Pesantren Tebuireng dan Pergerakan Ulama Nusantara

Pondok Pesantren Tebuireng adalah salah satu pesantren terbesar di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, yang punya pengaruh luas hingga tingkat Nasional.

JEDA.ID – Indonesia kembali kehilangan salah satu tokoh pemersatu bangsa, KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah. Pengasuh Pondok Pesantren  Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, tutup usia 2 Februari 2020 sekira pukul 20.55 WIB.

Semenjak mendengar kabar wafatnya Gus Sholah, ribuan santri Pesantren Tebuireng terus melantunkan tahlil dan bacaan Al-Qur’an. Mengutip laman resmi Nahdlatul Ulama, Tidak hanya di masjid, di setiap sudut asrama Pesantren Tebuireng juga dilantunkan bacaan Al-Qur’an dan tahlil. Suara kalimat toyyibah ini saling bersahutan satu dengan yang lain.

Kepergian Gus Sholah meninggalkan duka mendalam bagi para santri Tebuireng. Di sudut masjid pesantren tampak beberapa santri berlinang air mata.

Pintu peziarah makam Gus Dur tetap dibuka oleh pengurus makam meskipun lokasi makam penuh orang mendoakan Gus Sholah. Puluhan santri terlihat membersihkan lokasi makam yang akan digunakan untuk istirahat terakhir jasad Gus Sholah. Lokasi makamnya berada di samping Gus Dur atau kakaknya.

Kontribusi Gus Sholah dalam memajukan pesantren Tebuireng memang tak main-main. Hal ini diakui Wakil Presiden (Wapres) Ma’ruf Amin saat melayat ke rumah duka, Senin (3/2/2020).

Ma’ruf mengenang sosok Gus Sholah yang berkontribusi besar di sektor keagamaan. Terutama dalam memajukan Pondok Pesantren (Ponpes) Tebuireng. Seperti diketahui, Tebuireng adalah salah satu pesantren yang cukup disegani.

Menapaki Jalan Kenangan di Janjang Saribu

Pengaruh Tebuireng

Merangkum Tebuireng.online, Senin (3/2/2020), Pondok Pesantren Tebuireng adalah salah satu pesantren terbesar di Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Pesantren ini didirikan oleh KH. Hasyim Asy’ari pada tahun 1899.

Tebuireng dulunya merupakan nama dari sebuah dusun kecil yang masuk wilayah Cukir, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Letaknya delapan kilometer di selatan kota Jombang, tepat berada di tepi jalan raya Jombang-Kediri.

Menurut cerita masyarakat setempat, nama Tebuireng berasal dari “kebo ireng” (kerbau hitam). Versi lain menuturkan bahwa nama Tebuireng diambil dari nama punggawa kerajaan Majapahit yang masuk Islam dan kemudian tinggal di sekitar dusun tersebut.

Dusun Tebuireng sempat dikenal sebagai sarang perjudian, perampokan, pencurian, pelacuran dan perilaku negatif lainnya. Namun sejak kedatangan K.H. Hasyim Asy’ari dan santri-santrinya, secara bertahap pola kehidupan masyarakat dusun tersebut berubah semakin baik dan perilaku negatif masyarakat di Tebuireng pun terkikis habis.

Awal mula kegiatan dakwah K.H. Hasyim Asy’ari dipusatkan di sebuah bangunan yang terdiri dari dua buah ruangan kecil dari anyam-anyaman bambu, bekas sebuah warung yang luasnya kurang lebih 6 x 8 meter, yang dibelinya dari seorang dalang. Satu ruang digunakan untuk kegiatan pengajian, sementara yang lain sebagai tempat tinggal bersama istrinya, Nyai Khodijah.

Organisasi NU tersebar di seluruh provinsi di Indonesia dengan lebih dari 400 cabang, tetapi pengurus-pengurus wilayah NU yang kegiatan usahanya cukup nyata antara lain adalah yang berada di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, DKI Jakarta, Sumatera Utara, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan.

Saat ini, keberadaan Pondok Pesantren Tebuireng telah berkembang dengan baik dan semakin mendapat perhatian dari masyarakat luas.

Haul Solo Selalu Membludak, Ini Sosok Karismatik Habib Ali Al-Habsyi

Pengaruh Nasional

Para santri dari Tebuireng ini kelak menghasilkan ulama besar yang memimpin berbagai pesantren penting di Nusantara. Ada KH Wahab hasbullah memimpin Pesantren ambakberas, KH Abdul Karim pendiri peantren Lirboyo, hingga Kiai Ahmad Shiddiq adalah murid Kiai Hasyim yang disegani.

