Menghidupi Sastra Jawa Tanpa Hidup dari Sastra Jawa

Satra Jawa modern tetap bergerak, sastrawan Jawa beregenerasi, penerbitan buku-buku sastra Jawa tak pernah berhenti.

Kalimat pendek yang ditulis penyair Sosiawan Leak di grup Facebook Warung Buku Sastra Jawa yang diunggah pada 26 Juni 2019 dini hari itu menarik perhatian saya. Dia menulis,”Terima kasih telah diundang di grup ini, Mbak. Terus bergerak sastra Jawa!”

”Mbak” yang dimaksud dalam kalimat itu adalah ”admin” atau administrator grup Facebook tersebut. Administrator grup Facebook Warung Buku Sastra Jawa adalah Rini Tri Puspohardini, seorang perempuan yang bekerja sebagai guru di sebuah SMPN di Kota Salatiga, Jawa Tengah.

Di bagian lain naskah ini saya bercerita keterkaitan dua orang ini, Sosiawan Leak dan Rini Tri Puspohardini, dengan judul naskah ini. Grup Facebook Warung Buku Sastra Jawa oleh Rini dikelola dengan “keras”.

Dia hanya mengizinkan unggahan tentang jual beli buku sastra Jawa. Unggahan tentang selain itu akan dia hapus. Grup ini memang menjadi “tidak menarik”, kecuali bagi kalangan pencinta sastra Jawa. Grup ini dalam pemaknaan saya hanya ada dalam urusan menjadi jembatan atau penghubung antara penjual buku-buku sastra Jawa dengan para pembeli.

Dalam relasi demikian ini tentu saja di dalamnya termasuk para penulis karya sastra Jawa. Grup Facebook ini menjadi simpul penghubung antara penulis karya sastra jawa dan penikmat sastra Jawa.

Dalam konteks itulah saya biasanya mengakses grup ini. Saat saya ingin tahu adakah buku baru sastra Jawa yang terbit, di grup Facebook inilah saya mencari jawabannya. Cara lainnya ya dengan berkirim pesan via Whatsapp kepada Rini.

Sayangnya, grup ini jarang dimutakhirkan. Artinya bisa jadi memang jarang ada terbitan baru buku sastra Jawa atau bisa jadi karena grup ini belum tersosialisasi dengan baik sehingga belum banyak penjual buku—sastra Jawa—yang memanfaatkannya untuk berpromosi dan menyapa para pencinta sastra Jawa.

Saya membatasi makna “karya sastra Jawa” dalam esai saya ini adalah karya sastra Jawa modern yang entitasnya berupa cerita pendek atau crita cekak, novel, dan puisi berbahasa Jawa atau geguritan.

Sastra Jawa Modern Masih Hidup

Beberapa tahun lalu saya melakukan reportase mendalam ihwal eksistensi sastra Jawa modern era kini. Liputan saya itu didanai Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia dalam program khusus reportase mendalam tentang dampak globalisasi.

Anda bisa membaca hasil reportase saya ini dengan memanfaatkan mesin pencari Google. Ketiklah kalimat “Eskapisme Sastra Jawa Melawan Globalisasi” dan nama saya “Ichwan Prasetyo”. Naskah itu akan Anda temukan.

Area reportase saya mencakup simpul-simpul aktivitas sastra Jawa seperti Kota Solo, Kota Kabupaten Bojonegoro, Kota Semarang, Kota Jogja, dan beberapa daerah lain. Saya mewawancarai banyak pemangku kepentingan sastra Jawa. Salah satu kesimpulan reportase saya itu adalah sastra Jawa modern masih hidup.

Regenerasi sastrawan Jawa modern berlangsung tanpa henti. Sanggar-sanggar atau komunitas-komunitas sastra Jawa hidup, beraktivitas, dan beregenerasi. Reportase saya ini, untuk kali yang kesekian, mematahkan tesis satrawan Arswendo Atmowiloto yang pada 1980-an mengatakan sastra Jawa modern telah mati.

Kemunculan grup Facebok Warung Buku Sastra Jawa adalah bukti kali kesekian tentang eksistensi sastra Jawa yang terus berlanjut. Sastrawan Jawa modern terus beregenerasi. Mereka terus berkarya. Buku-buku karya sastra Jawa terus-menerus terbit, diperjualbelikan, dan ini terus memancing penerbitan buku-buku sastra Jawa berikutnya.

Novel Katresnan kang Angker karya Peni.

