Internet, Medsos dan Sensitivitas Agama

Keimanan adalah tentang keyakinan yang tidak bisa dipaksakan. Yang bisa dilakukan adalah saling bertoleransi.

Beberapa hari terakhir dunia maya dihebohkan dengan kontroversi video ceramah Ustaz Abdul Somad (UAS) yang dianggap melecehkan lambang salib.

Bukan hanya dari umat Kristen, protes juga datang dari sebagian umat Islam sendiri. UAS dianggap tidak toleran dan menyebarkan permusuhan.

Ustaz yang namanya sempat diusulkan menjadi calon wakil presiden (cawapres) itu pun memberi klarifikasi. Menurut UAS, ceramah tentang salib yang menjawab pertanyaan jemaah itu dilakukannya di masjid yang merupakan tempat tertutup, bukan di ruang terbuka. Kutbahnya adalah kajian terbatas di kalangan umat Islam.

Tak lama setelah video UAS menjadi kontroversi, beredar di grup-grup Whatsapp (WA) video kutbah seorang pendeta yang dianggap menistakan Islam. Di antaranya sang pendeta menyebut ibadah haji sebagai mainan anak kecil. Utamanya pada ritual mengelilingi Ka’bah dan melempar jumrah.

Sang pendeta juga menyebut soal air zam-zam yang dibawa pulang ke Tanah Air, umat Islam dibohongi habis-habisan. Menurutnya, air itu bukan dari sumur Zam-Zam melainkan disuling dari laut.

Bisa ditebak, video pendeta ini pun segera memantik kemarahan umat Islam. Sampai saat menulis ini, saya belum mendapat informasi nama sang pendeta. Di Youtube video tersebut diunggah akun bernama website mentari news. Namun saat ini video tersebut sudah tidak bisa dilihat. Sementara video UAS diunggah oleh banyak akun dan masih bisa disaksikan.

Ada persamaan antara kutbah UAS dan ceramah sang pendeta. Dua-duanya dilakukan di tempat tertutup dengan audiens terbatas, yakni umat masing-masing. Lalu dua video itu tersebar ke internet dan menjadi kontroversi. Jika kutbah pendeta muncul di Youtube setahun lalu, ceramah UAS diunggah dua tahun lebih lama.

Bisa dimaklumi jika umat Kristen marah terhadap ceramah UAS. Karena UAS mengatakan bahwa dalam salib itu ada jin kafir. Menurut UAS, orang yang gemetar saat melihat salib berarti sedang dirasuki jin kafir tersebut. Sekali lagi bagi umat Kristen hal itu tentu tidak bisa diterima.

Sementara bagi umat Islam, ceramah sang pendeta juga tak kalah menyakitkan. Bagaimana bisa ibadah haji disamakan dengan mainan anak kecil. Bagaimana melempar jumrah yang merupakan simbol mengusir setan dan salah satu rukun dari Nabi, disebut sebagai “kerjaan yang sia-sia”. Belum lagi soal air zam-zam peninggalan Ismail yang disebut sebagai sulingan air laut.

Saya beruntung sejak kecil hidup di komunitas masyarakat yang heterogen. Sejak SMP saya sudah sering terlibat diskusi dengan teman—baik teman sekolah maupun kawan main—yang nonmuslim. Tentu saja dengan gaya diskusi ala anak-anak. Meski terbatas kemampuan, sepanjang yang saya ingat diskusi kami tidak pernah sampai pada saling mencela agama atau ibadah masing-masing.

Begitupun saat menempuh studi di sekolah menengah kejuruan (SMK) di Solo, beberapa kawan di kelas adalah pemeluk Kristen yang taat. Pernah suatu ketika dalam pelajaran Bahasa Indonesia, saya dan seorang kawan Kristen terlibat perdebatan cukup sengit manakala kami diminta berpidato di depan kelas.

Saya membawakan materi tentang keislaman, kawan saya itu berkutbah tentang keimanan Kristen. Oleh guru sesi dibikin terbuka sehingga murid-murid lain boleh mendebat materi pidato siswa yang mendapat giliran di depan.

Karena sengitnya perdebatan, guru kami akhirnya menengahi dan menyudahi diskusi tanpa kesimpulan. Dan memang tidak bisa disimpulkan. Bagaimana bisa menyimpulkan tentang keimanan dari dua agama?

Diskusi tentang keimanan memang tidak pernah ada ujung. Seorang muslim akan meyakini keimanan yang dianut bersifat mutlak dan di saat bersamaan menganggap keimanan agama lain menyimpang. Begitupun bagi umat Kristen, keimanan umat Islam adalah sesuatu yang melenceng dari kodrat Tuhan makanya butuh kasih agar bisa selamat.

