Misteri Hewan Liar hingga Susutnya Hutan di Balik Kematian Ratusan Ternak

Puluhan ekor kambing di Wonogiri mati mengenaskan diduga karena terkaman hewan liar. Perut dan leher kambing jenis gembel (berbulu putih) atau domba.

JEDA.ID--Puluhan ekor kambing di Wonogiri mati mengenaskan diduga karena terkaman hewan liar. Perut dan leher kambing jenis gembel (berbulu putih) atau domba itu tercabik-cabik. Kejadian tersebut kali pertama diketahui pada Sabtu (8/2/2020) pagi. Hingga Senin (10/2/2020) pagi masih ditemukan kambing yang mati dengan kondisi serupa.

Tragedi mengenaskan juga terjadi di Desa Wonorejo, Kecamatan Jatiyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah (Jateng), Rabu (21/11/2018) malam. Sebanyak 18 ekor kambing di desa tersebut tewas dengan luka yang tampak seperti bekas terkaman hewan buas.

Beberapa waktu lalu, puluhan kambing juga mati secara misterius di Desa Playen, Kecamatan Playen, Gunungkidul, DIY. Seperti di Jawa Tengah, diduga kematian hewan-hewan ini akibat serangan hewan liar. Puluhan ekor kambing milik sejumlah warga Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Pacitan, juga mati dengan cara misterius. Diduga puluhan kambing ini diserang hewan buas.

Dari rentetan kejadian di sejumlah wilayah tersebut, ada kesamaan dugaaan penyebabnya adalah ulah atau serangan hewan liar. Namun demikian hingga kini, belum ada hewan liar yang tertangkap atau diketahui secara pasti jenisnya. Hanya, ada warga yang menyebut anjing liar atau biasa disebut sebagai ajak mungkin sebagai hewan yang menyerang hewan-hewan ternak tersebut hingga mati mengenaskan.

Ajak Berbeda dengan Serigala

Menurut Wikipedia, ajak atau ajag (Cuon alpinus) adalah anjing hutan yang hidup di Asia, terutama di wilayah selatan dan timur. Ajak tidak sama dengan serigala. Ajak merupakan anjing asli Nusantara, terdapat di pulau Sumatra dan Jawa, mendiami terutama kawasan pegunungan dan hutan. Anjing kampung dan yang lainnya yang biasa dijadikan peliharaan di Indonesia, sebenarnya merupakan anjing impor yang berasal dari daerah lain. Ajak berperawakan sedang, berwarna cokelat kemerahan.

Di bagian bawah dagu, leher, hingga ujung perut berwarna putih, sedangkan ekornya tebal kehitaman. Ajak biasa hidup bergerombol dalam lima hingga dua belas ekor, tergantung lingkungannya. Namun, pada keadaan tertentu, ajak dapat hidup soliter (menyendiri), seperti yang ditemukan di Taman Nasional Gunung Leuser dan Taman Nasional Bromo (Pasuruan)

Luas Hutan Menyusut

Bila memang kematian kambing ternak warga tersebut karena ulah serangan hewan liar, ada kemungkinan mereka sedang kelaparan karena menipisnya cadangan makanan di habitatnya. Kebakaran hutan dan penebangan hutan sering memaksa hewan-hewan turun gunung mencari makanan.

Seperti yang terjadi belum lama ini di Boyolali. Puluhan ekor hewan liar menyerang lahan pertanian di lereng kawasan Gunung Merbabu. Beberapa hewan liar yang turun ke lahan warga karena kebakaran lahan di lereng Merbabu. Lahan pertanian warga hingga kini masih menjadi sasaran empuk puluhan hewan liar yang turun gunung untuk mencari makanan.

Berdasarkan Data Balai Pemantapan Kawasan Hutan [BPKH] Wilayah XI tahun 2012, disebutkan bahwa luasan hutan Jawa-Madura sekitar 3,3 juta hektare. Perinciannya, 768.000 hektare hutan konservasi, 735.000 hutan lindung, serta 1.8 juta hektare hutan produksi.

Berdasarkan penghitungan ulang Direktorat Jenderal Pengendalian Daerah Aliran Sungai [DAS] dan Hutan Lindung pada 2016, luas total kawasan hutan lindung di Pulau Jawa sekitar 698.368,56 hektare. Kawasan yang telah ditetapkan sebagai hutan lindung itu diragukan dalam wujud hutan belantara. Bahkan sebagian di antaranya cenderung diratakan oleh traktor yang kemudian diubah menjadi kawasan non-hutan seperti pertanian, perkebunan serta permukiman.

Terancam Punah

Pada 2000 luas tutupan hutan di Jawa diperkirakan sekitar 2,2 juta hektare. Namun, berdasarkan catatan Forest Watch Indonesia [FWI], pada 2009, luas tutupannya hanya menyisakan 800.000 hektare. Dalam rentang waktu sembilan tahun [2000-2009] tutupan hutan di Jawa telah berkurang sekitar 60 persen.

Kondisi ini merupakan alarm. Hutan sangat dibutuhkan bagi kehidupan manusia dan seluruh makhluk hidup, sebagai penyangga ekosistem, penyedia air, pengaturan iklim serta pelindung terhadap bencana alam. Berkurangnya luas kawasan hutan merupakan konsekuensi yang tidak dapat dihindari. Mengingat, kepadatan penduduk Indonesia sebesar 60 persen berada di Pulau Jawa.

Posisi hutan kian terdesak ditengah laju pengembangan sejumlah mega proyek insfraktruktur sebagi dampak pengembangan Koridor Ekonomi Jawa dalam Kerangka Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia [MP3EI] 2011-2025.

Hutan yang rusak tidak hanya mengganggu keseimbangan ekosistem, yang berdampak pada kehidupan manusia, tetapi juga kehidupan satwa. Ada elang jawa [Nisaetus bartelsi] yang identik dengan lambang Indonesia, yang harus diperhatikan habitatnya. Begitu juga dengan kukang jawa, owa jawa, dan lutung jawa yang nasibnya tidak boleh diabaikan.

Hilangnya keanekaragaman hayati, cenderung mengurangi produktivitas maupun ketahanan ekosistem hutan secara keseluruhan. Sederhananya, menurunnya populasi satwa sejalan dengan tingginya laju desforestasi. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan [KLHK] telah menargetkan peningkatan 10 persen terhadap 25 spesies satwa terancam punah dalam kurun waktu 2015-2019. Perlu langkah-langkah tegas untuk melindungi hutan agar ekosistem tetap terjaga.

Ditulis oleh : Anik Sulistyawati

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.