Di Tengah Kemarau, Ini Sejumlah Tradisi Masyarakat Meminta Hujan

Banyak tradisi yang hidup turun temurun di Indonesia yang terkait dengan kondisi alam sekitar, salah satunya upacara tradisi meminta hujan. 

JEDA.ID—Banyak tradisi yang hidup turun temurun di Indonesia yang terkait dengan kondisi alam sekitar, salah satunya upacara tradisi meminta hujan.

Memang muusim kemarau yang kini dirasakan masyarakat diperkirakan belum akan berakhir di beberapa daerah. “Sekarang yang mulai hujan itu Aceh dan Sumatera Utara. Pulau Jawa belum masuk musim penghujan, karena umumnya musim hujan di Pulau Jawa itu akhir Oktober dan awal November,” terang Fachri, Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) seperti dilansir detikcom, Jumat (20/9/2019).

Kekeringan ini tak jarang berdampak pada kebakaran hutan dan lainnya. Beberapa gunung di Indonesia mengalami kebakaran terkait musim kemarau seperti Gunung Merbabu, Semeru hingga Gunung Slamet.

“Tugas BMKG adalah memonitor titik-titik panas lewat satelit Himawari. Kalau di suatu lokasi titik panasnya mencapai angka 80 persen diperkirakan terjadi kebakaran di situ,” terang Fachri. Menurut Fachri, beberapa wilayah di Indonesia masih banyak titik panasnya. Hampir ada titik panas di seluruh Pulau Jawa, khususnya wilayah Jawa Timur.

Dampak Karhutla

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sejak Januari-Juli 2019 mencapai 135.747 hektare. Karhutla itu terdiri dari lahan gambut seluas 31.002 hekatre dan lahan mineral 1047.746 hektare.

Sejumlah provinsi yang mengalami kebakaran di lahan gambut di antaranya Aceh seluas 333 hektare dan Riau 27.635 hektare. Selanjutnya, Sumatera Barat seluas 129 hektare, Sumatera Selatan, dan Sumatra Utara 17 hektare.
Kemudian Kalimantan Barat 1.291 hektare, Kalimantan Selatan 602 hektare, Kalimantan Tengah 963 hektare, Kalimantan Timur 223 hektare dan Kalimantan Utara 5 hektare.

Sementara untuk lahan mineral dengan total 104.746 hektare di antaranya Provinsi Kepulauan Riau 4.970 hektare, Riau 2.430 hektare, Jawa Timur 2.452 hektare, Kalimantan Barat 2.024 hektare, Kalimantan Selatan 4.068 hektare, Kalimantan Tengah 2.655 hektare, Kalimantan Timur 4.207 hektare, Kalimantan Utara 854 hektare. Selanjutnya Provinsi Sulawesi Selatan 441 hektare, Nusa Tenggara Barat 1.755 hektare, Nusa Tenggara Timur 71.712 hektare, Papua 2.851 hektare dan sejumlah provinsi lainnya dengan total 28 provinsi.

Deputi Direktur, Eksekutif Daerah Walhi Riau, Fandi Rahman menyebutkan sedikitnya 20.000 lebih masyarakat mengalami infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA akibat karhutla. Fandi menjelaskan rata-rata keluhan masyarakat yang diterima pihak puskemas ialah penyakit ISPA, iritasi mata, kulit dan asma.

“ISPA sendiri angkanya di 24.421 orang per 17 September,” kata Fandi di Kantor Walhi Nasional, Jakarta Pusat, Rabu (18/9/2019). Namun, menurutnya, data itu belum mencakup korban-korban karhutla lainnya seperti dilansir detikcom.

Pasalnya data itu hanya diperoleh dari puskemas yang berada di pusat Riau. Kemudian, Fandi menerangkan setidaknya ada masyarakat yang menderita iritasi mata akibat kabut asap sebanyak 749 orang dan asma yang dirasakan oleh 1.370 orang.

Tradisi

Di tengah musim kemarau, ada sebagian masyarakat yang menggelar tradisi untuk meminta hujan. Tradisi tersebut biasanya dilakukan secara turun temurun. Berikut sejumlah upacara tradisional yang digelar masyarakat untuk meminta hujan seperti dilansir Jeda. Id dari berbagai sumber.

1. Kenduri Dawet

Ratusan warga di Desa Banyuanyar, Kecamatan Ampel, Boyolali pada Jumat (20/9/2019) menggelar Kenduri Dawet.
Upacara tradisional untuk memohon hujan di musim kemarau itu rutin dilakukan tiap tahun. Kenduri tiap Jumat Pon mangsa Kapat menurut penanggalan Jawa itu dilakukan dengan melempar minuman dawet ke dalam punden. Harapannya hujan segera turun dan punden kembali terisi.

