Militansi Haters Legendaris Anti-Pee Wee Gaskins

Salah satu fenomena haters paling legendaris di dunia hiburan adalah gerombolan APWG, Anti Pee Wee Gaskins.

JEDA.ID – Haters di dunia hiburan selalu ada dari masa ke masa. Sebelum era teknologi infromasi menghasilkan akses mudah ke Internet dan media sosial seperti sekarang, fenomena haters sudah ada. Salah satu fenomena haters paling legendaris adalah gerombolan APWG, Anti Pee Wee Gaskins.

Pee Wee Gaskins (PWG) adalah grup musik asal Jakarta yang resmi terbentuk pada tahun 2007. Namanya diambil dari nama pembunuh berantai asal Amerika Serikat, Donald Henry Gaskins.

Pada tahun 2018, Pee Wee Gaskins menciptakan lagu tema berbahasa Indonesia dengan judul BoBoiBoy Hero Kita untuk acara yang dibuat balik dari serial Boboiboy yang bernama Boboiboy Reborn.

Jauh sebelum menciptakan lagu untuk Boboiboy, PWG dikenal sebagai grup musik indie label yang terkenal dari panggung ke panggung. PWG lekal dengan tren panggung Pensi (Pentas Seni) sekolah.

Setiap kali naik panggung, grup musik ini kerap mendapat perlakukan kasar dari haters garis kerasnya yang menamakan diri Anti-Pee Wee Gaskins (APWG).

Tren APWG

Konon, APWG adalah sekelompok street punk yang menganggap PWG hanya memakai label punk tanpa menampilkan kesan sebagai punk. Singkat kata, PWG hanya memanfaatkan punk sebagai keren-kerenan saja.

Ada pula anggapan haters itu merupakan fans saat Pee Wee Gaskins masih di jalur musik indie. Namun, ketika memutuskan masuk label musik, fans berbalik membenci.

APWG bertindak cukup ekstrem. Mereka kerap melempar benda-benda berbahaya dari mulai botol minuman hingga benda keras lain ke panggung. Mereka juga mengekspresikan diri lewat Internet yang kala itu penggunanya belum sebanyak sekarang.

Tudingan mengenai PWG menjalar. Haters semakin banyak dengan perkembangan dalih yang beragam. Ada yang mendeklarasikan diri sebagai haters dengan alasan PWG sombong. Ada pula tudingan personel PWG memiliki orientasi seksual penyuka sesama jenis.

Haters Pee Wee Gaskins termasuk yang paling kreatif dalam menyebarkan isu dan menyerang sesuatu yang dibencinya.

Salah satu personel PWG, Dochi Sadega ingat betul bagaimana isu sesat itu menggelinding bak bola salju.

“Memang kalau kami gay kenapa? Enggak masalah kan. Walaupun kami memang bukan gay, pacar kami cakep-cakep kok,” ceplos Dochi di acara #Kopdar 8 di FX Sudirman, Jakarta Pusat, dilansir Liputan6.com, Kamis (27/3/2014).

Dochi juga menunding haters saat terjadi kasus di Surabaya. Katanya para haters menghembuskan isu yang tidak-tidak. “Pernah di Surabaya, pas mau manggung disebarin isu kami mau bakar bendera Persebaya,” ujarnya.

Karena berpikir kalau isu itu tidak akan berpengaruh pada para fans yang juga bonek Persebaya, Surabaya, Pee Wee Gaskins tetap manggung. “Alhasil sampai sana kami dikejar-kejar dan manajer babak belur,” katanya.

Setelah ditelusuri kabar PWG membakar bendera Bonek tersebut disebarkan oleh seorang APWG via Facebook. Hal tersebut akhirnya menyulut emosi bonek.

Mereka kemudian menyerang Pee Wee Gaskins yang seharusnya tampil dalam acara “Coca-cola Soundburst” di Pantai Ria Kenjeran, Surabaya, Sabtu (11/12/2010).

Jejak Digital

Jejak digital APWG mudah ditemukan. Selain menamakan diri APWG, mereka juga mengaku anti-Dorks. Dorks adalah nama singkat Party Dorks, salah satu nama penggemar PWG. Fans PWG juga menamai diri Dorkzilla dan Tatiana.

Satu haters membuat blog di wordpress dan memajang label “Saya Anti Pee Wee Gaskins.” Haters ini membagikan alasan-alasan kenapa PWG dibenci. Salah satu “tuduhan terbaru” adalah PWG melakukan plagiat.

Haters ini juga menulis panjang lebar tentang Dorks. “TERLALU MENUHANKAN PEEWEE GASKINS,
ahahahhha ini dia nih yg gw aneh sama anak2 dork….” tulis blog itu.

Blog semacam ini jamak di Internet. Namun jumlahnya terus turun dari waktu ke waktu. Dari sejumlah blog yang dibuka, barangkali tahun 2009-2011 menjadi tahun puncak di mana jumlah APWG terbilang sangat banyak.

Terkait hal ini Dochi sepertinya mulai menyadari. Saat ini para haters telah berkurang karena pihak manajemen berusaha persuasif dan mengajak diskusi. “Kami bikin acara rutin yang mengundang haters untuk ngobrol dan cari tahu solusi biar nggak benci kami lagi,” pungkas Dochi.

PWG hingga kini masih berkarya. PWG tetap tumbuh dan memiliki basis penggemar terbilang banyak dan masif.

Pada 10 Maret 2016, PWG meluncurkan album bertajuk A Youth Not Wasted. Di awal Maret PWG sukses menjadi band pembuka dalam konser grup musik asal Australia, 5 Seconds of Summer.‎

Ditulis oleh : Jafar Sodiq Assegaf

Menarik Juga

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.