Mengenang Pramono Edhie Wibowo, Jenderal Tegas Jadikan TNI-AD Kian Disegani

Mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI (Purn) Pramono Edhie Wibowo tutup usia. Pramono Edhie wafat karena sakit jantung.

JEDA.ID–Mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI (Purn) Pramono Edhie Wibowo tutup usia. Adik kandung Ani Yudhoyono ini mengembuskan napas terakhir, di Rumah Sakit Cimacan, Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat karena serangan jantung.

Dijadwalkan, jenazah akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan, Minggu (14/6/2020).

Pramono merupakan pria kelahiran Magelang, Jawa Tengah, 5 Mei 1955. Dia adalah putra dari Letjen (Purn) Sarwo Edhie Wibowo yang juga merupakan tokoh militer Indonesia.

Sarwo Edhie berperan besar dalam penumpasan pemberontakan Gerakan 30 September PKI, karena saat itu, posisinya sebagai Panglima Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) atau sekarang Kopassus.

Karier militer Pramono Edhie banyak dihabiskan di Kopassus sama seperti ayahnya Sarwo Edhie Wibowo. Dia mengawali karir sebagai Komandan Peleton Grup I Kopassandha (1980), tahun 1995 dia dipercaya menjadi Komandan Grup I/Kopassus .

Karirnya pun semakin gemilang setelah masa reformasi. Terpilihnya Megawati Soekarnoputri sebagai Presiden menggantikan Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, membuat dia ditunjuk sebagai ajudan Presiden Megawati Soekarnoputri pada 2001. Di tahun yang sama, Pramono melanjutkab Sekolah Staf dan Komando Tentara Nasional Indonesia (Sesko TNI).

Berbagai jabatan strategis pernah dia duduki. Diantaranya Wakil Danjen Kopassus pada 2005, Kepala Staf Kodam IV/Diponegoro pada tahun 2007, dan Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI AD pada tahun 2008 hingga tahun 2009. Dia juga pernah menjabat sebagai Pangdam III/Siliwangi dan Panglima Kostrad(Pangkostrad) pada tahun 2010.

Puncak karier lulusan Akabri 1980 ini pada saat Presiden SBY mendapuknya sebagai KSAD menggantikan Jenderal George Toisutta yang telah memasuki masa pensiun.

Sering Muncul Saat Pancaroba, Ini Cara Cegah Flu secara Alami

Segudang Prestasi

Jenderal bintang empat yang banyak menghabiskan kariernya di Kopassus ini mempunyai segudang prestasi. Salah satu yang menonjol adalah modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI AD. Okezone pun kembali merangkum kembali perjalanan putra Sarwo Edhie Wibowo tersebut dari beragam sumber.

Penunjukan Pramono Edhie Wibowo sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD), oleh Presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY) sempat menjadi pemberitaan hangat di media kala itu. Lantaran dia adalah adik kandung Ibu Negara Ani Yudoyono. Beragam komentar pun menghampiri mantan Danjen Kopassus tersebut.

Pramono Edhie pun menjawab tudingan nepotisme tersebut dengan santai namun tegas.

“Kalau saudara, memang saya adiknya Ibu Ani sejak lahir. Salahnya kan begitu, sebelum Pak SBY menikah dengan Ibu Ani. Setelah Pak SBY menikah dengan Ibu Ani, memang saya adik iparnya. Tapi kalau nepotisme, saya serahkan penilaian kepada atasan saya, Panglima TNI, KSAD Pak George Toisutta, jadi itu ada mekanismenya sendiri,” ucapnya di Istana Negara, Jalan Veteran, Jakarta Pusat, Kamis, 3 Juni 2011 silam seperti dilansir okezone.com.

Dia mengaku hal tersebut tidak menjadi beban. Karena sebagai seorang prajurit, dirinya dituntut untuk bekerja secara profesional. “Oh, jangan menjadikan itu beban. Jadi harus lebih baik lagi,” tandasnya.

Peristiwa Lapas Cebongan

Pada saat Pramono Edhie Wibowo menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) sebuah peristiwa menggemparkan terjadi, penyerangan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Cebongan, Sleman, DIY, pada Sabtu 23 Maret 2013.