Pada tahun 1934, putra kiai Hasyim, Kiai Wahid Hasyim, merintis pendidikan khusus yang diberi nama Madrasah Nidzomiyah.

Hingga tahun 1940-an, jumlah kiai yang dilahirkan dari Pesantren Tebuireng terdata sebanyak 25.000 orang tersebar di seluruh Nusantara.

Pada tahun 1942 Kiai Hasyim Asyari ditangkap Jepang, karena tidak mau melakukan Saikere (penghormatan) pada bendera dan kaisar jepang.

Menjelang kemerdekaan hingga masa awal kemerdekaan dalam mempertahankan kemerdekaan, posisi Pesantren Tebuireng sangat sentral. Bersamaan dikeluarkannya Resolusi Jihad 22 Oktober 1945, para pimpinan Nasional baik Bung Karno, Tan Malaka dan Bung Tomo selalu berkordinasi ke Tebuireng untuk menghadapi sekutu.

Gaya Ceramah yang Bikin Gus Muwafiq Mudah Diterima Publik

Kebijakan Pendidikan

Pondok Pesantren Tebuireng beberapa kali telah melakukan perubahan kebijakan yang berkaitan dengan pendidikan. Perubahan sistem pendidikan di pesantren ini pertama kali diadakan Kyai Hasyim Asy’ari pada tahun 1919.

Terlihat dengan penerapan sistem madrasi (klasikal) dengan mendirikan Madrasah Salafiyah Syafi’iyah. Sistem pengajaran disajikan secara berjenjang dalam dua tingkat, yakni Shifir Awal dan Shifir Tsani.

Tahun 1929, kembali dilakukan pembaharuan, yaitu dengan dimasukkannya pelajaran umum ke dalam struktur kurikulum pengajaran. Hal tersebut adalah suatu tindakan yang belum pernah ditempuh oleh pesantren lain pada waktu itu.

Sempat muncul reaksi dari para wali santri, bahkan para ulama dari pesantren lain. Hal demikian dapat dimaklumi mengingat pelajaran umum saat itu dianggap sebagai kemunkaran, budaya Belanda dan semacamnya.

Hingga terdapat wali santri yang sampai memindahkan putranya ke pondok lain. Namun, madrasah ini berjalan terus karena Pondok Pesantren Tebuireng beranggapan bahwa ilmu umum akan sangat diperlukan bagi para lulusan pesantren.

Habib Luthfi bin Yahya: Ulama Karismatik Wantimpres Jokowi

Periode Kepemimpinan

Dalam perjalanan sejarahnya, hingga kini Pesantren Tebuireng telah mengalami 7 kali periode kepemimpinan. Secara singkat, periodisasi kepemimpinan Tebuireng sebagai berikut:

  • KH. Muhammad Hasyim Asy’ari : 1899 – 1947
  • KH. Abdul Wahid Hasyim : 1947 – 1950
  • KH. Abdul Karim Hasyim : 1950 – 1951
  • KH. Achmad Baidhawi : 1951 – 1952
  • KH. Abdul Kholik Hasyim : 1953 – 1965
  • KH. Muhammad Yusuf Hasyim : 1965 – 2006
  • KH. Salahuddin Wahid : 2006 – sekarang

Saat ini, sebanyak 4.000 lebih santri yang menimba ilmu di ponpes Tebuireng Jombang. Dan sudah tak terhitung lagi berapa ribu jumlah alumni santri Ponpes Tebuireng yang kini telah membaur menjadi penggerak di masyarakat.

Hingga kini, ide perjuangan KH Hasyim Asyari itulah yang kini terus ditanamkan di dalam diri santri. Dengan menggunakan kitab karya-karya KH Hasyim Asyari sebagai pedoman.

“Impian kami, kami ingin kembali ke abad-abad lama dulu, ketika ilmu agama dan ilmu non agama itu tidak dipertentangkan, tapi saling memperkuat. Menurut saya, pesantren ini perlu mendirikan universitas dan pemerintah wajib untuk membantu pesantren untuk mendirikan perguruan tinggi. Karena sumbangsih pesantren sangat tinggi kepada negara ini,” terang Gus Sholah kala itu, dilansir Okezone, 26 Agustu 2016.

Ditulis oleh : Jafar Sodiq Assegaf

Menarik Juga

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.