Konsumsi Tiap Hari Seperti Nunung, Ini Efek Sabu bagi Tubuh

Pengguna sabu bisa mengalami kerusakan otak, termasuk melemahnya daya ingat dan meningkatnya ketidakmampuan untuk memahami pemikiran abstrak.

JEDA.ID–Pelawak Srimulat Tri Retno Prayudati alias Nunung diketahui mengonsumsi narkotika jenis sabu-sabu setiap hari. Efek sabu sangat berbahaya bagi tubuh apalagi dikonsumsi tiap hari.

”NN [Nunung] menggunakan sabu setiap hari. Menggunakan sabu karena tuntutan pekerjaan, karena umurnya juga. Akhirnya menggunakan sabu untuk daya tahan tubuh juga,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Komisiaris Besar Polisi Argo Yuwono di Polda Metro Jaya, Senin (22/7/2019), sebagaimana dikutip dari Suara.com.

Sebagaimana dikutip dari Yayasan untuk Dunia Bebas Narkoba, sabu yang memiliki kandungan metamfetamin biasanya menghasilkan perasaan nyaman dan energi semu.

Efek sabu yang terasa adalah pemakai akan cenderung memaksakan dirinya untuk melakukan sesuatu dengan lebih cepat dan lebih jauh dari yang seharusnya. ”Jadi para pemakai dapat merasakan crash yang parah atau kehancuran secara fisik dan mental setelah efek obat memudar,” sebut yayasan itu.

Penggunaan narkoba ini dalam waktu lama mengurangi rasa lapar alami. Efek sabu bagi pengguna juga bisa berupa penurunan berat badan yang luar biasa. Efek sabu lainnya seperti pola tidur yang kacau, hiperaktif, rasa mual, delusi kekuasaan, lebih agresif, dan sifat lekas marah.

Efek-efek lain yang mengkhawatirkan insomnia, kebingungan, halusinasi, kecemasan, paranoid, dan lebih agresif. Dalam beberapa kasus, pengguna mengalami konvulsi yang dapat berakibat kematian.

Efek sabu lebih berbahaya bila digunakan dalam jangka panjang. Penggunaan sabu menyebabkan kerusakan yang permanen. ”Peningkatan denyut jantung dan tekanan darah, kerusakan pembuluh darah di otak yang dapat menyebabkan stroke atau detak jantung yang tidak teratur yang berakibat kerusakan kardiovaskular atau kematian, dan kerusakan pada liver, ginjal dan paru-paru.”

Para pengguna bisa mengalami kerusakan otak, termasuk melemahnya daya ingat dan meningkatnya ketidakmampuan untuk memahami pemikiran abstrak. Yang sembuh biasanya mengalami ingatan kosong dan ayunan suasana hati yang berlebihan.

Suhu Tubuh Naik

Dilansir dari WebMD, narkotika yang juga dikenal dengan sebutan crystal meth ini dapat membuat suhu tubuh pengguna naik begitu tinggi.

”Pengguna sabu juga memiliki risiko lebih tinggi untuk terkena HIV / AIDS. Obat dapat memengaruhi penilaian dan mengurangi pengendalian diri. Seseorang yang berada di bawah pengaruh obat ini lebih mungkin terlibat dalam perilaku berisiko, seperti seks yang tidak aman,” sebagaimana dikutip dari laman Bisnis.com.

Tanda-tanda atau ciri orang menggunakan sabu, antara lain tidak peduli dengan penampilan diri, kehilangan nafsu makan dan penurunan berat badan, pupil mata melebar dan gerakan mata cepat, tingkah laku berlebihan dan berbicara terus menerus.

Pengguna juga memiliki perubahan suasana hati yang tinggi sehingga ketika marah bisa meledak-ledak. Pola tidurnya juga aneh, bisa begadang selama berhari-hari atau bahkan berpekan-pekan.

Badan Narkotika Nasional (BNN) menyatakan pengguna sabu di Indonesia tergolong memprihatinkan. Berdasarkan data BNN, jumlah pemakai narkoba di Indonesia mencapai 3,5 juta orang pada 2017 lalu.

BNN di laman bnn.go.id menyebutkan ada beberapa gejala orang yang sakau sabu. Tanda yang bisa dilihat seperti nafsu makan meningkat, mudah marah, tidur lama, halusinasi, pernapasan tidak teratur, bicara gagap, hingga kulit pucat.

Bila ada orang yang sakau sabu, BNN menyampaikan beberapa langkah seperti menyiapkan air panas dalam botol dan meletakkan di ruang yang tenang.

Fungsi dari air panas ini untuk menghilangkan sakit perut pada pengguna. Caranya botol berisi air panas itu bisa diletakkan pada bagian perut pengguna sehingga kondisi orang ini akan merasa lebih baik.

”Sebaiknya kita tidak langsung memberikan obat-obatan untuk menghilangkan rasa sakit. Sebaiknya kita menunggu instruksi dari dokter mengenai obat yang tepat diberikan pkepada orang yang tengah sakau ini. Hindari memberi minuman bersoda atau pun berkafein. Sebab dikhawatirkan dapat membuat kondisi pasien itu bertambah buruk,” sebut BNN.

Ditulis oleh : Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.