Dalam peristiwa tersebut, empat orang tahanan tewas ditembak. Keempatnya adalah Yohanes Juan Manbait, Gamaliel Yermiyanto Rohi Riwu, Adrianus Candra Galaja, dan Hendrik Benyamin Sahetapy Engel. Mereka ditahan terkait kasus pengeroyokan terhadap Serka Heru Santoso di Hugo’s Cafe, Yogyakarta.

Pramono Edhie Wibowo kemudian secara tegas mengumumkan, 11 Prajurit Komando Pasukan Khusus (Kopassus) terlibat penyerangan Lembaga Pemasyarakatan (LP) kelas IIB Cebongan Sleman, Yogyakarta.

Pengadilan Militer II-11 Yogyakarta juga telah menjatuhkan vonis kepada terdakwa kasus penyerangan Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Cebongan.

Di antaranya, Serda Ucok Tigor Simbolon yang divonis 11 tahun penjara dan hukuman tambahan, yaitu dipecat serta membayar biaya persidangan. Rekan Ucok, Serda Sugeng Sumaryanto dikenai kurungan delapan tahun dan hukuman tambahan, yaitu dipecat dan dikenai biaya persidangan. Untuk Koptu Kodik dikenai enam tahun penjara, serta dipecat dan dikenai biaya persidangan.

Tak Selamanya Buruk, Ini Manfaat Psikologis Mendengarkan Lagu Galau

Memperkuat Alutsista

Mempunyai alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang mumpuni, merupakan kebanggaan bagi militer di sebuah negara. Dengan alutsista yang mutakhir, negara dapat menjaga kedaulatannya dari ancaman asing yang bisa datang kapan saja.

Indonesia juga memiliki beberapa alutsista yang mempunyai efek deteren yang cukup hebat, sehingga tidak bisa dipandang remeh oleh negara lain. Bahkan, Survei Global Fire Power, menyebut Indonesia berada di peringkat 15 negara terkuat di bidang militer, melampaui semua negara di Asia Tenggara.

Peran Pramono Edhie Wibowo saat menjadi KSAD juga sangat besar dalam membangun profesionalisme dan memodernisasi senjata di tubuh TNI AD.

Untuk modernisasi alutsista, kala itu, Jenderal Pramono Edhie mendapatkan alokasi dana Rp14 triliun. Anggaran tersebut dia gunakan untuk menambah alustista yang dirasa telah usang, seperti penambahan tank kelas berat, helikopter serbu dan lain sebagainya.

150 Tank Leopard Perkuat TNI

Setelah bergantung pada tank ringan seperti AMX atau Scorpion, kini TNI AD boleh berbangga karena memiliki 150 tank kelas berat terbaik di dunia, yaitu Tank Leopard 2 RI yang merupakan upgrade dari Leopard 2A4. Saat ini tank yang telah masuk ke Indonesia itu berada di unit Batalyon Kavaleri Kostrad.

Kala itu, Pramono Edhie Wibowo, menyebut, tank buatan Jerman tersebut sudah diupgrade dengan teknologi yang cukup canggih seperti mempunyai radar untuk menembak, body ballistic, dan persenjataan yang lengkap.

“Tank tersebut sudah diberikan pendingin ruangan atau AC,” kata Edhie, kepada wartawan, di Markas Besar Angkatan Darat [Mabes AD], Jalan Veteran, Jakarta Pusat, Kamis 4 Oktober 2012 silam.

Selain itu, kata dia, tank berjenis Main Battle Tank atau MBT ini, juga sudah dilangkapi dengan peluru meriamnya. “Kami juga sudah meminta peluru meriam, karena buat apa beli tank canggih tanpa peluru,”tandasnya.

TNI AD juga memiliki delapan Helikopter Apache AH-64E. Semua heli serbu tersebut berada di Skuadron 11/Serbu, Pangkalan Udara TNI AD Ahmad Yani Semarang, Jawa Tengah. Helikopter Apache tiba di Indonesia pada 16 Mei 2018. Helikopter ini diklaim menjadi helikopter paling canggih yang dimiliki TNI AD.

Semua pengadaan tersebut menjadi bagian dari program modernisasi alat utama sistem persenjataan TNI sesuai Rencana Strategis Pertahanan Negara dan program Minimum Essential Force (MEF).

Kini adik kandung Ani Yudhoyono telah tiada. Namun jasa dan pengorbanannya bagi TNI dan bangsa akan dikenang sepanjang masa.

Ditulis oleh : Anik Sulistyawati

Menarik Juga

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.