Trending Topic di Twitter, Pahami Prosesnya

Cuitan warganet bisa menjadi trending topic di Twitter. Untuk menjadi trending topic di Twitter melibatkan algoritma.

JEDA.ID-Cuitan warganet kadang bisa jadi trending topic di Twitter. Bagaimana satu topik bisa menjadi trending topic di Twitter?

“Pertanyaan itu sebenarnya di-Tweet lebih dari setengah juta kali selama setahun terakhir!,” ujar Twitter dalam unggahan blog resminya,seperti melansir bisnis.com, Kamis (3/9/2020).

“Untuk membantu dalam hal ini, kami menambahkan Tweet yang dipasangi pin dan deskripsi tentang tren untuk membantu menjelaskan mengapa sesuatu menjadi tren,”

Algoritma

Twitter melanjutkan. Beberapa topik yang sedang tren akan dilengkapi dengan cuitan perwakilan yang disematkan untuk memberi lebih banyak informasi tentang topik yang sedang tren tersebut.

Twitter menggunakan kombinasi algoritma dan tim kurasi untuk menentukan apakah sebuah cuitan mewakili dan mencerminkan topik yang sedang tren.

Awas! Virus Corona Dapat Bertahan Lebih Lama di Tubuh Anak

“Algoritma kami dirancang untuk mengidentifikasi cuitan perwakilan yang tidak berpotensi menyinggung, spam, atau diposting oleh akun yang mencoba memanfaatkan sistem kami,” kata Twitter.

Penambahan Cuitan

Penambahan cuitan yang disematkan pada topik yang sedang tren tersebut telah dirilis di iOS maupun Android, dan segera hadir di twitter.com.

Dalam beberapa pekan mendatang, Twitter juga akan menambahkan deskripsi singkat pada sebuah topik yang sedang tren untuk membantu menambah konteks.

Deskripsi tersebut akan memberikan konteks langsung dan bersumber jelas seputar mengapa sesuatu menjadi tren.

Dikembangkan Tim Kurasi

Deskripsi tentang tren tersebut dikembangkan oleh tim kurasi Twitter, dan dapat ditemukan di twitter.com dan Twitter untuk iOS dan Android.

Efek Sabu Terhadap Tubuh dari Depresi Hingga Kematian

Cuitan yang disematkan dan deskripsi tentang tren akan tersedia di Argentina, Australia, Brasil, Kanada, Kolombia, Mesir, Prancis, India, Irlandia, Jepang, Meksiko, Selandia Baru, Arab Saudi, Spanyol, Inggris Raya, Uni Emirat Arab dan Amerika Serikat.

“Untuk memperjelas percakapan, kami berharap dapat menambahkan lebih banyak konteks ke lebih banyak tren dari waktu ke waktu,” ujar Twitter.

Ditulis oleh : Astrid Prihatini WD

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.