Eksistensi Dukun Bayi, antara Tradisi dan Kebutuhan

Jasa seorang dukun bayi bukan sekadar transaksi jual beli jasa seperti antara penjual dengan pembeli, tetapi ada ikatan batin atau emosi.

JEDA.ID–Dukun bayi di Jawa mungkin mulai tersisih. Namun, tidak demikian di Papua dan Maluku. Dukun bayi masih memiliki peran besar untuk membantu persalinan. Selama 2018, tercatat 691.789 perempuan di Indonesia melahirkan di dukun bayi.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dalam Profil Kesehatan Indonesia 2018, selama 2018 terdapat 5.043.078 ibu bersalin. Dari jumlah itu, 86,28%-nya atau sekitar 4,35 juta ibu bersalin di fasilitas kesehatan dengan bantuan tenaga kesehatan. Sisanya 691.789 ibu melahirkan lewat dukun beranak/bayi.

Jumlah ibu bersalin dengan bantuan tenaga kesehatan dari tahun ke tahun terus naik, namun tidak merata di semua wilayah. Ada tiga provinsi yang proses persalinan masih didominasi dukun bayi yaitu di Papua, Papua Barat, dan Maluku.

Di Papua contohnya. Terdapat 74.856 ibu bersalin pada 2018 dan yang melahirkan melalui dukun mencapai 40.655 ibu atau 54,31%. Kondisi yang sama terjadi di Maluku. Di provinsi ini 25.581 ibu bersalin melahirkan lewat dukun. Jumlah itu sekitar 55% dari total ibu bersalin di provinsi itu.

Menurut konsep yang disusun Departemen Kesehatan (1994), dukun bayi adalah orang yang dianggap terampil dan dipercaya oleh masyarakat untuk menolong persalinan dan perawatan ibu dan anak sesuai kebutuhan masyarakat.

Pada 2018, jumlah dukun bayi di Indonesia lebih dari 49.000 orang. Mereka tersebar di 34 provinsi.

Dukun bayi pada awalnya secara tradisi adalah profesi seseorang yang dalam aktivitasnya menolong proses persalinan, merawat bayi mulai dari memandikan, menggendong, belajar berkomunikasi dan lain-lain. Mereka biasanya punya keahlian juga dibantu berbagai mantra khusus yang dipelajarinya dari pendahulu mereka.

Kematian Persalinan

Agustina Regina Yufuai dan Laksmono Widadgo dalam kajian berjudul Pratek Budaya Suku Kampung Yepase Terkait Perawatan Kehamilan, Nifas dan Bayi di Distrik Depapre Kabupaten Jayapura yang dimuat di Jurnal Promosi Kesehatan Indonesia Vol. 8 / No. 2 / Agustus 2013 menyebutkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap dukun masih tinggi karena faktor kharisma.

”Sehingga warga lebih senang berobat dan meminta tolong kepada ibu dukun yang merupakan warga asli dan orang terdekat yang sudah biasa membantu keluarga. Hal ini ditunjukan dengan masih rendahnya cakupan persalinan dan kunjungan masyarakat <50% ke tenaga kesehatan,” sebagaimana dikutip dari ejournal.undip.ac.id, Jumat (12/7/2019).

Dalam kajian itu disebutkan di kampung itu terdapat 2 dukun kampung yaitu 1 dukun terlatih dan 1 dukun tidak terlatih. Mereka digunakan masyarakat sebagai penolong dalam perawatan kehamilan, nifas, dan bayi. Namun, terdapat 40% kasus kematian persalinan yang dilakukan oleh tenaga dukun bayi.

Kondisi yang sama terjadi perkampungan Yanggandur, Distrik Sota, Kabupaten Merauke, Papua. Kaum ibu lebih nyaman bila ditangani dukun daripada jasa bidan untuk proses persalinan.

”Jadi dukun beranak sendiri sebetulnya sudah turun temurun. Keluarga saya, bahkan saya sendiri melahirkan bukan di rumah bersalin atau tenaga bidan, tapi dibantu dukun,” kata Magdalena Ndiken, perempuan yang telah 15 tahun lebih berprofesi sebagai dukun sebagaimana dikutip dari Suara.com.

Masih banyaknya ibu bersalin yang menggunakan jasa dukun di Papua, Papua Barat, dan Maluku juga dipengaruhi jumlah dukun bayi lebih banyak dibandingkan bidan di wilayah itu. Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Potensi Desa 2018 menyebutkan jumlah dukun di Papua dan Papua Barat dua kali lipat dibandingkan jumlah bidan.

