Melacak Asal Usul Etnis Uighur

Banyak nasionalis Turki menganggap orang Uighur sebagai bagian dari keluarga besar etnis Turki yang tersebar di seluruh Eurasia.

JEDA.ID – Etnis Uighur sedang menjadi perhatian publik Tanah Air menyusul kabar tak sedap soal perlakukan pemerintah China di kamp konsetrasi Xinjiang. Isu ini sebenarnya telah berlangsung lama dan berlarut-larut.

Mengutis History.com, Rabu (18/12/2019) Warga Uighur adalah kelompok etnis minoritas yang sebagian besar beragama Islam, dan terutama berbasis di wilayah Xinjiang, di barat laut China.

Mereka cenderung memiliki lebih banyak kesamaan budaya dengan orang-orang di negara-negara Asia Tengah dibandingkan etnis Han di China. Bahasa mereka terkait dengan bahasa Turki dan juga memiliki kesamaan dengan bahasa Uzbek, Mongol, Kazakh, dan Kyrgyz.

Islam adalah bagian penting dari identitas mereka. Sebagian besar mempraktekkan bentuk moderat dari ajaran Sunni, dan beberapa meneladani aliran Sufi. Lebih dari itu, orang Uighur cenderung memiliki lebih banyak ciri fisik Mediterania dibandingkan karakteristik Han China.

Sensus penduduk China pada 2010 menempatkan jumlah penduduk Uighur, berada lebih dari 10 juta jiwa, yakni kurang dari 1 persen dari total populasi Negeri Tirai Bambu. Meski begitu, mereka adalah kelompok etnis terbesar di wilayah otonomi Xinjiang.

Sebagian besar etnis Uighur tinggal di wilayah otonomi Xinjiang, yang merupakan wilayah terluas di China.

Xinjiang secara strategis penting bagi China, karena berbatasan dengan delapan negara, yakni Mongolia, Rusia, Kazakhstan, Kyrgyzstan, Tajikistan, Afghanistan, Pakistan, dan India.

Hingga saat ini, penduduk Xinjiang didominasi oleh orang Uighur, tetapi masuknya etnis Han ke wilayah itu, kian memicu ketegangan di antara kedua kelompok.

Asal-Usul

Dilansir dari laman rfa.org, nama Uighur pertama kali muncul dalam prasasti Orkhun Kok Turk. Uighur termaktub dalam sebuah naskah pada abad pertengahan serta dalam manuskrip Arab-Persia.

Uighur dan leluhur mereka adalah orang-orang kuno yang telah tinggal di Asia Tengah sejak milenium pertama sebelum Masehi. Wilayah ini sangat strategis karena terletak di jalur perdagangan kuno antara Timur dan Barat. Uighur menghubungkan peradaban Yunani-Romawi dengan budaya Budha India dan tradisi Asia Tengah dan Timur.

Perdagangan dan pertukaran budaya membentuk karakter masyarakat Uighur yang kosmopolitan. Hal ini ditandai dengan toleransi hidup dengan lain suku, ras, dan agama.

Caroline Humphrey dan David Sneath dalam naskah tulisannya The End of Nomadism? Society, State, and the Environment in Inner Asia (1999) menjelaskan ketika Kekaisaran Gokturk Turk di Asia Tengah runtuh pada 742 M, suku Uighur merdeka. Raja atau Khan mereka, Qutlugh Bilge Kol, mendirikan kekaisaran yang lebih kecil di tempat yang kini menjadi Mongolia dan Tiongkok Barat.

Kekaisaran ini disebut Kekhaganan Uighur dan menguasai ujung timur Jalur Sutra. Putranya, Bayanchur Khan, naik tahta pada 747 M. Bayanchur Khan meningkatkan perdagangan dengan Tiongkok, dan menggunakan uangnya untuk membangun kota-kota serta memperluas Kekaisaran Uighur.

Beberapa tahun kemudian, pada 755 M, kaisar Dinasti Tang Tiongkok, Suzong, meminta bantuan Uighur untuk melawan jenderal pemberontak, orang Sogdiana bernama An Lu-shan.

Uighur berhasil menang sehingga sejak itu Tiongkok tak lagi menyewa orang Sogdiana sebagai pasukan bayaran, mereka beralih kepada orang Uighur. Bayanchur Khan sendiri kemudian menikahi putri Kaisar Suzong, Ningo, namun Bayanchur Khan meninggal dua tahun kemudian

Putra Bayanchur Khan, Tengri Bogu, naik tahta menggantikannya. Tengri Bogu dan pasukan Uighurnya terus bertugas sebagai pasukan bayaran untuk para kaisar Tiongkok.

Mereka memerangi serbuan Tibet di Tiongkok selatan. Ketika sedang bertempur, Tengri Bogu bertemu beberapa orang Kristen Manichaea dari Persia. Kemungkinan orang-orang Manichaea ini merupakan para pegungsi yang meninggalkan Persia setelah penaklukan Islam di sana.

Akar Konflik Muslim Uighur di Xinjiang China

Perpecahan

Sang Khan menyukai gagasan Manichea, untuk menunjukkan bahwa ia bukanlah orang Tionghoa. Maka iapun memeluk Manichaeisme pada 762 M, dan diikuti oleh rakyatnya.

Setelah itu para Khan juga mengadopsi alfabet Persia, sehingga cerita-cerita dan sajak Uighur ditulis dalam alfabet Persia. Para penulis Uighur mencetak buku menggunakan mesin cetak yang telah ditemukan di Tiongkok.

Lukisan bangsa Uighur di Museum Berlin, Jerman (Mei 2006). (Istimewa/Wikipedia)

Lukisan bangsa Uighur di Museum Berlin, Jerman (Mei 2006). (Istimewa/Wikipedia)

Tapi sekitar tahun 600 M, Kekaisaran Uighur mulai terpecah. Terjadi banyak perang saudara akibat perebutan kekuasaan. Pada 841 M, Dinasti Tang menyewa pasukan Kirgiz untuk menyerbu Kekaisaran Uighur.

Pasukan Kyrgyz membunuh Khan Uighur terakhir, Oge, dan mengakhiri kekaisaran tersebut. Sebagian orang Uighur melarikan diri ke barat dan mendirikan kerajaan-kerajaan kecil.

Beberapa lainnya pergi ke timur, ke Tiongkok. Di sana, kehadiran mereka tampaknya membuat kaisar Tang, Wuzong, ketakutan, hingga pada 845 M, ia memerintahkan seluruh pemeluk agama asing, termasuk para pengungsi Uighur, untuk dipaksa berpindah agama atau dibunuh.

Dilansir dari laman blogs.wsj.com, banyak nasionalis Turki menganggap orang Uighur sebagai bagian dari keluarga besar etnis Turki yang tersebar di seluruh Eurasia. Mereka pun turut meminta pemerintah Turki untuk melindungi mereka.

Pada 1965, Turki menawarkan tempat perlindungan bagi sekelompok sekitar 200 orang Tionghoa Cina yang melarikan diri dengan berjalan kaki ke Afghanistan. Otoritas Turki mengantar mereka keluar dari Kabul dan menempatkan mereka di sebagian besar Kota Kayseri di Turki tengah, di mana banyak yang masih hidup hingga hari ini.

5 Wanita Keturunan Uighur yang Cantik Kebangetan

Ditulis oleh : Jafar Sodiq Assegaf

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.