Kali termutakhir saya hadir di forum para sastrawan Jawa adalah di acara yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta di Hotel De Laxton, Kota Jogja, pada akhir 2018 lalu. Forum itu dihadiri para sastrawan Jawa se-Daerah Istimewa Yogyakarta dan undangan dari Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Di forum inilah saya melihat kesinambungan sastra Jawa dengan personifikasi para sastrawan Jawa generasi tua dan generasi muda. Para sastrawan Jawa generasi senior, seperti J.F.X. Hoery dari Bojonegoro, Jawa Timur; Triman Laksana dari Magelang, Jawa Tengah;  Gunarso T.S. dari Jakarta; Maria Kadarsih dari Kota Jogja; dan beberapa sastrawan Jawa senior lainnya bertemu dengan para sastrawan Jawa generasi muda seperti yang bernama pena Tulus yang sangat produktif menulis novel. Dalam enam bulan dia menulis lebih dari 10 novel. Semua berbahasa Jawa.

Kalimat yang ditulis Sosiawan Leak di grup Facebook Warung Buku Sastra Jawa itu menemukan relevansi dengan realitas yang saya temukan dalam reportase dan pengalaman saya berinteraksi dengan banyak sastrawan Jawa, yang muda maupun yang senior.

Bergerak dengan Regenerasi Penggerak

“Terus bergerak sastra Jawa!”  begitu tulisan Sosiawan. Sastra Jawa modern memang terus bergerak. Warung Buku Sastra Jawa di Facebook kini jadi salah satu penggeraknya.

Para pencinta sastra Jawa juga terus bergerak. Mereka adalah sastrawan Jawa, generasi muda yang mempelajari sastra Jawa, siapa pun yang peduli dengan kelestarian bahasa dan sastra Jawa, dan para pembaca karya-karya sastra Jawa.

Mereka ada di mana-mana. Sebagian berhimpuan dan berkegiatan dalam komunitas, seperti Sanggar Sastra Jawa Yogyakarta; Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro, Jawa Timur; Sanggar Triwidha di Tulungagung, Jawa Timur; Organisasi Pengarang Sastra Jawa yang merupakan organisasi payung walau eksistensinya tak begitu terasa; dan berbagai komunitas-komunitas kecil lainnya di Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan DKI Jakarta yang setia dan penuh kesukarelawanan melestarikan sastra Jawa.

Kesukarelawanan inilah yang menjadi tulang punggung kesinambungan sastra Jawa modern era kini. Bersama Sosiawan Leak itu pula saya merasakan dan terlibat langsung dalam greget kesukarelawanan demi sastra Jawa modern. Beberapa tahun lalu saya menerima ajakan Sosiawan menggelar diskusi yang khusus membahas “skandal” yang merugikan finansial seorang sastrawan Jawa senior, panutan, yang saat acara itu digelar telah meninggal dunia.

Diskusi itu, yang digelar dengan semangat kesukarelawanan, dihadiri—dengan semangat kesukarelawanan pula—oleh kalangan sastrawan Jawa dan pencinta sastra Jawa. Mereka hadir dari beberapa daerah di Jawa Tengah, Jawa Timur, Daerah istimewa Yogyakarta, dan DKI Jakarta. Mereka datang dengan biaya sendiri!

Diskusi itu digelar di Griya Solopos di Jl. Adisucipto No. 190, Kota Solo, Jawa Tengah. Diskusi itu tidak membahas karya sastra Jawa, tidak menelaah karya sastra Jawa, dan tidak memproduksi karya sastra Jawa, tetapi menggalang simpati dan empati untuk seorang sastrawan senior di jagat sastra Jawa yang saat itu kami—berempat—yakini menjadi korban “skandal” yang merugikan sang sastrawan itu secara finansial. Sayangnya, itu tak menggerakkan komunitas sastra Jawa untuk bergerak mengoreksi. Mungkin karena aktivitas bersastra Jawa memang bernyawakan kesukarelawanan sehingga “tertipu” pun diterima dengna ikhlas.

Dari persinggungan di acara menggelar diskusi tentang “skandal sastra Jawa” itulah saya menangkap ada gairah sangat besar pada Sosiawan Leak untuk turut “menghidupi” sastra Jawa, padahal dia lebih dikenal sebagai seorang penyair (penulis dan pembaca puisi berbahasa Indonesia), bukan dikenal sebagai seorang “panggurit” (penulis dan pembaca puisis berbahasa Jawa).

Belakangan saya tahu Sosiawan Leak terlibat dalam beberapa aktivitas penerbitan karya sastra Jawa bersama Rini Tri Puspohardini (pengelola grup Facebook Warung Buku Sastra Jawa). Saya memiliki buku antologi geguritan (puisi berbahasa Jawa) karya Rini Tri Puspohardini yang diterbitkan dalam dua bahasa, bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Versi bahasa Indonesia digarap oleh Sosiawan Leak. Geguritan-geguritan karya Rini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Sosiawan.

