Ketika Nilai Rapor Anak Jelek, Bagaimana Sikap Orang Tua?

Membebankan kesalahan kepada anak karena nilai rapor jelek ternyata memberi efek negatif kepada anak. Anak cenderung akan semakin tertekan sehingga dia kesulitan memperbaiki diri.

JEDA.ID–Pembagian rapor di akhir tahun pelajaran tidak hanya dinantikan sang anak. Orang tua biasanya ikut harap-harap cemas saat pembagian rapor. Sebagai acuan prestasi anak di sekolah, wajar bila orang tua ikut menantikan nilai-nilai yang tertuang di rapor.

Bila nilai anak di rapor sesuai harapan atau di atas rata-rata tentu hal itu bukan menjadi persoalan. Namun, kadang nilai anak tidak sesuai harapan atau di bawah rata-rata kelas. Orang tua tentu khawatir dan cemas dengan kondisi itu. Memarahi anak karena nilai rapornya jelek ternyata bukan menjadi solusi yang baik. Lalu apa yang harus dilakukan orang tua saat nilai anak jelek

Tunjukkan Empati

Membebankan kesalahan kepada anak karena nilainya jelek ternyata memberi efek negatif kepada anak. Anak cenderung akan semakin tertekan sehingga dia kesulitan memperbaiki diri. Orang tua harusnya berempati kepada anak. Dengan menunjukkan empati, beban yang dipikul sang buah hati karena nilai jelek akan berkurang.

Beri Apresiasi

Meski nilai sang anak tidak sesuai harapan, orang tua selayaknya tetap memberikan apresiasi kepada anak atas usaha dan kerja kerasnya selama satu semester. Apresiasi kepada anak menjadikan sang buah hati tidak berkecil hati. Anak bisa diajak untuk semakin tekun dalam belajar dan memberikan pemahaman nilai jelek bukan petaka karena masih bisa diperbaiki di semester berikutnya.

Pacu Semangat

nilai rapor anak 1

freepik.com

Sang anak harus dipacu semangatnya untuk giat belajar. Orang tua bisa memfasilitasi anak dengan mengikuti kursus/bimbingan belajar di luar. Namun, bimbingan belajar di luar jangan sampai menguras waktu anak untuk bermain atau bersosialisasi. Waktu untuk belajar dan bermain tetap harus dijaga. Bila anak hanya diminta belajar terus tanpa diberi waktu bermain, anak kian terbebani.

Menjadi Pendengar untuk Anak

Pola komunikasi orang tua dan anak selayaknya dua arah. Orang tua tidak hanya menyuruh atau memerintah anak untuk belajar. Orang tua juga harus bisa menjadi pendengar yang baik bagi sang buah hati. Berbagai keluh kesah anak terutama yang berkaitan dengan pendidikan harus menjadi perhatian orang tua. Dengarkan setiap keluh kesah anak dan memberikan solusi yang terbaik, tanpa harus menggurui. Tidak hanya mendengarkan keluh kesahnya, orang tua juga harus meluangkan waktu untuk mendampingi sang anak untuk belajar.

Fokus ke Pelajaran Sulit

Banyak mata pelajaran yang diterima anak dan bisa jadi tidak semua bisa diserap dengan sempurna. Ada kalanya anak akan menyukai mata pelajaran tertentu karena minatnya pada pelajaran itu. Ada kalanya anak tidak suka dengan mata pelajaran lain karena merasa sulit. Orang tua saat mendampingi anak belajar lebih baik fokus kepada pelajaran yang sulit.

Tak Perlu Membandingkan

Tidak ada anak yang suka dibandingkan dengan kakak atau adiknya. Kadang masih ada orang tua yang suka membandingkan prestasi atau kemampuan belajar anak yang satu dengan yang lainnya. Membandingkan anak malah menambah beban sang anak. Setiap anak memiliki kemampuan dan kelebihan masing-masing sehingga tidak layak untuk dibanding-bandingkan.

Ditulis oleh : Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.