Menurut laporan wartawan solopos.com, Nadia Lutfiana Wardani, tahun ini acara kenduri dawet dibalut dengan lebih meriah. Pemerintah Desa Banyuanyar menggelar Kenduren Udan Dawet dan mengawalinya dengan kirab lima gunungan ageng, satu di antaranya berisi dawet yang sudah dibungkus dan ditata menyerupai gunungan. Dawet-dawet itulah yang sebagian akan dilempar di punden dan sebagian lagi dimakan bersama-sama warga. Sementara gunungan yang lain berisi makanan pokok dan hasil bumi.

2. Unjungan

Ritual Unjungan dilakukan oleh masyarakat Purbalingga dan Banjarnegara. Konon asal muasal dilaksanakannya tradisi berawal dari para petani yang berebut air untuk mengairi sawahnya saat musim kemarau. Perebutan ini membuat para petani cekcok hingga saling memukul dan melukai satu sama lain.

Di Desa Gumelem Wetan, tradisi Ujungan telah turun temurun serta biasa diselenggarakan pada saat musim kemarau panjang. Karena pada musim ini para petani di desa tersebut sangat membutuhkan air untuk mengairi sawahnya.

Menurut kepercayaan sebagian warga di desa tersebut, untuk mempercepat datangnya hujan, para pemain Ujungan harus memperbanyak pukulan kepada lawannya hingga terluka dan mengeluarkan darah. Tradisi ini menggabungkan antara seni musik, tari, dan bela diri. Dalam acara ini, laki-laki juga saling memukul dengan sebilah rotan. Bagian yang boleh dipukul hanya bagian kaki ke bawah.

3. Manten Kucing

Ritual manten kucing dilaksanakan di Tulungagung khususnya di Desa Pelem. Dalam ritual ini, sepasang kucing yang dimandikan di Coban Kram dipercaya bisa membuat hujan segera turun. Karena ritual memandikan ini mirip seperti ritual siraman pengantin manusia, upacara ini disebut dengan manten kucing.

Konon kabarnya begitu ritual selesai, hujan langsung turun. Warga sangat percaya dengan ritual ini sehingga kebanyakan orang juga akan berebut air bekas memandikan kucing. Mereka percaya bahwa dengan membasuh muka dengan air tersebut bisa membuat mereka mendapatkan berkah atau awet muda.

4. Ritual Ojung

Ritual Ojung biasanya dilakukan oleh masyarakat di daerah Bondowoso, Pulau Madura, dan di Tengger. Di Bondowoso dan Madura, Ojung dilaksanakan untuk mengundang hujan setelah musim kemarau, sementara di Tengger diadakan setiap perayaan Hari Raya Karo.

Ritual ini diawali dengan tarian Topeng Kuna dan Rontek Singo Wulung. Puncak dari ritual ini adalah saling menyabet dengan rotan. Dua orang pria bertelanjang dada sambil memegang erat rotan. Begitu musik dimainkan, mereka akan bergoyang sambil saling menyabetkan rotan. Dari setiap darah yang menetes diharapkan dapat mengundang turunnya hujan.

5. Cowongan

Ritual Cowongan dilakukan untuk meminta hujan biasa dilakukan oleh warga di Banyumas. Menurut kepercayaan mereka, ritual ini dilakukan dengan meminta bantuan Dewi Sri atau dewi padi. Konon Dewi Sri akan turun melalui pelangi untuk menurunkan hujan.

Ritual ini dimulai dengan mencuri gayung yang kemudian ditancapkan pada sebuah batang pohon pisang raja. Gayung yang dirias tersebut menjadi properti pelaksanaan ritual. Doa-doa dan mantra kemudian dibacakan agar bidadari turun dan merasuk ke properti tersebut.

6. Gebug Ende

Gebug Ende adalah ritual tradisional yang dilakukan oleh masyarakat Bali. Ritual ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan ojung atau cowongan. Ende adalah sebutan untuk rotan, sedangkan gebug adalah alat untuk menangkis pukulan rotan. Dalam ritual ini, petarung menggungkan rotan dan penangkis. Dalam ritual ini, petarung akan saling adu pukul hingga berdarah-darah. Dengan cara ini dipercaya hujan akan segera turun.

Bagi sebagian orang, tradisi ini memang terlihat tidak masuk akal. Namun, ritual ini adalah tradisi yang sudah mengakar dan melekat kuat pada keseharian masyarakat.  Sejumlah tradisi untuk meminta hujan tersebut menunjukkan betapa beragamnya keunikkan budaya yang hidup di negeri kita.

Ditulis oleh : Anik Sulistyawati

Menarik Juga

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.