• Sun, 28 November 2021

Breaking News :

Benua Sundaland dan Atlantis, Ini Dia Mitos vs Faktanya

Ilmuwan memastikan benua Sundaland adalah benua yang tenggelam di Indonesia. Mereka percaya ada jejak peradaban di dasar lautan.

JEDA.ID-Benua Sundaland yang tenggelam di Indonesia, dikaitkan dengan legenda Atlantis. Inilah perbandingan mitos dan faktanya.

Sundaland adalah wujud Indonesia di Zaman Es pada periode Glasial terakhir 18.000 tahun silam. Saat itu laut surut 120 meter. Akibatnya, Sumatera, Malaysia, Jawa, Kalimantan sampai Bali terhubung menjadi benua yang luas.

Sudah banyak penelitian tentang Benua Sundaland yang dilakukan ilmuwan Indonesia dan dunia. Baik soal geologi, paleontologi, arkeologi dan lain-lain. Mereka bicara mulai dari kondisi alam, flora fauna dan manusianya.

Sementara itu, Atlantis adalah legenda sejak zaman Yunani kuno tentang sebuah benua yang tenggelam di masa silam. Atlantis melahirkan banyak buku dan film fantasi. Sejak beberapa tahun terakhir, Atlantis dikaitkan dengan Benua Sundaland di Indonesia.

Dikutip dari detikcom, Selasa (18/8/2020), membandingkan keterangan mengenai legenda Atlantis dari tulisan Arysio Nunes dos Santos dan Dhani Irwanto, dengan fakta-fakta ilmiah mengenai Sundaland dari wawancara dengan ahli Paleontologi ITB, Prof Yahdi Zaim dan sejumlah jurnal ilmiah dari Nature.

1. Benua yang tenggelam

Mitos: Benua Atlantis dalam legenda yang ditulis Plato pada zaman Yunani Kuno, disebutkan tenggelam dalam sehari semalam karena bencana alam gempa bumi dan banjir besar. Reruntuhan kota disebutkan ada di dasar laut.

Fakta: Menurut ahli Paleontologi ITB, Profesor Yahdi Zaim, benua Sundaland tenggelam secara perlahan dari Era Last Glacial Period 18.000 tahun silam sampai masuk masa Holocene 12.000 tahun silam. Menurut Yahdi, es di Kutub Utara dan Selatan mencair karena pemanasan global, akibatnya air laut naik dengan kecepatan 20 mm/tahun, selama 6.000 tahun.

Kesimpulan: Tidak cocok. Benua Sundaland tenggelam perlahan, bukan sehari semalam.

2. Peradaban 11.600 tahun silam

Mitos: Menurut Plato, Benua Atlantis ada sekitar 11.600 tahun sebelum hari ini.

Fakta: Menurut Yahdi, Benua Sundaland sudah tenggelam sepenuhnya pada 12.000 tahun silam. Ini adalah akibat dari pemanasan global sejak 18.000 tahun lalu dalam masa Last Glacial Period.

Mengenal Lazarus Syndrome, Fenomena ‘Bangkit’ dari Kematian

“Di awal Holocene sekitar 12.000 tahun yang lalu, muka laut berada sama dengan muka laut sekarang,” kata dia.

Kesimpulan: Tidak cocok. Benua Sundaland sudah tenggelam pada periode masa Atlantis yang disebut Plato.

3. Iklim di Atlantis

Mitos: Menurut Plato, Atlantis punya dua musim, curah hujan tinggi.

Fakta: Sundaland adalah wilayah khatulistiwa di Zaman Es. Suhunya dingin 5-10º C. Sementara rata-rata dunia -8º C

Kesimpulan: Cocok.

4. Wilayah Atlantis

Mitos: Atlantis disebutkan seluas Asia Minor digabungkan dengan Libya. Atlantis juga berhubungan dengan pulau-pulau lain.

Fakta: Sundaland adalah wilayah meliputi Sumatera, Semenanjung Malaysia, Kalimantan dan Jawa yang dihubungkan dengan daratan. Sulawesi dan Maluku tetap menjadi kepulauan karena memiliki laut dalam. Sementara Papua dan Australia menjadi satu benua bernama Sahul.

Kesimpulan: Cocok.

Benua Sundaland yang tenggelam di Indonesia, dikaitkan dengan legenda Atlantis. (ilustrasi Freepik)

Benua Sundaland yang tenggelam di Indonesia, dikaitkan dengan legenda Atlantis. (ilustrasi Freepik)

5. Bentang alam rata dikelilingi gunung

Mitos: Atlantis disebutkan memiliki bentang alam yang rata dikeliling gunung. Ada banyak pohon buah-buahan dan aneka pohon penghasil kayu.

Punya Perut Buncit? Ketahui Pemicunya

Fakta: Sundaland menurut sejumlah penelitian yang dipublikasikan jurnal Nature adalah padang savana. Dataran yang lebih tinggi adalah hutan. Sisi selatan Sundaland adalah jejeran gunung berapi yang sekarang menjadi Sumatra dan Jawa.

Kesimpulan: Cocok.

6. Punya gajah

Mitos: Atlantis disebutkan memiliki gajah.

Fakta: Menurut Yahdi Zaim, Benua Sundaland memiliki leluhur gajah yaitu Stegodon dan Elephas.

Ditulis oleh : Astrid Prihatini WD

Menarik Juga

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.