Klitih Geng Pelajar yang Menjelma Kriminalitas Jalanan

Tindak kriminal di Sleman baru-baru ini selain membawa keprihatinan, juga membuat publik penasaran dan bingung bertanya-tanya apa itu kejahatan klitih?

JEDA.ID – Fenomena tindak kriminal jalanan di Sleman, DIY, selain membawa keprihatinan juga membuat publik penasaran. Banyak yang bingung dan masih bertanya-tanya apa itu kejahatan klitih?

Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) darurat klitih sedang menjadi topik hangat di Twitter, Selasa (4/1/2020). Hal ini dipicu kejadian pengemudi ojek online atau driver ojol menjadi korban tindak kekerasan yang dinamai dengan istilah klitih.

Klitih atau serangan tanpa motif memang beberapa kali terjadi di DIY. Kali ini menimpa seorang driver ojol yang sedang berkendara di Kabupaten Sleman.

Dugaan aksi klitih itu dikabarkan terjadi di Jalan Kabupaten pada Sabtu (1/2/2020) sekitar pukul 04.30 WIB, seperti dikabarkan pengguna akun Eko Ndhut di Facebook.

Melalui unggahannya, Eko Ndhut menyertakan video korban terbaring di atas ranjang transfer pasien rumah sakit dalam kondisi lemah.

Minta doanya lur. Si gondrong driver Grab konco [teman] nongkrong di stasiun tadi jam setengah lima kena klitih di Jalan Kabupaten. Sekarang lagi dirawat di RS UGM. Kondisi parah bagian muka kena sabetan pedang, tetap waspada lur,” tulis dia.

Gara-gara kejadian ini jagat dunia maya, khususnya Twitter, langsung diramaikan oleh tanda pagar (tagar) #DIYdaruratklitih. Setidaknya ada lebih dari puluhan ribu twit dengan tagar #DIYdaruratklitih hingga Selasa (4/2/2020) sore.

Seberapa Efektif Hukuman Kebiri Kimia bagi Pelaku Kejahatan Seksual?

Istilah Klitih

Dalam Kamus Bahasa Jawa SA Mangunsuwito, kata klitih atau klithih tidak berdiri tunggal, tetapi merupakan kata ulang, yaitu klithah-klithih. Klithah-klithih itu dimaknai sebagai berjalan bolak-balik agak kebingungan. Sama sekali tidak ada unsur kegiatan negatif di sana.

Klithah-klithih tergolong dalam kategori dwilingga salin suara atau kata ulang berubah bunyi, seperti mondar-mandir dan pontang-panting.

Sederhanyanya Klitih bermakna suatu aktivitas mencari angin di luar rumah atau keluyuran. Namun, dalam dunia kekerasan remaja Yogya, pemaknaan klitih kemudian berkembang sebagai aksi kekerasan dengan senjata tajam atau tindak-tanduk kriminal anak di bawah umur di luar kelaziman.

Ada pula yang menyebut klitih merupakan istilah yang merujuk kepada Pasar Klitikan Yogya. Dulu, artinya adalah melakukan aktivitas yang tidak jelas dan bersifat santai sambil mencari barang bekas dan Klitikan. Sementara istilah Nglitih digunakan untuk menggambarkan kegiatan jalan-jalan santai.

Budaya kekerasan yang dilakukan oleh pelajar di Yogyakarta sudah ada sejak era 1980-an dan 1990-an. Kekerasan yang dilakukan pelajar pada masa itu dilakukan oleh dua geng besar yang legendaris, yaitu QZRUH dan JOXZIN.

QZRUH merupakan singkatan dari Q-ta Zuka Ribut Untuk Tawuran. Geng ini “menguasai” wilayah Yogyakarta bagian utara.

Sementara JOXZIN merupakan singkatan dari Joxo Zinthing atau Pojox Benzin (pojokan pom bensin alun-alun) atau Jogja Zindikat. Geng ini “menguasai” Malioboro hingga Yogyakarta bagian utara.

Satoshi Uematsu, Kriminal Terburuk Jepang Setelah Perang Dunia II

Geng Pelajar

Klitih ini dulunya adalah geng pelajar atau kelompok kriminal pelajar di Yogyakarta. Di dekade 1990-an kelompok ini menjadi semakin besar dan memiliki banyak pengikut.

Aparat telah berbuat banyak menangani kasus ini namun klitih seperti rumput liar yang tidak tuntas dibersihkan. Di masanya klitih tumbuh dan menjadi tren kejahatan yang tak hilang dari DIY.

Lebih lanjut, fenomena klitih di Yogyakarta juga dapat muncul ketika sebuah kelompok melakukan rekrutmen anggota baru. Saat itu, para anggota geng atau kelompok ingin unjuk diri atau menunjukkan eksistensinya dengan melakukan tindakan kekerasan.

Kasus klitih pada dasarnya merupakan fenomena anak muda di Yogyakarta yang ingin mencari jati diri atau pengakuan terutama dari lingkungan persahabatan mereka.

Untuk membuktikan itu, terkadang mereka membutuhkan barang bukti berupa barang milik geng pesaing atau setidaknya melakukan perundungan terhadap geng pesaing.

Mengutip Harianjogja, Selasa (4/2/2020), Klitih sempat redup sekitar tahun 2013, ketika kepolisian setempat mampu meredam aksi kekerasan yang dilakukan oleh kalangan pelajar ini hingga jauh berkurang.

Namun istilah ini kembali populer setelah tahun 2014, korban kembali berjatuhan akibat klitih. Korban tidak hanya sesama pelajar, tapi juga mahasiswa dan masyarakat umum.

Kejahatan Jalanan Mengintai, Bela Diri Ini Cocok bagi Perempuan

Ditulis oleh : Jafar Sodiq Assegaf

Menarik Juga

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.