Categories: Real

Virus Nipah Dikhawatirkan Jadi Pandemi Baru di Asia

Share

JEDA.ID-Meski pandemi Covid-19 belum usai, virus Nipah  dikhawatirkan para ilmuwan jadi pandemi baru di Asia. Virus Nipah kali pertama ditemukan di Malaysia pada 1998.

Simak terus ulasannya di info sehat kali ini. Ahli virus asal Thailand di Red Cross Emerging Infectious Disease-Health Science Centre tengah mempelajari seberapa besar potensi virus Nipah jadi pandemi berikutnya di Asia.

Dari hasil analisa sampel spesies termasuk kelelawar, ditemukan hewan ini memicu ancaman pandemi baru seperti Covid-19, yaitu virus Nipah. Tingkat kematian virus Nipah pun dilaporkan cukup tinggi berkisar 40 hingga 75 persen.

Baca Juga: 9 Daftar Kuliner Teraneh di Dunia, Berani Coba?

“Ini sangat mengkhawatirkan karena belum ada obatnya dan tingkat kematian yang tinggi akibat virus ini,” katanya dikutip dari BBC dan detikcom, Rabu (27/1/2021).

Dalam daftar WHO soal tinjauan setiap patogen yang memicu kedaruratan kesehatan masyarakat, virus Nipah masuk ke dalam 10 besar daftar tersebut. Apa saja yang perlu diketahui soal virus Nipah?

Berikut fakta-faktanya:

1. Gejala virus Nipah

Penyakit ini pernah terjadi di Malaysia pada 1998, dan di India 2018 lalu. Dikutip dari laman resmi WHO, wabah ini juga sempat menyebar ke Singapura dan setidaknya 100 orang dinyatakan meninggal dunia.

Gejala pada umumnya muncul dalam 4 hari-14 hari usai terinfeksi. Ada gejala awal yang muncul termasuk demam dan sakit kepala, yang bisa berlangsung 3-14 hari.

Namun, di beberapa kasus gejala penyakit ini bisa memburuk hingga pasien mengalami koma dalam rentang waktu 24 jam-48 jam.

Baca Juga: Inilah Jenis Teh Terlangka Di Dunia

Berikut gejala yang dialami pasien dikutip dari laman resmi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (AS):

Gejala ringan:

– Demam
– Sakit kepala
– Batuk
– Sakit tenggorokan
– Muntah

Gejala parah:

– Sulit bernapas
– Kejang
– Koma
– Pembengkakan otak (ensefalitis)
– Kematian

2. Cara penularan

CDC menyebut seseorang bisa tertular  dari cairan seperti darah, uruin, dan air liur hewan yang terpapar virus Nipah. Selain itu, ada kemungkinan penularan virus Nipah terjadi antarmanusia seperti kasus yang dilaporkan antara keluarga dan perawat pasien yang terpapar.

“Kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi, seperti kelelawar atau babi, atau cairan tubuh mereka,” tulis CDC.

Penyakit ini  juga bisa ditularkan dari makanan yang terkontaminasi cairan hewan yang terinfeksi. Seperti buah-buahan atau kurma yang terkena air liur atau air seni kelelawar pembawa virus Nipah.

“Beberapa kasus infeksi NiV juga dilaporkan terjadi pada orang yang memanjat pohon tempat kelelawar sering bertengger,” ujar CDC.

3. Belum ada obatnya

Belum ada obat resmi yang spesifik untuk mengobati penyakit ini. Selama ini perawatan pada pasien hanya untuk meredakan gejala yang muncul.

Baca Juga: Lirik Jaringan 5G, Berapa Dana yang Harus Disiapkan MNC?

Meski begitu, menurut CDC, perawatan imunoterapi tengah dikembangkan dan dievaluasi untuk pengobatan pasien. Selain itu, remdesivir juga disebut memiliki kemungkinan efektif bekerja pada pasien, dilengkapi dengan pengobatan imunoterapi.

Obat ribavirin juga digunakan untuk mengobati sejumlah kecil pasien saat penyakit ini menyebar di Malaysia, tetapi seberapa manjur obat tersebut masih belum jelas.

4. Cara pencegahan

Tak jauh berbeda dengan cara mencegah tertular Covid-19, CDC menyarankan untuk sebisa mungkin rutin mencuci tangan dengan sabun dan air. Namun ada beberapa pencegahan spesifik yang perlu dilakukan seperti berikut.

Rajin mencuci tangan dengan air dan sabun (ilustrasi Freepik)

– Mencuci tangan teratur dengan sabun dan air
– Hindari kontak dengan kelelawar atau babi yang sakit
– Hindari area tempat kelelawar biasanya bertengger
– Hindari konsumsi kurma mentah
– Hindari konsumsi buah-buahan yang mungkin terkontaminasi oleh kelelawar
– Hindari kontak dengan darah atau cairan tubuh siapa pun yang diketahui terinfeksi NiV

5. Asal-usul nama virus Nipah

Asal-usul nama penyakit ini diambil dari kasus pertama di Malaysia 1998 silam. Penyakit ini ditularkan oleh kelelawardan ditemukan di Kampung Sungai Nipah, Malaysia.

Virus Nipah merupakan jenis virus RNA dan bagian dari keluarga Paramyxodivae, salah satu patogen penyakit zoonotik (bersumber dari hewan) yang berbahaya. Penyakit ini juga mudah menular ke hewan, terutama babi di peternakan. Kontak dengan babi yang tertular penyakit ini dari kelelawar juga bisa menyebabkan infeksi.

Published by

Recent Posts

Daftar Lokasi Pembantaian yang Libatkan PKI di Solo, Adakah yang Tahu?

JEDA.ID — Berikut ini terdapat daftar lokasi pembantaian yang melibatkan Partai Komunis Indonesia atau PKI…

30 September 2021

5 Wisata Dekat atau Sekitar Sirkuit Mandalika Lombok, Ada Pantai Eksotis Hlo!

JEDA.ID — Berikut ini terdapat deretan wisata di dekat atau sekitar Sirkuit Mandalika, Lombok Tengah,…

30 September 2021

Pengin Dapat Uang Rp1 Miliar Saat Pensiun? Ini Hlo Caranya!

JEDA.ID — Masa pensiun kerap menjadi momok bagi sebagian orang lantaran sudah tidak adanya penghasilan…

29 September 2021

Disoroti Pembalap Dunia, Ini Spesifikasi Sirkuit Mandalika di Lombok

JEDA.ID — Berikut ini terdapat spesifikasi lengkap dari Sirkuit Mandalika di Lombok yang sempat mencuri perhatian…

29 September 2021

Setia Temani Tukul Arwana, Ini Potret Kece Ega Prayudi Berseragam Polisi di Instagram

JEDA.ID — Berikut ini terdapat potret ganteng seorang polisi di Instagram bernama Ega Prayudi, yang merupakan…

28 September 2021

Pengin Cepat Mendapatkan Pekerjaan yang Diinginkan? Baca Doa dan Zikir Ini

JEDA.ID — Apa bunyi bacaan doa dan zikir agar cepat mendapatkan pekerjaan yang diinginkan menurut…

28 September 2021