Tutup Iklan

Sempat Dibuang, Ini Lika-Liku Sejarah Naskah Teks Proklamasi

Pada setiap hari peringatan kemerdekaan Republik Indonesia, teks proklamasi selalu digaungkan untuk menggelorakan semangat nasionalisme

JEDA.ID--Pada setiap hari peringatan kemerdekaan Republik Indonesia, naskah teks proklamasi selalu digaungkan untuk menggelorakan semangat nasionalisme

Naskah teks proklamasi memiliki sejarah tersendiri yang tak lepas dari kegigihan dan perjuangan para pendiri bangsa ini.

Menurut Wikipedia, Teks proklamasi ditulis di ruang makan Laksamana Tadashi Maeda Jl. Imam Bonjol No 1, Jakarta.

Para penyusun teks proklamasi itu adalah Soekarno, Moh. Hatta, dan Achmad Soebarjo. Konsep teks proklamasi ditulis oleh Soekarno sendiri.

Di ruang depan, hadir B. M. Diah, Sayuti Melik, Sukarni, dan Soediro. Sukarni mengusulkan agar yang menandatangani teks proklamasi itu adalah Soekarno dan Moh. Hatta atas nama bangsa Indonesia.

Harga Telur Organik Lebih Mahal dari Telur Biasa, Ini Alasannya

Naskah Proklamasi Asli dan Gubahan

Teks naskah proklamasi atau Proklamasi Klad adalah naskah asli yang merupakan tulisan tangan sendiri oleh Soekarno sebagai pencatat, dan merupakan hasil gubahan (karangan) oleh Mohammad Hatta dan Raden Achmad Soebardjo Djojoadisoerjo.

Sementara yang merumuskan proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia terdiri dari Tadashi Maeda, Tomegoro Yoshizumi, S. Nishijima, S. Miyoshi, Mohammad Hatta, Soekarno, dan Achmad Soebardjo.

Para pemuda yang berada di luar meminta supaya teks proklamasi bunyinya keras. Namun Jepang tak mengizinkan. Beberapa kata yang dituntut adalah “penyerahan”, “dikasihkan”, diserahkan”, atau “merebut”. Akhirnya yang dipilih adalah “pemindahan kekuasaan”. Setelah dirumuskan dan dibacakan di rumah orang Jepang, isi proklamasi pun disiarkan di radio Jepang.

Berikut isi proklamasi tersebut:

Proklamasi

Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.
Hal2 jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan
dengan tjara saksama dan dalam tempoh jang sesingkat-singkatnja.
Djakarta, 17 – 8 – ’05
Wakil2 bangsa Indonesia.

Naskah Proklamasi Klad ini ditinggal begitu saja dan bahkan sempat masuk ke tempat sampah di rumah Laksamana Muda Tadashi Maeda. B.M. Diah menyelamatkan naskah bersejarah ini dari tempat sampah dan menyimpannya selama 46 tahun 9 bulan 19 hari, hingga diserahkan kepada Presiden Soeharto di Bina Graha pada 29 Mei 1992.

Naskah baru setelah mengalami perubahan

Teks naskah Proklamasi yang telah mengalami perubahan, yang dikenal dengan sebutan naskah “Proklamasi Otentik”, adalah merupakan hasil ketikan oleh Mohamad Ibnu Sayuti Melik (seorang tokoh pemuda yang ikut andil dalam persiapan Proklamasi), yang isinya adalah sebagai berikut:

P R O K L A M A S I
Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.
Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan
dengan tjara saksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.
Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05
Atas nama bangsa Indonesia.
Soekarno/Hatta.

Tahun pada kedua teks naskah Proklamasi di atas (baik pada teks naskah Proklamasi Klad maupun pada teks naskah Proklamasi Otentik) tertulis angka “tahun 05” yang merupakan kependekan dari angka “tahun 2605”.  Hal itu  karena tahun penanggalan yang dipergunakan pada zaman pemerintah pendudukan militer Jepang saat itu adalah sesuai dengan tahun penanggalan yang berlaku di Jepang, yang kala itu adalah “tahun 2605”).

