Proses Panjang Terjadinya Stunting pada Anak Balita

Tidak heran jika angka stunting pada balita di Indonesia tidak berubah dan cenderung meningkat karena ada rentetan masalah sejak dari calon ibu hamil.

JEDA.ID–Bila Anda berpikir stunting pada anak balita merupakan masalah yang muncul setelah kelahiran, hal itu salah besar. Ada proses panjang yang menjadi pemicu stunting pada anak balita.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) di laman mereka sebagaimana dikutip, Rabu (2/10/2019), menyebutkan stunting adalah suatu kondisi kekurangan gizi kronis yang terjadi pada saat periode kritis dari proses tumbuh dan kembang mulai janin.

Di Indonesia, saat ini diperkirakan ada 37,2% dari anak balita berusia 0-59 bulan. Jumlah itu artinya sekitar 9 juta anak dengan kondisi stunting yang berlanjut sampai usia sekolah 6-18 tahun.

Stunting atau juga dikenal dengan balita pendek bisa diartikan sebagai kondisi anak usia 0-59 bulan yang tinggi badan menurut umur berada di bawah minus 2 Standar Deviasi (<-2SD) dari standar median WHO. Masalah tinggi badan pada anak ini berdampak karena berkaitan dengan proses kembang otak yang terganggu.

”Dalam jangka pendek berpengaruh pada kemampuan kognitif. Jangka panjang mengurangi kapasitas untuk berpendidikan lebih baik dan hilangnya kesempatan untuk peluang kerja dengan pendapatan lebih baik,” sebut Kemenkes.

Dalam jangka panjang, anak stunting yang berhasil mempertahankan hidupnya, pada usia dewasa cenderung akan menjadi gemuk (obese), dan berpeluang menderita penyakit tidak menular (PTM), seperti hipertensi, diabetes, kanker, dan lain-lain.

Kemenkes menyebut stunting pada anak balita disebabkan oleh banyak faktor seperti kondisi sosial ekonomi, gizi ibu saat hamil, kesakitan pada bayi, dan kurangnya asupan gizi pada bayi.

Disebutkan stunting terjadi mulai dari pra-konsepsi ketika seorang remaja menjadi ibu yang kurang gizi dan anemia. Menjadi parah ketika hamil dengan asupan gizi yang tidak mencukupi kebutuhan.

Ditambah lagi ketika ibu hidup di lingkungan dengan sanitasi kurang memadai. Remaja putri di Indonesia usia 15-19 tahun, kondisinya berisiko kurang energi kronik (KEK) sebesar 46,6% tahun 2013. Ketika hamil, ada 24,2% wanita usia subur (WUS) 15-49 tahun dengan risiko KEK dan anemia sebesar 37,1%.

Rentetan Masalah Stunting

Stunting

Ilustrasi anak ukur tinggi badan (Freepik)

Kondisi itu diperparah dengan asupan makanan ibu hamil pada umumnya defisit energi dan protein. Rentetan awal masalah stunting itu disertai dengan ibu hamil yang pada umumnya juga pendek (< 150 cm) yang proporsinya 31,3%.

Kondisi ini berdampak pada bayi yang dilahirkan mengalami kurang gizi, dengan berat badan lahir rendah < 2.500 gram dan juga panjang badan yang kurang dari 48 cm.

”Jika digabung anak yang lahir dengan berat badan < 2.500 gram dan panjang badan < 48 cm, untuk Indonesia ada sekitar 4,3% . Ini bervariasi dari 0,8% di Maluku dan 7,6% di Papua,” tulis Kemenkes.

Setelah bayi lahir dengan kondisi tersebut, dilanjutkan dengan kondisi rendahnya inisiasi menyusu dini (IMD) yang memicu rendahnya pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif sampai dengan 6 bulan.

Ditambah lagi dengan tidak memadainya pemberian makanan pendamping ASI (MPASI). Dari berbagai survei nasional bayi yang menyusui eksklusif belum sampai 50%.

”Tidak heran jika angka stunting di Indonesia tidak berubah dan cenderung meningkat. Terjadi gagal tumbuh [growth faltering] mulai bayi berusia 2 bulan adalah dampak dari calon ibu hamil [remaja putri] yang sudah bermasalah. Dilanjutkan dengan ibu hamil yang juga bermasalah. Hal ini sangat terkait oleh banyak faktor, utamanya secara kronis karena asupan gizi yang tidak memadai dan kemungkinan rentan terhadap infeksi, sehingga sering sakit,” sebut Kemenkes.

Salah satu strategi utama pencegahan stunting adalah pentingnya memberi ASI eksklusif kepada bayi sampai 6 bulan. Setelah itu pemberian MPASI untuk pemenuhan gizi bayi.

WHO/UNICEF dalam ketentuannya mengharuskan bayi usia 6-23 bulan dapat MPASI minimal 4 atau lebih dari 7 jenis makanan (serealia/umbi-umbian, kacang-kacangan, produk olahan susu, telur, sumber protein lainnya, sayur dan buah kaya vitamin A, sayur dan buah lainnya).

Jadi masalah stunting pada anak balita tidak muncul tiba-tiba, namun ada serangkaian kondisi atau masalah bahkan sejak calon ibu (remaja putri). Ini menjadi tangangan besar agar stunting pada balita bisa ditekan jumlahnya.

Ditulis oleh : Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.