Hiu Megalodon Predator Purbakala Terbesar Penuh Misteri

Mahkluk laut yang diprediksi hidup di sudut paling gelap Bumi dan misterinya yang selalu diburu oleh para ilmuwan, salah satunya adalah hiu Megalodon.

JEDA.ID — Mahkluk laut yang diprediksi hidup di sudut paling gelap Bumi dan misterinya yang selalu diburu oleh para ilmuwan, salah satunya adalah hiu Megalodon.

Hiu dikenal sebagai makhluk paling menyeramkan di lautan. Beberapa film seperti Jaws menjadikan ikan ini sebagai tokoh utamanya. Megalodon yang belum lama ini diangkat dalam film The Meg. Menceritakan para penjelajah tanpa disadari membangkitkan hewan laut prasejarah sehingga menimbulkan malapetaka.

Nah, apa saja misteri dan fakta predator terbesar yang pernah ada di Bumi ini? Simak ulasan berikut yang berhasil dirangkum dari beberapa sumber, Senin (10/8/2020).

Sudah Ada Sejak 10.000 SM, Ini Fakta dan Efek Tato bagi Tubuh

1. Hiu terbesar

Ahli paleobiologi dari Smithsonian’s National Museum of Natural History, Meghan Balk, menyatakan Megalodon memang makhluk besar dan sudah disepakati sebagai hiu terbesar yang pernah hidup di Bumi.

Dilansir dari Iflscience, menurut ilmiah, hiu megalodon sudah hidup sejak 16 hingga 1,6 juta tahun yang lalu. Megalodon yang memiliki nama ilmiah Otodus Megalagodon sudah berenang di masa Miosen awal hingga akhir masa Pliosen.

Megalodon adalah hiu terbesar yang pernah berenang di lautan bumi. Gigitannya dipercaya lebih kuat daripada T.rex. Makhluk ini diperkirakan memiliki panjang yang dapat mencapai 18 meter. Bahkan beberapa ilmuwan memperkirakan panjang maksimal hewan pra sejarah ini dapat mencapai 25 meter. Ukuran tersebut empat kali lebih panjang daripada hiu putih berukuran besar yang hidup di zaman modern.

Ilmuwan hanya bisa menemukan gigi megalodon. Rahangnya dipercaya dapat menampung hingga 276 gigi. Tidak ditemukan fosil Megalodon di laut yang brumur lebih muda dari 2 juta tahun.

Penelitian menunjukkan, fosil Megalodon yang asli dapat ditemukan hingga akhir zaman Pliosen awal, yakni 3,6 juta tahun yang lalu.

2. Persaingan

Megalodon berada di lingkungan yang sangat kompetitif. Posisinya di puncak rantai makanan kemungkinan sangat berdampak terhadap komunitas laut. Bukti-bukti fosil menunjukkan korelasi antara megalodon dengan kemunculan dan diversifikasi cetacea dan mamalia-mamalia laut lainnya.

Anak megalodon lebih menyukai habitat yang berlimpah dengan cetacea-cetacea kecil, sementara megalodon dewasa lebih memilih habitat yang berlimpah dengan cetacea-cetacea besar. Preferensi semacam itu kemungkinan muncul setelah megalodon berevolusi pada akhir kala Oligosen.

Megalodon hidup sezaman dengan paus-paus bergigi, khususnya paus sperma makroraptorial yang mungkin juga menjadi predator puncak, sehingga mereka pun saling bersaing.

Beberapa dari antara mereka berevolusi hingga memiliki ukuran tubuh raksasa, seperti Livyatan dengan panjang yang berkisar antara 13,5 hingga 17,5 m. Pada kala Miosen Akhir (sekitar 11 juta tahun yang lalu), keberlimpahan dan keanekaragaman cetacea makroraptorial mengalami penurunan. Cetacea-cetacea predator lainnya mulai muncul pada kala Pliosen untuk mengisi kekosongan ekologi ini.

Contohnya adalah paus-pembunuh kuno Orcinus citoniensis yang mungkin merupakan predator berkelompok yang mengincar mangsa yang lebih besar, tetapi terdapat kemungkinan bahwa O. citoniensis berspesialisasi dalam memakan ikan dan cumi-cumi dan bukan mamalia laut.[65]

Bukti-bukti fosil menunjukkan bahwa spesies-spesies hiu besar lainnya (seperti hiu putih) menanggapi tekanan kompetisi dari megalodon dengan menghindari wilayah yang dihuni oleh hiu tersebut dan lebih banyak berkeliaran di perairan yang dingin.

Apabila mereka berada di wilayah yang saling bertumpang tindih (seperti Baja California pada kala Pliosen), kemungkinan megalodon dan hiu putih berada di wilayah tersebut pada musim yang berbeda untuk mengincar mangsa yang memiliki jadwal migrasi berbeda.

Terdapat pula kemungkinan bahwa megalodon memiliki kecenderungan kanibalisme seperti hiu-hiu pada zaman modern.

Jangan Makan Makanan yang Dihinggapi Lalat karena Inilah yang Terjadi

3. Penyebab Kepunahan

Spesies Megalodon saat ini telah punah. Namun, beberapa teori konspirasi menyatakan, predator ini masih berkeliaran di laut kita. Beberapa pelaut melaporkan bahwa mereka pernah melihat makhluk purba tersebut. Salah satunya kisah nelayan di New South Wales pada 1918. Ia mengatakan bahwa jaringnya telah dimakan oleh hiu raksasa.

Laporan lain dari 1933 bersikeras bahwa binatang laut misterius menyerupai Megalodon terlihat di pesisir pantai Prancis. Meski begitu, mayoritas ahli mengatakan bahwa tidak ada bukti yang menunjukkan predator raksasa ini masih ada.

Selama beberapa dekade, para ahli telah memperdebatkan alasan mengapa spesies hiu ini bisa punah. Beberapa percaya bahwa penurunan jumlah persediaan makanan dan pendinginan lautan lah yang mengurangi populasi Megalodon. Hasil penelitian dari University of Zurich menyatakan bahwa sepertiga hewan laut terbesar di laut, punah selama zaman Pliosen, sekitar 5,3 juta tahun lalu – termasuk megalodon.

Ditulis oleh : A’idah Husna Luthfiyyah Ans

Menarik Juga

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.