Perbedaan teks naskah Proklamasi Klad dan Otentik

Naskah Proklamasi Otentik (wikipedia)

Naskah Proklamasi Otentik (wikipedia)

Di dalam teks naskah Proklamasi Otentik sudah mengalami beberapa perubahan yaitu sebagai berikut:

Kata “Proklamasi” diubah menjadi “P R O K L A M A S I”,
Kata “Hal2” diubah menjadi “Hal-hal”,
Kata “tempoh” diubah menjadi “tempo”,
Kata “Djakarta, 17 – 8 – ’05” diubah menjadi “Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05”,
Kata “Wakil2 bangsa Indonesia” diubah menjadi “Atas nama bangsa Indonesia”,
Isi naskah Proklamasi Klad adalah asli merupakan tulisan tangan sendiri oleh Ir. Soekarno sebagai pencatat, dan adalah merupakan hasil gubahan (karangan) oleh Drs. Mohammad Hatta dan Raden Achmad Soebardjo Djojoadisoerjo. Sedangkan isi naskah Proklamasi Otentik adalah merupakan hasil ketikan oleh Mohamad Ibnu Sayuti Melik (seorang tokoh pemuda yang ikut andil dalam persiapan Proklamasi),
Pada naskah Proklamasi Klad memang tidak ditandatangani, sedangkan pada naskah Proklamasi Otentik sudah ditandatangani oleh Ir. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta.

Merawat Naskah Proklamasi Asli

Naskah Proklamasi yang asli kini sudah berumur 75 tahun. Inilah harta karun dokumen negara, karena nilai sejarahnya. Cara merawatnya tidak boleh sembarangan.

Naskah asli Proklamasi disimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) yang berlokasi di Jl Ampera Raya, Jakarta Selatan tempatnya.

Semua arsip negara yang penting akan melalui proses perawatan sebelum disimpan dalam depo atau ruang penyimpanan. Tak terkecuali Naskah Proklamasi asli yang berbentuk kertas atau disebut Proklamasi Klad.

Ada tahapan pra-restorasi untuk menentukan metode pengawetan dari sebuah arsip. Jadi, sebelum arsip Proklamasi masuk ke ruang khusus akan melalui ruangan restorasi.

“Arsip Proklamasi asli sudah kita lapisi, namanya enkapsulasi. Seperti laminating, tapi bahannya berbeda dan metodenya juga berbeda,” jelas Direktur Preservasi ANRI Kandar seperti dilansir detikcom belum lama ini.

Setelah melalui proses pelapisan, arsip akan dibawa ke ruangan yang sudah diatur suhu dan kelembapannya. Tentunya proses pelapisan ini tak akan merusak naskah yang sangat berharga itu.

“Iya untuk suhu ada di kisaran 18-20 [derajat Celcius] untuk arsip kertas ini standar daerah tropis. Kelembapannya 55+5 bolehlah. Kalau berubah drastis dan naik turun akan merusak kondisi arsip,” jelas Kandar.

“Jadi kalau terlalu tinggi asam atau basahnya juga nggak bagus juga. Ini untuk pengawetan kertas,” tambah Kandar.

Jika hal di atas tidak dilakukan maka kita sekarang tak memiliki bukti sejarah tentang kemerdekaan Indonesia.

“Ini mempengaruhi keawetan dari teks yang aslinya. Aslinya seperti ini tulisan tangan Bung Karno asli. Dan, ini nilai keramatnya sangat tinggi, ya dari secarik kertas ini dibuktikan diakui secara internasional,” kata dia.

Pernah Dibuang ke Tempat Sampah

Setelah disalin dengan mesin ketik, naskah proklamasi bahkan pernah dibuang ke tempat sampah. “Dulu teks Proklamasi pernah diremas dan dibuang ke tempat sampah. Ini memang dulu di antara para penyusun ada wartawan namanya BM Diah, nah setelah ini disepakati untuk menulis ini kesepakatannya luar biasa antara Sukarno, Soebardjo tokoh-tokoh pemuda yang cukup radikal dengan Bung Karno dan Hatta,” tambah Kandar.

Kejadian pembuangan naskah Proklamasi asli dikarenakan sudah disalin melalui ketikan oleh Sayuti Melik. Namun, BM Diah, seorang wartawan yang menyadari itu, kemudian menyimpannya lalu diserahkan ke Presiden Soeharto setelah berpuluh-puluh tahun.

“Setelah sepakat luar biasa, Sayuti Melik mengetik teks Proklamasi, setelah diketik ceritanya ini dibuang ke tempat sampah. Karena BM Diah ini kan wartawan dan diselamatkan lalu disimpan di rumahnya di Jakarta. Lalu diserahkan ke Presiden Soeharto pada 29 Mei 1992,” ujar dia.

Barang yang telah dibuang kini sangat dijaga keberadaannya. Kita, sebagai penerus bangsa juga harus menghargainya.

Ditulis oleh : Anik Sulistyawati

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.