersebut tidak hanya akan terjadi pada Matahari. Ribuan bintang lain yang sanggup memancarkan cahayanya sendiri juga akan mengalami nasib serupa.

“Seluruh bintang kerdil putih yang dingin akan mengkristal pada suatu waktu, meskipun bintang kerdil putih yang dingin dengan ukuran lebih besar akan melewati proses tersebut lebih cepat,” ujar Pie-Emmanuel Tremblay dari University of Warwick dalam riset terpisah.

“Ini berarti miliaran bintang kerdil putih di galaksi kita ini sudah melewati proses dan akan menjadi kristal di langit. Matahari itu sendiri akan menjadi bintang kerdil putih sekitar 10 miliar tahun lagi,” katanya menambahkan.

Akhir Alam Semesta

Tak hanya Matahari, alam semesta pun bakal berakhir walau masih beberapa triliun tahun lagi. Penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal Monthly Notices oleh Royal Astronomical Society, memprediksi apa yang akan terjadi ketika itu.

Bintang terus meledak dengan prosesnya pelan-pelan. Saat itu, alam semesta bisa dikatakan sudah mati dan seluruh bintang pun menunggu giliran tamat riwayatnya.

4 Menu Sarapan Ini Pemicu Asam Lambung Naik

“Alam semesta akan menjadi tempat yang kesepian, dingin dan menyedihkan,” tulis pakar teori fisika, Matt Caplan, dalam risetnya itu. Ia adalah asisten profesor di Illinois State University, Amerika Serikat.

Pada akhir alam semesta, bintang-bintang masif meledak lebih dulu menjadi supernova, membuatnya kolaps. Seiring berjalannya waktu, bintang-bintang katai putih pun menjadi lebih padat, berubah menjadi bintang katai hitam yang dapat memproduksi materi besi. Kala itu, sudah tidak ada lagi cahayanya.

“Saat bintang katai putih mendingin dalam beberapa triliun tahun lagi, mereka akan menjadi semakin redup, akhirnya menjadi solid dan berubah menjadi bintang katai hitam yang tak lagi bersinar,” urai Caplan.

Setelahnya bintang tak bersisa, galaksi-galaksi pun lenyap, lubang hitam menguap, dan dengan demikian berakhirlah alam semesta. Tentunya, itu hanya skenario ilmuwan berdasarkan teori ilmiah.

Ditulis oleh : Astrid Prihatini WD

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.