Keimanan adalah tentang keyakinan. Dan keyakinan berkaitan dengan hati. Tidak bisa dipaksakan dan diintervensi. Ketaatan kepada Tuhan dalam Islam disebut hidayah, di Kristen disebut roh kudus (semoga saya tidak salah sebut).

Begitulah konsep keagamaan yang saya tahu. Maka yang terbaik adalah saling bertoleransi. Dalam Islam diajarkan lakum dinukum waliiyadiin, bagimu agamamu dan bagiku agamaku. Silakan meyakini keyakinanmu, aku mengimani keyakinanku. Jalankan ibadahmu, aku mengerjakan ibadahku. Selesai.

Lalu mengapa ceramah UAS dan pendeta menjadi heboh? Penyebabnya adalah karena faktor internet dan media sosial. Di forum terbatas masing-masing umat, kutbah UAS dan ceramah pendeta adalah menu yang biasa mereka dengarkan.

Dalam kajian di masjid, muslim menganggap yang belum bersyahadat sebagai kafir. Secara bahasa kafir artinya menolak. Sehingga, orang yang menolak keyakinan Islam disebut kafir. Untuk membahasakan lebih halusnya disebut nonmuslim.

Sementara dalam kajian di gereja, siapapun yang belum meyakini Kristus sebagai Tuhan disebut sebagai hamba-hamba yang tersesat. Hamba yang tersesat itu kira-kira dalam bahasa Islam ya kafir itu.

Dua kutbah itu menyakiti umat agama lain karena tersebar secara luas. Pembicaraan di ruang tertutup dan bersifat privat tiba-tiba menerobos ke ruang publik tanpa terkendali. Jadilah pembicaraan yang bersifat terbatas itu menjadi konsumsi luas tanpa bisa dicegah.

Ribuan video

Silakan tengok di Youtube. Ada ratusan bahkan mungkin ribuan kutbah yang begitu vulgar menyerang keyakinan umat lain. Ini adalah fakta yang sangat tidak mengenakkan memang. Efek dari kebebasan teknologi yang nyaris tanpa kontrol. Dan, Youtube masih longgar tentang kebebasan tanpa kontrol ini. Apalagi jika konten di Youtube itu lantas diunduh dan dibagikan ke media berbagi pesan seperti Whatsapp (WA), habis sudah.

Sesuatu yang bersifat privat dalam hitungan detik tersebar menjadi konsumsi publik. Tidak ada yang bisa mengontrol. Pembatasan bisa dilakukan pemerintah, tapi pasti akan panen hujatan seperti saat pembatasan akses WA pada momentum Pilpres lalu.

Padahal sebenarnya, selain sesuatu yang bersifat “menyalahkan” ajaran agama lain, banyak juga ceramah yang menjadikan kondisi di agama lain sebagai motivasi. Kadang dalam ceramah sering juga ustaz atau pendeta memuji “pihak sebelah”. Biasanya hal ini sebagai bentuk menggugah motivasi jemaah agar lebih rajin memperbaiki keimanan.

Di forum keislaman yang saya ikuti, tidak jarang ustaz memuji gereja sebagai tempat yang bersih dan aman. Harapannya, agar jemaah yang diceramahi berubah ke arah yang lebih baik. “Kenapa gereja identik dengan kebersihan sementara banyak masjid yang kotor dan banyak sandal hilang. Contohlah gereja dalam hal kebersihan dan keamanan,” begitu ucapan seorang ustaz yang pernah saya dengar.

Selain tentang kebersihan dan keamanan gereja, keunggulan umat Kristen yang sering dijadikan acuan adalah tentang kedermawanan dan tali kasih. “Contoh tuh umat Kristen, mereka mau menyisihkan harta berapapun untuk gereja dan kegiatan sosial, kenapa kita mengisi infak hanya dengan uang receh. Bagaimana masjid bisa maju,” keluh ustaz yang lain.

Di kesempatan lain, menurut seorang kawan yang nonmuslim, ternyata Islam pun kadang dipuji saat pendeta berkutbah di gereja. Misalnya soal ketekunan muslim ke masjid. “Lihat Islam, sehari mereka minimal lima kali berdoa kepada Tuhannya. Masak kita yang sekali sepekan ke gereja saja masih malas-malasan,” demikian kata kawan saya itu.

Begitulah. Selain hal positif, internet dan media sosial memang punya potensi besar membahayakan keutuhan berbangsa dan bernegara. Karena itu, dibutuhkan kedewasaan berinteraksi dalam keberagaman bangsa. Salam Bhineka Tunggal Ika.

 

Ditulis oleh : Abu Nadhif

Menarik Juga

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.