Aspek kesukarelawanan saya temukan di aktivitas Komunitas Pawon Sastra Solo, komunitas pencinta sastra Indonesia yang berbasis di Solo, yang sering memberikan ruang bagi anggota komunitas itu—anggota yang sifatnya cair karena tak ada aturan tertulis ihwal keanggotaan—untuk mengembangkan daya cipa dan berkarya di ranah sastra Jawa.

Generasi Muda Sastra Jawa

Salah satu dokumen ativitas Pawon Sastra Solo di ranah sastra Jawa adalah buku Timur Gumregah, Para Mudha Remen Cerkak lan Geguritan yang diterbitkan komunitas itu pada 2014. Buku itu diterbitkan sebagai bagian dari acara Fesival Sastra Solo 2014. Di acara ini sastra Jawa mendapat ruang, walau minoritas, dan ruang itu dihidupi oleh generasi muda!

Sesuai judul buku itu yang menggunakan frasa ”para mudha”, karya sastra Jawa berupa crita cekak dan geguritan yang dihimpun dalam buku itu memang karya kaum muda. Buku itu digarap oleh editor Impian Nopitasari dan menghimpun 38 geguritan dan tujuh crita cekak. Semua karya kaum muda! Sebanyak 38 geguritan itu karya 17 orang penulis dan tujuh crita cekak karya tujuh orang penulis.

Di bagian kata pengantar buku itu sangat jelas terbaca “deklarasi” mereka untuk memberdayakan dan mengenalkan sastra Jawa di kalangan generasi muda. Mereka merasa tidak yakin bisa berpartisipasi menghidupi sastra Jawa karena mereka—Komunitas Pawon Sastra Solo—bukan komunitas yang menghimpun dan jadi arena berkegiatan para sastarwan Jawa.

Komunitas ini adalah komunitas sastrawan dan pencinta sastra Indonesia. Di antara mereka ada yang tergerak turut menghidupi sastra Jawa, salah satunya Impian Nopitasari. Perempuan ini termasuk—dalam sebutan saya—generasi muda sastra Jawa modern.

Ia tak berbasis pendidikan sastra Jawa. Impian adalah lulusan pendidikan bahasa Inggris dan pascasarjana bukan sastra Jawa sebuah universitas swasta. Ia hanya bermodalkan cinta sastra Jawa.

Perjumpaan saya dengan Impian di ranah sastra Jawa diwadahi oleh tugas saya sebagai “buruh pers” yang mengelola Rubrik Jagad Jawa di Harian Solopos. Impian termasuk salah seorang penulis crita cekak yang sering mengirimkan karya untuk Jagad Jawa.

Ciri khas crita cekak karya Impian adalah cerita cinta kekinian, romansa kaum muda era modern, yang diceritakan dengan bahasa Jawa yang tentu saja berbasis “rasa Jawa” yang sangat kuat.

Penulis crita cekak lainnya yang berelasi dengan saya dalam konteks yang sama dan saya menangkap daya kesukarelawanan sangat kuat dari kredonya di sastra Jawa adalah Yessita Dewi.

Sepengetahuan saya, Yessita juga tak berangkat dari “darah biru” sastra Jawa. Dia berlatar belakang penyiar radio dan penulis naskah sandiwara radio berbahasa Indonesia dan berbahasa Jawa.

Buku Timur Gumregah yang mendokumentasikan sastra Jawa di tengah dominasi sastra Indonesia.

Kecintaan kepada sastra Jawa membuat Yessita sering menulis crita cekak. Crita cekak karya Yessita dalam pemaknaan saya punya ciri khas “mbanyol” atau “ndhagel” yang “sembada”. Kisah-kisah yang dia tulis selalu pekat dengan warna “menghadapi aneka masalah, tragedi, kesedihan, maupun kegembiraan” dengan humor.

Saya yakin Impian dan Yessita tak mendapatkan keuntungan materi yang signifikan dari berkarya di jagat sastra Jawa. Dalam relasi dengan Jagad Jawa yang diterbitkan Harian Solopos adalah salah satu buktinya. Honor untuk karya sastra Jawa yang dimuat di Jagad Jawa, berupa crita cekak, geguritan, atau esai jelas tak bisa “untuk hidup”.

Hanya kepuasan batin dari ekspresi cinta kepada sastra Jawa yang mereka dapatkan dari semua itu. Tanpa meminta verifikasi kepada mereka, saya yakin hanya itulah yang mereka peroleh!

