Jerat Konsumerisme di Balik Pro Kontra Perayaan Hari Valentine

JEDA.ID – Setiap 14 Februari, berbagai belahan dunia sibuk merayakan hari kasih sayang atau Valentine’s Day. Dirunut dari sejarah, sebenarnya Valentine merupakan kisah tragis.

Kisah bermuara tentang seorang pendeta dari Roma bernama Valentine. Legenda ini menceritakan Valentine dipukuli dan berakhir dipancung pada 14 Februari 278 Masehi. Bentuk eksekusi ini merupakan sebuah hukuman karena pendeta Valentine dianggap menentang kebijakan seorang Kaisar bernama Claudius II.

Penguasa Roma ini dikenal kejam, Dia ingin Roma selalu menang dalam peperangan. Sehingga sang Kaisar ingin memiliki tentara yang kuat. Namun hal tersebut ternyata sulit untuk diwujudkan, karena menurut sang Kaisar bala tentaranya enggan pergi ke medan perang karena terikat pada istri atau kekasih mereka. Untuk mengatasinya Claudius II melarang semua bentuk pernikahan serta pertunangan yang ada pada Roma.

Pendeta Valentine pun menentang kebijakan tersebut. Dia berusaha secara diam-diam menikahkan pasangan muda. Tindakan ini ketahuan dan pada akhirnya pendeta Valentine ditahan serta dihukum. Hukuman ini menjadikan sebuah tanda sebagai peringatan atau perayaan yang dilakukan setiap tanggal 14 Februari.

Pro Krontra

Sebagai negara yang mayoritas penduduknya muslim, seringkali menolak mentah-mentah perayaan Valentine. Seperti yang dilakukan Bupati Aceh Besar, Mawardi Ali debngan mengeluarkan imbauan terkait larangan perayaan Valentine di wilayah Aceh Besar pada 14 Februari 2020. Alasannya karena hal itu tidak sesuai dengan syariat Islam dan juga tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya bangsa Indonesia.

Dinas Pendidikan Kota Bandung juga meminta para kepala sekolah seluruh SD dan SMP se-Kota Bandung untuk melarang peserta didiknya merayakan Hari Kasih Sayang atau Valentine Day yang jatuh pada 14 Februari mendatang.

Hal tersebut tertuang dalam Surat Edaran Dinas Pendidikan Kota Bandung dengan nomor 420/1014Disdik. Dalam surat tersebut tertulis bahwa perayaan hari Valentine adalah hal yang “bertentangan dengan norma sosial dan budaya Indonesia”. Oleh karenanya, pihak Disdik Kota Bandung meminta agar setiap siswa SD dan SMP Kota Bandung tidak turut merayakan hari tersebut baik di dalam maupun luar sekolah.

Adanya ketakutan terkait dampak yang dituai dari perayaan Valentine, membuat sejumlah pihak mengimbau agar masyarakat Indonesia untuk tidak ikut merayakan Valentine.

Pergaulan Bebas

Remaja atau anak muda yang masih dalam keadaan labil dikhawatirkan akan menyalah artikan makna Valentine ke dalam perilaku buruk ketika merayakannya bersama kekasih. Sehingga dikhawatirkan mereka akan terjerat dalam seks bebas hingga pesta minuman keras

Terlepas dari adanya pengaruh atau tidak momentum itu pada perilaku remaja, yang jelas saat ini masalah pergaulan bebas di kalangan anak muda sudah sangat memprihatinkan. Data dari Badan Kependudukan dan Keluarga Nasional (BKKBN), menyebutkan 48 dari 1000 remaja di Indonesia mengalami kehamilan di luar nikah.

Yang lebih miris, Komnas Perempuan mengatakan pengaduan kasus kekerasan dalam pacaran ke institusi pemerintah pada 2018 tercatat 1750 dari 2073 kasus.

 Banjir Promosi

Munculnya beragam penolakan Valentine’s Day, tampaknya tak menyurutkan kalangan pebisnis memanfaatkan peluang. Momentum Valentine’s justru menjadi salah satu cara menaikkan omzet. Mulai dari l cokelat, bunga, pernak-pernak, rumah makan hingga hotel menawarkan paket spesial berlabel promo Valentine’s Day.

Tak sedikit pedagang atau pebisnis yang mengaku mendapat omzet lebih saat momentum Valentine.  Di negara maju seperti Amerika Serikat, nilai belanja dalam perayaan Valentine tahun ini diperkirakan bernilai USD19,7 miliar. Hampir setara Rp260 triliun dengan kurs dollar saat tulisan ini dibuat.

Beberapa pernak-pernik paling populer di antaranya permen (cokelat), bunga, kartu ucapan, biaya makan malam di luar, atau baju baru. Kegiatan makan malam di restoran atau nonton bioskop, diduga akan paling banyak menyedot jatah belanja. Pengeluaran terbesar kedua ditaksir dalam hal belanja perhiasan.

Seperti dilansir dari lokadata, kartu ucapan mungkin menjadi pernak-pernik yang nilai belanjanya paling kecil di AS, karena harga satuannya relatif lebih murah–dibanding perhiasan, misalnya. Tapi animo untuk membeli kartu ucapan Hari Valentine, masih termasuk yang paling tinggi.

Pria, menjadi yang terboros saat Valentine di AS. Hasil survei National Retail Federation pada Januari 2016 menyatakan, para pria rela membelanjakan rata-rata USD196,39 untuk membiayai perayaan Valentine. Adapun kaum hawa tak merogoh koceknya sedalam itu. Nilai belanjanya rata-rata setengah kaum pria, USD99,87.

Belanja atas nama kasih sayang pada 2016 di AS jauh lebih tinggi dari angka rata-rata per tahun yang mencapai USD13,9 miliar. Perkiraan itupun masih lebih tinggi dari belanja tahun lalu, USD18,9 miliar. Hari Valentine 2015, menjadi hari raya terbesar keempat di AS berdasarkan jumlah uang yang dibelanjakan. (Bunga Oktavia)

Ditulis oleh :

Menarik Juga

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.