4 Ciri-Ciri Orang Punya Sikap Moderat

Setidaknya ada empat tolok ukur yang bisa menjadi parameter sikap moderat. Empat hal itu bisa menjadi acuan dalam setiap perilaku.

JEDA.ID–Sikap keberagamaan yang moderat menjadi turunan moderasi beragama. Istilah moderasi beragama cukup populer dalam beberapa tahun terakhir. Sebenarnya seperti apa orang yang punya sikap moderat?

Sekretaris Jenderal Kementerian Agama M. Nur Kholis Setiawan menyebutkan setidaknya ada empat tolok ukur yang bisa menjadi parameter sikap moderat.

“Empat hal ini penting untuk diketahui bersama agar menjadi acuan dalam setiap langkah gerak kita,” kata dia sebagaimana dilansir dari laman jpp.go.id, Selasa (26/11/2019).

Sikap Terbuka

Sikap terbuka menjadi ciri pertama orang moderat. Ini termasuk terhadap masukan baru. Nur Kholis mencontohkannya dengan sikap Imam Malik, penulis kitab Al-Muwaththa’. Kitab ini, dalam satu riwayat disebutkan ditulis selama 40 tahun.

Lamanya rentang penyusunan tersebut karena Imam Malik ingin mendapatkan masukan dan umpan balik dari para ulama. Setiap masukan selanjutnya diperbaiki hingga para ulama kemudian menyatakan bersepakat bahwa karya Imam Malik tersebut sudah dinilai baik.

”Karena karya tersebut disepakati, maka dinamai Al-Muwaththa’,” kata dia.

Berpikir Rasional

Dia menyebut orang yang punya sikap moderat akan berpikir rasional. Segala perilaku ibadah atau kebaikan harus dapat ditinjau akal. Jika bertentangan dengan akal, sikap atau perbuatan tersebut patut dipertanyakan.

Hal-hal yang tidak bisa dirasionalkan hanya urusan ajaran agama yang dalam bahasa agama disebut ta’abbudi. Seperti pelaksanaan wudu, mengapa seseorang mengeluarkan angin (kentut), yang dibasuh kok mukanya. Yang seperti ini adalah ta’aabudi, tidak perlu dipaksakan untuk sesuai dengan akal.

Begitu halnya dalam membersihkan najis mughaladzah harus tujuh kali dan salah satunya dicampur dengan tanah. Mengapa salat gerakannya dimulai dari takbir, diakhiri dengan salam dengan gerakan-gerakan seperti itu. Itu disebut ta’abbudi.

Rendah Hati

Sikap moderat ditandai dengan adanya tawadhu’ atau rendah hati. Seorang yang moderat harus mampu menunjukkan dirinya sebagai makhluk yang merasa kurang pengetahuannya, sehingga ingin tetap belajar.

Dia harus rendah hati ketika berbicara dengan orang lain. Dia tidak boleh merasa paling benar, termasuk dalam hal pemahaman keagamaan.

Memberi Manfaat

Orang yang punya sikap moderat selalu berpikir bahwa apa yang dilakukannya harus membawa manfaat. Perspektif ini penting untuk dijadikan pegangan bagi masyarakat terdidik.

Yang dimaksud dengan manfaat bukanlah pertimbangan untung dan rugi secara material, namun lebih kepada manfaat kualitatif.

Nur Kholis menyampaikan pentingnya sikap moderat ini untuk membekali para dosen PAI dalam menuangkan gagasan riset atau karya ilmiah mereka agar bermuatan spirit moderasi.

Dosen PAI memegang peran signifikan dalam mendiseminasikan nilai-nilai moderasi di kampusnya masing-masing.

Sugeng Listyo Prabowo dari UIN Malang menyebut sikap moderat sering diartikan dengan kondisi di tengah. Dikutip dari laman uin-malang.ac.id, posisi di tengah juga mengindikasikan dengan posisi yang terukur.

Posisi moderat juga lebih dimaknai sebagai posisi yang mampu berpandangan sesuai dengan konteksnya. Sehingga moderat adalah sesuatu yang berkaitan dengan kemampuan untuk melihat sesuatu secara seimbang dan logis.

Dengan kemampuan itu maka seseorang yang berpandangan moderat akan mampu melihat seseorang tidak hanya dari satu sisi, tetapi dari banyak sisi.

Sehingga sikap moderat seringkali diartikan dengan posisi di mana seseorang harus memiliki karakter adil, dan juga karakter-karakter baik lainnya.

Dia menyebut pilihan menjadi Islam moderat akan memengaruhi cara berperilaku pada orang-orang Islam yang memilih pandangan ini. Islam moderat mendefinisikan diri sebagai Islam yang rahmatan lil’alamin.

”Namun demikian, untuk menjadi moderat tentu bukan sesuatu yang sederhana. Menjadi moderat dan menjadi rahmat bagi seluruh alam harus mampu berbuat adil. Menjadi rahmat juga harus mampu mengatasi berbagai dilema antara saat mana menjaga akidah bagi umat Islam dan saat mana menjadi rahmad bagi semua,” sebut dia.

Dengan punya sikap moderat juga harus mampu memilih secara benar terhadap pilihan-pilihan pemikiran yang berkembang. Menjadi moderat juga harus mampu menentukan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh, mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang dijadikan dasar dan pijakan utama dan mana yang menjadi dasar atau pijakan berikutnya.

Ditulis oleh : Danang Nur Ihsan

Menarik Juga

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.