Bahaya Obesitas Jadi Ancaman Kesehatan Dunia

Berdasarkan gambaran statistik OECD, angka obesitas diperkirakan akan terus naik hingga 2030.

JEDA ID–Obesitas adalah kondisi kronis akibat penumpukan lemak dalam tubuh yang sangat tinggi. Obesitas terjadi karena asupan kalori yang lebih banyak dibanding aktivitas membakar kalori, sehingga kalori yang berlebih menumpuk dalam bentuk lemak. Bahaya obesitas kini tengah mengintai penduduk dunia.

Masalah obesitas semakin meningkat di dunia dan menjadi tantangan besar dalam mencegah pertumbuhan penyakit kronis di dunia. Obesitas juga dipicu pertumbuhan industri dan ekonomi, serta perubahan gaya hidup, asupan nutrisi yang semakin banyak dari makanan olahan, atau diet dengan tinggi kalori.

Selama ini kelebihan berat badan atau gemuk dan obesitas sering dianggap sama. Padahal dua hal ini berbeda. Secara sederhana, obesitas bersifat lebih parah jika dibandingkan dengan gemuk. Mereka yang gemuk belum tentu obesitas, tetapi mereka yang obesitas sudah pasti gemuk.

Seseorang dinyatakan mengalami obesitas, jika indeks massa tubuh (IMT) lebih dari 25. Perhitungan tersebut didapat dengan membandingkan berat badan dengan tinggi badan. Nilai IMT ini digunakan untuk mengetahui berat badan seseorang normal, kurang atau berlebih, hingga obesitas.

Pada 2015, data OECD menyebutkan rata-rata 19,5% orang dewasa mengalami obesitas. Angka ini berjarak mulai di Jepang (3,7%) dan Korea (5,3%) hingga di Hungaria (30%), Selandia Baru (30,7%), Meksiko (32,4%), dan Amerika Serikat (38,2%).

Obesitas dan berat badan berlebih telah berkembang pesat di Inggris, Meksiko dan Amerika Serikat sejak 1990. Di Inggris, 48% penduduk obesitas dan kegemukan naik menjadi 58% pada 2017. Di Negeri Paman Sam, 53% penduduk obesitas dan kegemukan naik menjadi 67% pada 2017.

Obesitas Anak

Lalu bagaimana dengan obesitas pada anak? Berdasarkan data survei Health and Behaviourin School-aged Children, rentang jumlah anak berumur 15 tahun yang mengalami kegemukan berjarak antara 10% di Denmark hingga 31% di Amerika Serikat.

Dari data negara yang masuk kedalam survei tersebut, 26 dari 32 negara mengalami kenaikan jumlah anak penderita obesitas dari tahun 2001 ke 2013.

Denmark merupakan negara dengan anak penderita obesitas paling sedikit. Denmark juga merupakan salah satu negara dalam survei tersebut yang mengalami penurunan jumlah anak penderita obesitas. Pada 2001, sekitar 12% anak di Denmark mengalami obesitas. Jumlah tersebut turun menjadi 9,5% pada 2013.

Sedangkan Amerika Serikat merupakan negara dengan anak penderita obesitas tertinggi. Pada 2001 jumlahnya mencapai 27% dan naik menjadi 31% pada 2013.

Berdasarkan gambaran statistik OECD, bahaya obesitas diperkirakan akan terus naik hingga 2030. Perkiraan kenaikan tertinggi mencapai 47% di Amerika Serikat, 39% di Meksiko, dan 35% di Inggris.

Sebaliknya, perkiraan kenaikan terendah berada di Italia dengan 13% penduduk, dan Korea dengan 9% penduduk pada 2030. Kendati demikian, peningkatan obesitas di Korea diperkirakan naik lebih cepat pada 2030 meskipun rata-ratanya terlihat rendah pada tahun-tahun sebelumnya.

Bahaya obesitas seperti penumpukan lemak tubuh bisa meningkatkan risiko terjadinya gangguan kesehatan serius, seperti penyakit jantung, diabetes, atau hipertensi. Obesitas juga dapat menyebabkan gangguan kualitas hidup dan masalah psikologi, seperti kurang percaya diri hingga depresi.

Penyakit jantung koroner adalah kondisi penyempitan pembuluh darah arteri jantung yang disebut pembuluh darah koroner. Sama seperti halnya organ tubuh lain, jantung juga memerlukan zat makanan, serta oksigen supaya dapat memompa darah ke seluruh tubuh.

Pasokan zat makanan dan darah ini harus selalu lancar, sebab jantung bekerja keras tanpa henti, pembuluh darah koroner merupakan bagian utama yang memiliki tugas untuk memasok darah ke jantung.

Data World Health Organization (WHO) tahun 2012 menunjukkan 17,5 juta orang di dunia meninggal akibat penyakit kardiovaskuler atau 31% dari 56,5 juta kematian di seluruh dunia.

Dari seluruh kematian akibat penyakit kardiovaskuler 7,4 juta (42,3%) di antaranya disebabkan oleh p0enyakit jantung koroner (PJK) dan 6,7 juta (38,3%) disebabkan oleh stroke. Di Indonesia penyakit ini menjadi penyebab kematian nomor satu dan jumlah kasusnya terus meningkat dari tahun ke tahun.

Ditulis oleh : Akhdan Fahmi/Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.