Rini Tri Puspohardini adalah generasi sastrawan Jawa yang layak saya masukkan kelompok senior. Dia telah puluhan tahun malang melintang di jagat sastra Jawa. Dalam beberapa kali perjumpaan, saya selalu menangkap semangat kesukarelawanan yang tak pernah surut dari dirinya untuk menghidupi sastra Jawa.

Aktivitasnya beberapa waktu belakangan mengelola grup Facebook Warung Buku Sastra Jawa adalah dalam kerangka—saya pastikan—menjaga semangat kesukarelawanan menghidupi sastra Jawa itu. Untuk urusan hidup, Rini jelas tercukupi dari profesinya sebagai guru di sebuah sekolah menengah pertama negeri di Kota Salatiga. Dia juga punya bisnis jual beli pakaian.

Aktivitas di jagat sastra Jawa yang dia lakukan pasti juga dalam kerangka menghidupi sastra Jawa tersebab kecintaan kepada sastra Jawa. Dia pasti tak mendapatkan penghidupan dari sastra Jawa. Jual beli buku sastra Jawa yang dia kelola bisa jadi mendatangkan keuntungan, tapi keuntungan itu tak signifikan untuk “hidup” dari sastra Jawa.

Persinggungan Sastra Jawa dan Sastra Indonesia

Pertautan antara Rini Tri Puspohardini dengan Sosiawan Leak, pertautan sastrawan Jawa dan sastrawan Indonesia, saya maknai juga sebagai ikhtiar berdasar kesukarelawanan untuk terus mendorong sastra Jawa agar bergerak. Aktivitas Impian dan Yessita menulis karya Jawa juga gambaran pertautan entitas sastra Jawa dengan sastra Indonesia.

Ikhtiar Rini mengelola grup Facebook Warung Buku Sastra Jawa kian serius ketika dia memutuskan Warung Buku Sastra Jawa menerbitkan buku-buku sastra Jawa, bukan sekadar jadi “marketplace” jual beli buku-buku sastra Jawa.

Perjalanan kian serius menghidupi sastra Jawa dengan menerbitkan buku sastra Jawa ini saya temukan dalam penjelasan singkat di novel berjudul Mulih Ndesa karya Suryadi W.S. (Oktober 2018).

Di bagian kata pengantar novel ini ada penjelasan novel ini diterbitkan atas kerja sama antara Warung Buku Sastra Jawa dengan penerbit Buana Grafika yang berbasis di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Selain melayani jual beli buku sastra Jawa, Warung Buku Sastra Jawa ingin menyelam lebih dalam di jagat sastra Jawa dengan membantu menerbitkan buku-buku sastra Jawa.

Novel Piwelinge Puranti karya Tiwiek S.A.

Seorang sasatrawan Jawa senior, yang kadang-kadang berkarya juga di jagat sastra Indonesia, Khoirul Sholeh, yang punya nama pena Irul S. Budiyanto, dalam beberapa kali perjumpaan dengan saya mengatakan sastra Jawa modern tak akan pernah mati karena ikthiar menghidupi sastra Jawa modern tak pernah berhenti. Semangat menghidupi sastra Jawa modern tak pernah surut.

Anda pasti kesulitan menemukan buku-buku karya sastra Jawa di toko-toko buku besar. Sesungguhnya buku-buku sastra Jawa terus-menerus diterbitkan. Buku-buku itu terbit dan beredar di komunitas-komunitas pencinta sastra Jawa.

Eksistensi Warung Buku Sastra Jawa adalah bagian dari ikhtiar memunculkan sifat “indie” sastra Jawa itu agar lebih dikenal masyarakat. Bukankah platform Internet membuat semua entitas bisa unjuk gigi tanpa batas?

Dalam konteks kesukarelawanan menghidupi sastra Jawa itulah saya mengambil peran sepele menjadi pembeli buku-buku sastra Jawa. Sesungguhnya saya mendapatkan kenikmatan tiada tara saat membaca dan menikmati karya-karya sastra Jawa.

Kini saya memiliki kesadaran baru bahwa kesukaan saya membaca dan menikmati karya sastra Jawa harus saya berdayakan untuk turut menghidupi karya sastra Jawa.

Bukan dengan menulis karya sastra Jawa—walau sebenarnya saya sangat ingin punya karya sastra Jawa—tetapi dengan membeli buku-buku sastra Jawa. Pada kesempatan lain saya akan menulis tentang perkembangan sastra Jawa modern, akan saya unggah di sini juga.

Kalau tulisan ”ora mutu” ini dibaca dan diapresiasi banyak orang, sesegara mungkin saya akan menulis persepsi saya ihwal perkembangan sastra Jawa modern…

Ditulis oleh : Ichwan Prasetyo

Menarik Juga

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.