Beragam Jenis Terapi untuk Autisme Menurut Saran Ahli

Terapi autisme sebaiknya dilakukan sejak dini agar masalah pada anak dapat segera ditangani dan bisa menjalani kehidupan lebih baik.

JEDA.ID– Terapi autisme sebaiknya dilakukan sejak dini agar masalah pada anak dapat segera ditangani dan bisa menjalani kehidupan lebih baik. Itu pula yang dilakukan aktris cantik Dian Sastrowardoyo.

Selebritas papan atas itu mengungkapkan kepada publik mengenai kondisi anak pertamanya yang terdiagnosis autisme. Seperti dilansir Antaranews, Dian dalam konferensi pers Pameran Anak Spesial (SPEKIX) 2019 di Jakarta, belum lama ini mengungkap saat dia menyadari ada hal yang berbeda pada diri anaknya.

Dian semakin menyadari putranya berbeda dengan anak-anak lain ketika sang anak masuk pra-sekolah. Alumnus Fakultas Sastra dan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) itu lantas mengajak putranya itu ke tiga dokter untuk menjalani pemeriksaan demi mengetahui tanda-tanda autisme. Dia juga membawa Syailendra ke para ahli untuk menjalani terapi, seperti okupasi, perilaku, dan bicara. Dia juga melatih anaknya melakukan kontak mata dan berkomunikasi.

Saat berusia enam tahun, putra Dian Sastro tidak memerlukan terapi lagi. Ketika masuk usia delapan tahun, Syailendra kemampuan sosialnya sudah meningkat. Dian mengaku terbuka soal kondisi anaknya itu, meski demikian secara publik dia baru mengakuinya karena diminta untuk berbagi pengalaman.

Tiga Hal

Autisme adalah gangguan perkembangan interaksi sosial, komunikasi, serta gerakan berulang. Autisme memang bukan hal asing bagi masyarakat. Namun mungkin masih banyak yang belum tahu tentang apa yang harus dilakukan bila mengetahui anak mengidap autis.  Dengan perawatan dan terapi autisme yang tepat, anak atau orang dewasa yang punya autisme bisa menggunakan semua keterampilan dan kemampuannya untuk menjalani hidup lebih baik.

Menurut Ketua Masyarakat Peduli Autis Indonesia (MPATI) Gayatri Pamoedji, jika anak terdiagnosa autisme, segera lakukan penanganan dengan memberikan setidaknya terapi yang mencakup tiga hal yakni perilaku, bicara dan okupasi,

1. Terapi Perilaku

Seperti dilansir hellosehat, terapi manajemen perilaku mengutamakan dukungan positif, latihan keterampilan, dan bantuan diri sendiri untuk mengembangkan perilaku yang diinginkan sekaligus mengurangi perilaku yang tidak diinginkan. Pendekatan perawatan yang diterima secara umum kepada orang dengan autisme disebut dengan analisis perilaku terapan (ABA). ABA memiliki beberapa jenis, yang dapat meliputi:

-Perilaku dan dukungan positif (PBS)

PBS membantu menentukan mengapa seseorang memiliki masalah perilaku. Terapi ini mencoba untuk mengubah lingkungan, mengajarkan keterampilan baru pada pengidap autisme, dan membuat perubahan lainnya untuk mendukungnya berperilaku dengan benar.

-Intervensi perilaku intensif dini (EIBI)

EIBI ditujukan untuk anak usia dini (biasanya di bawah usia 5 tahun). Terapi ini membutuhkan instruksi satu orang-ke-orang lainnya atau dalam kelompok kecil.

-Pelatihan tanggapan vital (PRT)

PRT berlangsung dalam kehidupan sehari-hari si penderita untuk meningkatkan motivasi belajar, mengendalikan perilakunya sendiri, dan mengambil inisiatif untuk memulai komunikasi dengan orang lain. Perubahan dalam perilaku-perilaku ini bisa membantu penderita mengatasi situasi lainnya.

-Pelatihan percobaan diskrit (DTT)

DTT adalah jenis pengajaran yang menggunakan cara langkah demi langkah. Pelajaran dibagi menjadi beberapa bagian dan guru menggunakan umpan balik positif untuk memberi penghargaan atas perilaku positif dan jawaban.

-Terapi perilaku kognitif (CBT)

Terapi perilaku kognitif atau CBT menggunakan kaitan antara perasaan, pikiran dan perilaku untuk membantu penderita autisme mengatasi kecemasan, menghadapi situasi sosial dan menyadari emosinya dengan lebih baik.

Dalam terapi ini, dokter, penderita autisme, dan orang tuanya (atau pengasuhnya) bekerja bersama untuk menetapkan tujuan yang spesifik. Penderita akan belajar menentukan dan mengubah pemikiran yang menyebabkan perilaku dan perasaan yang bermasalah secara perlahan-lahan. Terapi perilaku kognitif dapat disesuaikan dengan kelemahan dan kekuatan masing-masing orang sehingga lamanya waktu terapi akan menyesuaikan pula.

2. Terapi wicara

Terapi wicara bertujuan untuk meningkatkan ketrampilan berkomunikasi penderita autisme. Beberapa orang memiliki masalah dengan ketrampilan komunikasi verbal seperti berbicara atau memahami apa yang orang lain katakan.

Terapi wicara akan membantu mereka dalam memberikan penjelasan yang lebih baik atas pemikiran dan perasaan mereka, menggunakan kata-kata dan kalimat yang tepat, atau memperbaiki ritme berbicara mereka. Kemampuan berkomunikasi secara nonverbal juga akan dilatih. Misalnya kemampuan mengartikan gerak-gerik tubuh, mengenal berbagai ekspresi wajah, dan sebagainya.

3. Terapi okupasi

Terapi okupasi bertujuan untuk membantu penderita autisme menyelesaikan tugas sehari-harinya. Mereka akan belajar untuk mengatasi masalah dalam kehidupan dan memaksimakan kemampuan mereka, serta kebutuhan dan minat mereka. Misalnya, penderita autisme akan diajarkan bagaimana cara menggunakan sendok atau cara berpakaian.

Ditulis oleh : Anik Sulistyawati

Menarik Juga

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.