Teori-Teori Konspirasi di Balik Penganut Bumi Datar

Penganut paham Bumi data kehilangan salah satu pendukungnya yang populer di Amerika Serikat, Mike Hughes. Selama ini ada beberapa teori konspirasi yang diduga mendasari munculnya paham tersebut.

JEDA.ID– Penganut paham Bumi data kehilangan salah satu pendukungnya yang populer di Amerika Serikat, Mike Hughes. Pria berusia 64 tahun itu meninggal dunia, Sabtu (22/2/2020) dalam upayanya untuk membuktikan pandangan Bumi itu datar. Dia meninggal akibat roket yang ditumpanginya untuk terbang ke luar angkasa meledak.

Dalam peristiwa itu, dia tengah melangsungkan rekaman untuk acara TV Homemade Austronauts yang akan tayang di Science Channel. Proses peluncuran roket ini sebenarnya direkam oleh tim dari Science Channel sebagai bagian dari serial dokumenter berjudul ‘Homemade Astronaut’. Namun, ada pula video amatir yang merekam detik-detik kecelakaan maut tersebut.

Belum ada laporan tentang seberapa besar pengaruh kecelakaan tersebut terhadap paham ini dan penganutnya. Terkait paham Bumi Datar, selama ini ada beberapa teori konspirasi yang diduga mendasari munculnya paham tersebut. Berikut teori-teori tersebut seperti dilansir dari berbagai sumber, Selasa (25/2/2020)

1. Gambar Palsu

Sebenarnya yak sulit untuk melihat Bumi dari angkasa, termasuk menggunakan begitu banyaknya gambar dan video International Space Station (ISS) atau menyaksikan video selang-waktu (time-lapse) rekaman satelit Jepang bernama Himawari-8. Satelit itu mengambil foto Bumi setiap 10 menit dari ketinggian 35.000 kilometer.

Tapi, bagi para penganut Bumi Datar (Flat Earth Society) dan jutaan orang serupa mereka, gambar-gambar itu adalah palsu.
Bagi mereka, semua video terbitan NASA, ESA, CNSA, Roscosmos, dan semua badan antariksa lainnya hanyalah sekadar grafik komputer. Foto pun dianggap sekadar rekayasa photoshop. Dengan demikian, suatu organisasi yang selama sejak 1946 menciptakan gambar-gambar palsu, dianggap memiliki rencana jahat.

2. Video ISS Diambil dalam Pesawat Terbang

Tak hanya gambar, video para awak ISS yang mengambang di dalam wahana juga ternyata palsu. Namun, bagi penggemar FES semua kepalsuan itu tidak menjadi masalah. Pemalsuan itu dibuat dengan sangat niat, bukan sekadar grrfik komputer (CGI), melainkan video-video itu direkam dalam penerbangan dengan lintasan parabolik atau kerap dikenal dengan pesawat terbang gravitasi nol (zero-G). Pesawat dijatuhkan secara terkendali sehingga orang-orang di dalamnya berada dalam posisi mengambang.

3. Tembok Es Antartika

Bumi datar digambarkan dalam bentuk cakram dengan Kutub Utara di tengahnya. Cincin yang ada di tepi merupakan tembok es yang mengelilingi lingkaran ‘cakram’ Bumi. Cincin inilah yang disebut Kutub Selatan (Antartika). Ibarat sebuah piza, maka Antartika adalah bagian roti tebal di tepiannya. Tembok es itu dimaksudkan agar samudera-samudera Bumi tidak bocor ke sisi lain di antah berantah.

Ada banyak teori yang bermunculan, mulai dari spekulasi ilmiah hingga fanatisme agama. Salah satunya adalah klaim bahwa tembok es Antartika dikelilingi oleh samudra lain. Di luar sana ada “benua terlarang, yaitu Antichtone”. Sudah banyak penjelajah yang melintasi Antartika, seolah Kutub Selatan telah menjadi tujuan wisata. Sukar dibayangkan ada orang yang jatuh ke perbatasan es abadi.

4. Bumi Tidak Melengkung

Seandainya Bumi bulat, maka harus ada lengkungan di suatu tempat layaknya sebuah bola. Ternyata, yang terpenting ialah skala dan posisi. Dari permukaan bulatan yang cukup besar, pemandangan 360 derajat berupa cakram karena garis pandang kita tidak menampakkan apa pun di belakang lengkungan pada ujung cakrawala.

