Rahasia di Balik Segarnya Dawet Telasih Pasar Gede Solo

Dalam semangkuk es dawet telasih Pasar Gede ada cendol, selasih, jenang sumsum, dan ketan hitam. Empat komposisi utama ini diberi sedikit santan encer, gula kental warna cokelat, es batu, dan disiram dengan santan kental.

JEDA.ID–Berkunjung ke Kota Solo tak lengkap rasanya jika belum menjajal beragam kulinernya. Salah satu kuliner yang melegenda adalah dawet telasih di Pasar Gede Harjonagoro.

Pasar Gede terletak di salah satu pusat kota Solo yang tidak jauh dari Balai Kota Solo dan Benteng Vastenburg. Pasar ini terkenal akan beragam jajanan tradisional seperti lenjongan, cabuk rambak, dan lain-lain.

Salah satu kuliner di Pasar Gede yang wajib dicoba adalah dawet telasih. Dikutip dari Pemetaan Wisata Kuliner Khas Kota Surakarta, Selasa (24/9/2019), dawet telasih berbeda dengan dawet lainnya.

Dalam semangkuk es dawet telasih ada cendol, selasih, jenang sumsum, dan ketan hitam. Umumnya, es dawet punya rasa cenderung lebih manis. Rasa manis dihasilkan dari gula merah cair.

Sedangkan es dawet telasih punya sedikit rasa gurih dari jenang sumsum dan santannya. Rasanya pun tak terlalu manis. Selain itu, perbedaan mendasar dari dawet biasanya dengan dawet telasih adalah adanya selasih.

Banyak penjaja es dawet telasih di dalam Pasar Gede. Ada es dawet telasih Bu Dermi, es dawet selasih Bu Watik, es dawet selasih Haji Sipon, dan lain-lain. Salah satu es dawet telasih yang paling terkenal dalam pasar ini, adalah dawet telasih milik Bu Dermi.

Kios dawet telasih milik Bu Dermi terletak di los bagian timur Pasar Gede. Kios yang berukuran 3 meter x 4 meter ini ramai dikunjungi pengunjung.

Tersedia bangku yang hanya bisa menampung tiga hingga empat orang. Pengunjung yang tidak kebagian tempat duduk, menikmati es dawet telasih sambil berdiri.

Es dawet telasih Bu Dermi lebih dikenal dibanding yang lain karena sudah melegenda dan kerap didatangi pesohor mulai Presiden Jokowi, kalangan menteri, sampai artis Christine Hakim, Angel Lelga, Indra Bekti, dan Anya Dwinof.

Generasi Ketiga

Ruth Tulus Subekti, 52, adalah generasi ketiga dari bisnis keluarga ini. Ia mengatakan jika bisnis ini telah berlangsung sejak zaman Belanda, kira-kira tahun 1930-an.

”Es dawet telasih ini yang pertama berdiri di Pasar Gede,” ujar perempuan yang akrab disapa Utit, kepada jeda.id, Selasa (24/9/2019).

Dalam semangkuk es dawet telasih ada cendol, selasih, jenang sumsum, dan ketan hitam. Empat komposisi utama ini diberi sedikit santan encer, gula kental warna cokelat, es batu, dan disiram dengan santan kental.

Santan encer dan kental memiliki perbedaan. Umumnya santan encer hanya diberi sedikit, sedangkan santan kental lebih banyak. Santan kental digunakan sebagai pencipta rasa gurih, sedangkan santan encer sebagai penambah cita rasa.

Utit mengaku bahan yang digunakan dalam proses pembuatan berasal dari bahan alami, tanpa pemanis dan pengawet buatan. ”Dalam pembuatan, kami menggunakan bahan alami. Jadi santan hanya bisa bertahan selama satu hari,” katanya.

dawet telasih pasar gede

Pengunjung menikmati dawet telasih di Pasar Gede Solo (Solopos)

Contohnya penggunaan bahan dalam pembuatan cendol. Bahan utamanya dari tepung beras yang diberi warna hijau. Warnanya dihasilkan dari daun suji. Telasih (selasih) dihasilkan dari biji tanaman kemangi.

Utit juga menjelaskan jika selasih memiliki banyak manfaat. ”Selasih bagus untuk orang yang sedang sariawan, radang tenggorokan, dan panas dalam,” jelas dia.

Dalam meramu Utit tidak sendiri, ia turut ditemani oleh Marni dan Sari sepupu dari Utit. Resep dawet telasih milik Bu Dermi diturunkan secara turun-menurun.

”Awalnya yang jual ibunya Bu Dermi, berarti kan mbah saya. Lalu resepnya turun-temurun diturunkan ke masing-masing generasi,” jelas Utit.

Kios dawet telasih Bu Dermi di Pasar Gede ramai dikunjungi oleh para wisatawan lokal dan mancanegara. Utit pun mengaku jika Jokowi kerap mengunjungi kiosnya.

”Kalau dulu pas Jokowi masih menjabat jadi wali kota, Pak Jokowi sering ke sini. Kalo pas warung ramai, Pak Jokowi juga minumnya sambil berdiri,” jelas Utit.

Bikin Penasaran

Salah satu penikmat dawet telasih ialah Kim Lan, 72, mengaku sudah menikmatinya sejak masih kecil. Menurut dia, yang membedakan es dawet telasih milik Bu Dermi dengan yang lain adalah bahan alami yang digunakan dalam proses pembuatan.

Tidak hanya warga Solo yang suka menjajal es dawet telasih Pasar Gede. Wisatawan asal Yogyakarta, Inggrid, 22, dan Dila, 23, mengaku baru kali pertama mencicipi segarnya es dawet telasih di Pasar Gede.

”Kami enggak sengaja nemu es dawet telasih yang ramai banget. Karena penasaran ya sudah akhirnya kami coba,” ucap Inggrid.

Menurut Dila, rasa es dawet telasih tidak terlalu manis. ”Menurutku yang paling beda, karena ada selasihnya, terus rasanya enggak terlalu manis,” jelas Dila.

”Ada jenang sumsum, sama ketan hitam juga bikin beda sih. Pokoknya enak dan segar banget,” tambah Inggrid.

Dawet telasih memiliki aroma wangi, dihasilkan dari frambos yang dicampur dalam gula kental warna cokelat. Rasa gurihnya pun dihasilkan dari jenang sumsum dan santan kental.

Pada kios dawet telasih lainnya di Pasar Gede, turut dijual ketan tapai sebagai hidangan pendamping ketika menikmati semangkuk es.  Dawet telasih ini menjadi salah satu keragaman kuliner di Indonesia.

Ditulis oleh : Vanya Karunia Mulia Putri/Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.