Di Papua tercatat ada 1.021 bidan desa. Sedangkan jumlah dukun bayi mencapai 2.661 orang. Kemudian di Papua Barat ada 1.189 dukun dan bidan desanya hanya 573 orang.

Bantuan melahirkan oleh dukun juga masih cukup banyak terjadi di Nusa Tenggara Timur. Tercatat sekitar 43% ibu bersalin di provinsi itu menggunakan jasa dukun. Sedangkan di Jawa, seluruh provinsi yang proses melahirkan dilakukan di fasilitas kesehatan dengan bantuan tenaga kesehatan atas 85%, kecuali di DIY. Di DIY sekitar 24% proses kelahiran menggunakan bantuan dukun.

Ikatan Batin

dukun bayi

Dukun bayi di Karanganyar (Istimewa)

Kasnodihardjo dkk. dalam Peran Dukun Bayi dalam Menunjang Kesehatan Ibu dan Anak sebagaimana dimuat dalam Media Litbangkes Vol. 24 No. 2, Juni 2014 melakukan kajian di Bantul, DIY. Mereka menyebut dukun sering dianggap sebagai representasi dari tetua yang mengetahui banyak hal yang terkait dengan tradisi. Mereka dituakan karena pengetahuannya tersebut.

”Dalam menjual jasa, dukun seringkali juga bertindak sebagai pihak yang memberikan nasehat tentang apa yang baik dan benar menurut pandangannya. Tidak heran dukun seringkali juga menjadi konsultan keluarga dalam banyak hal. Misalnya saja dari prosesi pascakelahiran sampai prosesi yang terkait dengan perawatan ibu dan anak. Walaupun petuah atau nasihat yang diberikan kepada masyarakat sering bertentangan dengan konsep-konsep kesehatan modern. Konsep-konsep yang dimiliki dukun bayi berdasarkan pengetahuan tradisional. Sebagian berupa ilmu gaib dan sebagian lagi keyakinan-keyakinan religi yang tidak searah dengan nalar atau rasionalitas,” sebut mereka.

Hasil penelitian yang dilakukan Rina Anggorodi, menggambarkan bahwa peranan dukun bayi tidak hanya terbatas pada pertolongan persalinan, tetapi juga meliputi berbagai segi lainnya. Seperti mencucikan baju setelah ibu melahirkan dan memandikan bayi selama tali pusar belum puput (lepas). Kemudian memijit ibu setelah melahirkan, memandikan ibu, mencuci rambut ibu setelah 40 hari melahirkan, hingga melakukan upacara sedekah kepada alam.

Kondisi itu menjadikan ketergantungan masyarakat terhadap jasa seorang dukun masih kuat. Jasa seorang dukun bayi bukan sekadar transaksi jual beli jasa seperti antara penjual dengan pembeli, tetapi ada ikatan batin atau emosi di antara kedua pihak.

”Masih berperannya seorang dukun bayi dalam hal pemeliharaan kesehatan ibu dan anak bukan sekadar karena kekurangan fasilitas pelayanan kesehatan yang terjangkau oleh masyarakat, tetapi disebabkan oleh faktor sosial budaya masyarakat setempat. Keberadaan dukun bayi dapat memenuhi harapan dan kebutuhan yang dilayani dalam hal pemijatan baik untuk ibu sehabis melahirkan maupun bayinya,” kata dia.

Pemberdayaan Dukun Bayi

Mereka pun menyarankan agar dukun beranak/bayi yang masih dipercaya masyarakat dapat diberdayakan untuk menunjang program-program kesehatan lainnya. Perlu studi intervensi untuk lebih meningkatkan pengetahuan dukun tentang konsep-konsep kesehatan. Hal itu dilakukan tanpa ada kesan menghilangkan peran mereka sebagai tenaga pelayanan kesehatan tradisional.

Kemenkes memastikan tidak akan mengesampingkan peran dukun bayi. Sekretaris Jenderal Kemenkes Osar Primadi mengatakan Kemenkes telah membentuk Balai Kesehatan Tradisional Masyarakat (BKTM) sebagai salah satu bentuk percontohan pusat pelayanan kesehatan tradisional yang aman dan bermanfaat.

BKTM dilengkapi dengan tenaga kesehatan tradisional profesional, dokter, perawat, dan nutrisionis. Dia pun mengakui eksistensi pelayanan kesehatan tradisional masih menjadi pilihan masyarakat.

”Walaupun pelayanan kesehatan modern telah berkembang di Indonesia, namun jumlah masyarakat yang memanfaatkan pengobatan tradisional seperti pijat urut, pijat tunanetra, patah tulang, dukun, tukang gigi dan lain-lain tetap tinggi,” kata dia sebagaimana dikutip dari depkes.go.id.

Ditulis oleh : Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.