Orang tidak bisa melihat langsung untuk menyaksikan cakrawala menukik di sisi-sisinya karena Bumi juga bukan berbentuk tabung atau silinder. Jika orang memiliki pandangan cakrawala tak terputus di segala arah tanpa ada kerangka acuan sebelumnya, mudah beranggapan bahwa ia sedang berdiri di atas bidang datar yang melingkar. Tapi, kita memiliki kerangka acuan. Jadi, bukan lagi suatu misteri kosmos.

5. Tak Ada Gravitasi

Para penganut teori Bumi datar tidak tunduk pada hukum gravitasi, melainkan mereka percaya pada Akselerasi Semesta (Universal Acceleration, UA). Menurut UA, cakram datar Bumi melakukan akselerasi ke atas secara konstan, seperti suatu roket besar. Dampaknya adalah orang yang melompat akan jatuh lagi. Namun, bukan Bumi yang menarik orang itu, melainkan Bumilah yang naik Ada suatu teori yang mengatakan bahwa akselerasi (percepatan) itu disebabkan oleh selimut energi gelap yang muncul di bawah Bumi.

6. Matahari Tak Sejauh Jutaan Kilometer

Menurut para FES, matahari hanya berjarak sekitar 4800 kilometer dengan garis tengah sekitar 51 kilometer. Matahari dianggap seperti bola lampu raksasa yang mengitari dan menerangi permukaan datar seperti sebuah mercusuar. Matahari digambarkan seperti sebuah senter yang bergerak pelan menurut arah jarum jam di atas lembaran kertas. Menurut mereka, siang dan malam dihasilkan melalui lingkaran cahaya yang tidak menyentuh seluruh lempengan itu sekaligus.

7. Langit adalah Kubah Kaca

Untuk yang satu ini, tidak semua pencinta Bumi Datar mempercayainya. Bagi yang percaya akan hal ini, langit dan semua yang ada di dalamnya adalah palsu. Kita hanya melihat kubah yang menyembunyikan angkasa yang sesungguhnya. Tak ada yang mengetahui apa saja yang ada di angkasa karena terhalang kubah atau mungkin karena alien.

Asal mula teori kubah ini mengacu kepada ayat yang menyebutkan Tuhan memasang “lengkung langit” di atas Bumi. Hampir semua pendukung teori ini sepakat bahwa apapun yang di luar sana bukanlah angkasa luar yang kita kenal. Bahkan ada pula teori lain yang mengatakan bahwa hologram diproyeksikan ke permukaan kubah itu sehingga menampilkan pemandangan angkasa yang kita lihat tiap malam.

8. Benda Bayangan Penyebab Gerhana Bulan

Beberapa orang menyebutnya Benda Bayangan (Shadow Object) atau ada yang menyebutnya Nega Moon. Tak banyak yang mengetahui apa itu, namun bagi pendukung teori Bumi datar, inilah yang menyebabkan terjadinya gerhana bulan.
Umumnya, gerhana bulan terjadi ketika matahari, Bumi, dan bulan berada segaris. Bumi ada di tengah-tengah sehingga bayangannya mengenai permukaan bulan.

Namun jika disesuaikan dengan teori bahwa matahari hanya berjarak beberapa kilometer dari Bumi datar, maka hal itu tidak bisa terjadi. Karena itu, diciptakanlah suatu benda yang disebut Shadow Object, suatu benda misterius yang ada di langit. Secara periodik, Benda Bayangan itu melintas di depan bulan sehingga menyebabkan gerhana.

9. Roket Tak Bisa Mencapai Angkasa

Dalam beberapa tahun terakhir, teknologi roket telah meningkat pesat. Bagi para FES, pencapaian roket-roket itu mustahil. Mereka menganggap semua roket tidak meluncur secara vertikal, melainkan mengikuti lintasan yang dikenal sebagai tikungan gravitasi.

Ketika meninggalkan landasan, roket bergerak lurus ke atas, namun gravitasi melawan daya dorong roket itu. Agar roket bisa naik, ia harus melenceng sedikit supaya gravitasi menarik roket mendekati posisi mendatar sambil mendekati garis Karman.
Garis Karman adalah titik di mana atmosfer Bumi secara teknis berubah menjadi angkasa, sekitar 100 kilometer di atas sana. Teknik ini berguna menghemat bahan bakar, karena roket menggunakan bagian besar bahan bakarnya untuk akselerasi ke kecepatan orbit saat sebelum sampai di garis Karman.

Tapi, jika orang mengamati ini dari permukaan Bumi, roket itu seakan melintas melengkung sepanjang dasar langit-langit kaca. Menurut FES, lengkungan lintasan itu sebagai bukti bahwa roket tidak dapat menembus luar angkasa. (Bunga Oktavia)

Ditulis oleh : Anik Sulistyawati

Menarik Juga

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.