Benarkah Polusi Udara Bikin Orang Jadi Gemuk?

Di DKI Jakarta yang selama ini kerap disebut sebagai salah satu kota dengan polusi udara tertinggi, penduduk dewasanya yang mengalami obesitas mencapai 41%.

JEDA.ID–Polusi udara selama ini menjadi sorotan utamanya di kota-kota besar karena membahayakan bagi kesehatan. Penelitian terbaru menyebutkan polusi punya korelasi dengan kegemukan.

Studi terbaru ini dipubllikasikan di Journal of the Federation of American Societies for Experimental Biology. Sebagaimana dikutip dari Detikcom, Kamis (14/11/2019), yang melansir dari Times of India menyebut polusi udara dapat berdampak pada bobot tubuh manusia.

Para peneliti melakukan studi ini pada tikus percobaan. Para peneliti mengekspos sekelompok tikus hamil dan anak-anaknya pada area yang sangat berpolusi selama beberapa pekan. Sementara sekelompok tikus lainnya menghirup udara segar dan bersih.

”Setelah 19 hari ditemukan bahwa tikus yang terpapar polusi udara menghadapi masalah paru-paru mereka meradang, kadar kolesterol LDL melonjak hingga 50 persen, kadar resistensi insulin juga melonjak,” tulis studi tersebut.

Tikus yang terpapar polusi ekstrem juga mengalami kenaikan berat badan seusai delapan pekan, meski kedua kelompok ini diberi makanan yang sama. Kenaikan bobot dipercaya disebabkan oleh adanya inflamasi dalam tubuh.

Walau studi ini dilakukan pada tikus, dampak buruk polusi udara pada kesehatan manusia tidak dapat dielakkan lagi. Hasil studi ini bisa menjadi alasan agar bisa mengurangi paparan polusi udara, misalnya dengan menggunakan masker saat keluar rumah dan membeli air purifier untuk di rumah.

Lalu benarkan polusi punya korelasi dengan kegemukan? Memang belum ada penelitian secara langsung mengenai hal itu, namun penelitian tentang berat badan dan obesitas yang dilakukan Kementerian Kesehatan pada 2018 bisa memberi gambaran.

Dalam Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 disebutkan orang yang mengalami berat badan lebih dan obesitas lebih banyak di perkotaan dibandingkan perdesaan. Selama ini polusi udara selalu dikaitkan dengan perkotaan. Polusi berasal dari pabrik, kendaraaan bermotor, dan lainnya.

Dalam Riskesdas 2018 disebutkan prevalensi status gizi berdasarkan kategori indeks massa tubuh (IMT) pada penduduk dewasa di perkotaan adalah 25,1% mengalami obesitas dan 14,6% mengalami berat badan lebih.

Obesitas di Jakarta Tinggi

Ilustrasi orang gemuk

Ilustrasi orang gemuk (Freepik)

Di perdesaan angkanya lebih kecil yuitu 17,8% mengalami obesitas dan 12,2%. Di DKI Jakarta yang selama ini kerap disebut sebagai salah satu kota dengan polusi udara tertinggi, penduduk dewasa yang memiliki berat badan lebih dan obesitas tergolong tinggi.

Dengan menggunakan skema IMT itu, tercatat 29,8% penduduk dewasa di Jakarta mengalami obesitas. Kemudian ada 15,6% yang mengalami berat badan lebih. Obesitas di Jakarta ini ada di urutan kedua di Indonesia di bawah Sulawesi Utara yaitu 30,2%.

Bila dihitung dengan obesitas sentral, DKI Jakarta berada di urutan penduduk dewasa yang mengalami obesitas sentral. Obesitas sentral diukur yaitu untuk laki-laki lingkar perut di atas 90 sentimeter (cm) dan perempuan di atas 80 cm.

Dengan standar itu disebutkan 41,9% penduduk dewasa di Jakarta mengalami obesitas sentral. Dengan standar ini pula, penduduk perkotaan lebik banyak yang kegemukan yaitu 35,1%. Sedangkan penduduk perdesaan hanya sekitar 25,9%.

Data Kemenkes itu bisa menjadi gambaran awal bila polusi udara dikaitkan dengan kegemukan yang dialami manusia.

Ditulis oleh : Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.